Matteo Ricci

(Dialihkan dari Ricci)

Matteo Ricci (pengucapan bahasa Italia: [matˈtɛːo ˈrittʃi]; lahir 6 Oktober 1552 – meninggal 1 Mei 1610 pada umur 57 tahun; Hanzi Tradisional: 利瑪竇; pinyin: Lì Mǎdòu; bahasa Latin: Mattheus Riccius Maceratensis) adalah seorang pastur dari Ordo Yesuit Italia yang melakukan aktivitas misionarisnya di Tiongkok selama masa Dinasti Ming.[1] Matteo Ricci masih dikenal sebagai salah seorang misionaris terhebat di Tiongkok.[1] Ricci adalah pioner yang memperkenalkan budaya Barat ke Tiongkok.[2] Gereja yang dia bangun masih menjadi Gereja Katolik terbesar yang selamat dari Revolusi Kebudayaan.[1] Ia yang memperkenalkan metode penginjilan akomodasi.[1]

Matteo Ricci S.J.
利瑪竇
Lukisan Tionghoa 1610 tentang Ricci
AgamaKatolik Roma
OrdoYesuit
Pribadi
Lahir6 Oktober 1552
Macerata, Negara Gereja
Meninggal11 Mei 1610(1610-05-11) (umur 57)
Peking, Dinasti Ming
Tempat peristirahatanZhalan cemetery, Beijing
Jabatan Senior
GelarPemimpin Umum Misi ke Tiongkok
Lama menjabat1597–1610
PenggantiNicolò Longobardo
Alasan keluarMangkat
PangkatPemimpin Umum
Latar belakang keagamaan
KaryaKunyu Wanguo Quantu
Matteo Ricci

Macau - panoramio (81).jpg

Patung Ricci di Makau, diresmikan pada 7 Agustus 2010, hari peringatan kedatangannya di pulau itu.
Hanzi tradisional:
Hanzi sederhana:
Nama kehormatan: Xitai
Hanzi: 西
Matteo Ricci
Ricci1.jpg
Matteo Ricci dengan Xu Guangqi (kanan)
Pastor, Misionaris, Sarjana
LahirMacerata, Negara Gereja
WafatPeking, Dinasti Ming
Dihormati diGereja Katolik Roma
AtributJubah sarjana Konfusianisme Tiongkok dengan salib and kitab

Awal hidupSunting

Ricci lahir di Macareta, Negara Gereja pada tanggal 16 Oktober 1552.[1] Ia meninggal di Beijing, pada tanggal 11 Mei 1610.[1] Matteo Ricci adalah anak sulung dari keluarga Ser Giovanni Battista Ricci dengan Giovanna Angiolelli.[3] Atah Ricci adalah seorang ahli farmasi dan juga pernah menjadi camat.[3] Ayahnya berharap suatu saat Ricci akan menjadi ahli hukum atau pemerintahan.[3] Pada masa kecilnya, Ricci tinggal bersama neneknya yang bernama Laria.[3]

PendidikanSunting

Ricci belajar bahasa Latin di bawah bimbingan Nicolo Bencivegni, seorang imam Diosesan, hingga usia 7 tahun.[3] Ketika berusia 16 tahun, setelah lulus sekolah menengah, Ricci diutus ayahnya untuk menempuh pendidikan hukum di Roma.[1][2][3] Selama Ricci belajar ilmu hukum di Roma, Ricci bergabung dalam Konggregasi Maria.[1] Namun, ia tidak menjadi ahli hukum seperti yang diharapkan oleh ayahnya.[2][3] Ricci memilih untuk masuk ke Serikat Yesus pada tanggal 15 Agustus 1571.[3] Ricci mengikuti pelatihan bagi para calon biarawan di Sant' Andrea.[1][2] Pada tahun 1852, Ricci mempelajari peradaban skolastik di Universitas Roma (Roman College).[1] Tidak hanya itu, di sana, Ricci juga belajar matematika, ilmu pengetahuan alam, humaniora, dan etika[1] Guru matematika Ricci adalah Christopher Clavius.[2]

Ricci yang memperkenalkan kepada penganut Stoa tentang filosofi moral.[1] Bagi Ricci dan rekan-rekan dari ordo Yesuitnya, sistem pembelajaran yang humanistik adalah fondasi bagi iman Kristen dan penyingkapan wahyu illahi.[1]

Sejak Mei 1577, Ricci belajar bahasa Portugis di Universitas Coimbra selama sembilan bulan.[1] Ricci harus mempelajari pemikiran Aristoteles dan Thomas Aquinas selama belajar di sana.[1] Hal-hal yang dipelajari oleh Ricci selama ia menuntut ilmu ini, Ia perkenalkan kepada orang-orang Tiongkok saat ia menjalankan misi di Tiongkok.[1] Pada tanggal 24 Maret 1578, Ricci meninggalkan Lisbon dan tinggal di Goa selama empat tahun.[1] Di Goa, Ricci melanjutkan studi teologinya dan memulihkan kesehatannya yang terganggu.[1] Ia juga ditahbiskan menjadi uskup di Goa pada tanggal 26 Juli 1580.[1]

Misi di TiongkokSunting

Pada tahun 1580 Ricci tiba di Makau dan segera belajar bahasa dan tulisan Tionghoa.[1] Dalam waktu 3 bulan, Ricci sudah berhasil menguasai bahasa Tionghoa.[3] Pada tahun 1583, Ricci dan Michele Ruggeri memperoleh izin dari penguasa Cina untuk masuk ke Provinsi Guangdong dan Guangxi.[1] Ricci pun diberi izin tinggal di Kota Zhaoqing yang terletak hanya beberapa mil dari Guangdong.[1] Ricci dan Michele Ruggeri berpakaian abu-abu, sama seperti para biarawan Budhis.[1][4] Ricci mengubah namanya menjadi Li Ma Dou.[4] Tindakkan Ricci yang mau beradaptasi terhadap budaya setempat, membuat orang-orang Tiongkok bersimpati pada Ricci.[1] Ricci menemui Kaisar Wan Li.[4] Ia mengatakan kepada Kaisar Wan Li bahwa ia datang ke Tiongkok untuk mempelajari kekayaan dari peradaban Cina sambil membawa upeti.[4]

 
Peta Timur Jauh yang dibuat oleh Matteo Ricci tahun 1602

Selama berada di sana, Ricci dan Ruggieri membuat Katekismus.[4] Selama membuat katekismus, Ricci juga mengalami kesulitan dalam mencari padanan kata dalam bahasa Tionghoa untuk terminologi Kristen, agar tidak disalah artikan. Misalnya, Ricci menerjemahkan Allah ke dalam bahasa Tionghoa dengan sebutan T’ien Chu.[4] Ia juga mengalami kesulitan sejauh mana adat istiadat Tiongkok kuno bisa didamaikan dengan prinsip-prinsip Kristen.[4] Hingga akhir hayat Ricci, sudah ada 2.500 orang Tiongkok dari berbagai golongan yang dibaptis.[3] Peta yang dibuat Ricci pun berhasil menyadarkan orang Tiongkok bahwa dunia ini bukanlah datar dan mereka bukanlah satu-satunya peradaban yang paling kuat di dunia ini. [5]

Pendekatan Ricci terhadap budaya TionghoaSunting

 
Lukisan Ricci memakai jubah Tionghoa pada awal abad ke-17

Mateo Ricci fasih menutur berbahasa Tionghoa sebaik membaca dan menulis Bahasa Tionghoa Klasik, bahasa literatur para cendekiawan dan pejabat. Dia dikenal sebagai pengagum budaya Tionghoa secara umum namun mengutuk praktik prostitusi yang populer di Peking pada saat itu.[6] Selama penelitiannya, dia menyadari bahwa kontras dengan Asia Selatan, budaya Tionghoa sangat terikat dengan nilai-nilai Konfusianisme dan oleh karena itu memutuskan untuk menggunakan konsep Tionghoa yang ada untuk menjelaskan agama Kristen.[7] Dengan persetujuan formal atasannya Valignano, ia menyejajarkan dirinya dengan sastrawan intelektual elit Konfusianisme,[8] dan bahkan mengadopsi mode pakaian mereka. Dia tidak menjelaskan bahwa iman Katolik sama sekali asing atau baru; sebaliknya, ia mengatakan bahwa budaya dan orang-orang Tionghoa selalu percaya pada Tuhan dan bahwa kekristenan hanyalah pelengkap dari iman mereka.[9]:323 Dia malah meminjam istilah Tionghoa yang tidak lazim, Tiānzhǔ (天主, "Tuhan Surgawi") untuk menjelaskan Tuhan pada agama Abrahamik, meskipun istilah ini berasal dari pemujaan tradisional Surga di Tiongkok (Dia juga mengutip banyak sinonim dari kanon Konfusianisme). Dia mendukung tradisi Tionghoa dengan menyetujui pemujaan leluhur keluarga. Misionaris ordo Dominikan dan Fransiskan menganggap ini merupakan tradisi yang tidak dapat diterima, dan kemudian mengajukan banding ke Takhta Suci tentang masalah ini.[9]:324 Pertikaian ritus terus berlanjut selama berabad-abad kemudian, dengan pernyataan Vatikan terbaru pada tahun 1939. Beberapa penulis kontemporer memuji Ricci sebagai contoh inkulturasi yang bermanfaat,[10][11] tetapi pada saat yang sama menghindari pemutarbalikkan pesan Injil atau mengabaikan media budaya asli.[12]

Seperti perkembangan di India, identifikasi budaya Eropa dengan Kekristenan menyebabkan hampir berakhirnya misi Katolik di Tiongkok, tetapi Kekristenan terus tumbuh di Sichuan dan beberapa lokasi lainnya..[9]:324

Xu Guangqi dan Ricci merupakan dua orang pertama yang menerjemahkan beberapa klasik Konfusianisme ke dalam bahasa-bahasa dunia barat yaitu bahasa Latin.

Ricci juga bertemu dengan utusan Korea ke Tiongkok, Yi Sugwang. Dia mengajar prinsip dasar Katolik kepada Yi dan memberinya beberapa buku tentang Barat yang dimasukkan ke dalam Jibong Yuseol, ensiklopedia Korea pertama.[13] Bersamaan dengan pemberian João Rodrigues kepada duta besar Jeong Duwon pada tahun 1631, pemberian Ricci memengaruhi penciptaan gerakan Silhak Korea.[14]

Pranala luarSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x (Inggris) Scott W. Sunquist (ed.). A Dictionary of Asian Christianity. Michigan: William B. Eerdman Publishing Co. 2001. Hal 502.
  2. ^ a b c d e (Inggris) Berard L. Marthaler. New Catholic Encyclopedia, Second Edition vol XII. Washington: Catholic University. 2003. Hal. 223-225. ISBN 0-7876-4004-2.
  3. ^ a b c d e f g h i j Wahana Wegig, Pewartaan Iman Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius, 2001. Hal 37-38. ISBN 979-672-729-3.
  4. ^ a b c d e f g (Inggris) Neil,Stephen. A History of Christian Missions. Australia: Penguin Books. 1964. Hal 162-163.
  5. ^ (Inggris) Samuel Moffet, A History of Christianity in Asia vol 2. New York: Harper Collins Publisher. 1992. Hal, 111-115.
  6. ^ Hinsch, Bret (1990). Passions of the Cut Sleeve : The Male Homosexual Tradition in China. University of California Press. hlm. 2. ISBN 0-520-06720-7. 
  7. ^ Zvi Ben-Dor Benite, "Western Gods Meet in the East": Shapes and Contexts of the Muslim-Jesuit Dialogue in Early Modern China, Journal of the Economic and Social History of the Orient, Vol. 55, No. 2/3, Cultural Dialogue in South Asia and Beyond: Narratives, Images and Community (sixteenth-nineteenth centuries) (2012), pp. 517-546.
  8. ^ Bashir, Hassan Europe and the Eastern Other Lexington Books 2013 p.93 ISBN 9780739138038
  9. ^ a b c Franzen, August (1988). Kleine Kirchengeschichte . Freiburg: Herder. ISBN 3-451-08577-1. 
  10. ^ Griffiths, Bede (1965), "The meeting of East and West", dalam Derrick, Christopher, Light of Revelation and Non-Christians, New York, NY: Alba House 
  11. ^ Dunn, George H. (1965), "The contribution of China's culture towards the future of Christianity", dalam Derrick, Christopher, Light of Revelation and Non-Christians, New York, NY: Alba House 
  12. ^ Zhiqiu Xu (2016). Natural Theology Reconfigured: Confucian Axiology and American Pragmatism. New York: Routledge. ISBN 9781317089681 – via Google Books. 
  13. ^ National Assembly, Republic of Korea: Korea History
  14. ^ Bowman, John S. (2000). Columbia Chronologies of Asian history and Culture . Columbia University Press. hlm. 212. ISBN 0-231-11004-9.