Rojhilat

negara dengan pengakuan kedaulatan terbatas
(Dialihkan dari Republik Mahabad)

Rojhilat, secara resmi disebut sebagai Republik Federasi Islam Rojhilat (bahasa Arab: جمهورية روجيلات الإسلامية الاتحادية) atau lebih dikenal dengan Republik Kurdistan Timur atau Kurdistan Iran adalah sebuah negara pengakuan terbatas yang terletak di bagian barat laut Iran. Dulunya wilayah ini dikenal dengan nama Republik Mahabad[1] dan wilayah ini juga pada umumnya diyakini orang Kurdi sebagai salah satu dari empat bagian Kurdistan Raya, bersama dengan bagian timur dan tenggara Türkiye (Bakur), bagian utara Suriah (Rojava) dan bagian utara Irak (Basur).[2]

CC-devnations.svg
Republik Federasi Islam Rojhilat

جمهورية روجيلات الإسلامية الاتحادية
Bendera
Flag of Iran.svg
Bendera
{{{coat_alt}}}
Lambang
SemboyanJi Rojhilat heta Rojava heta Başûr heta Bakur em kurdên etnîkî ne
(Indonesia: "Dari Timur ke Barat ke Selatan ke Utara, kita adalah etnis Kurdi")
Wilayah Kurdistan Raya
Wilayah Kurdistan Raya
Ibu kotaMahabad
Bahasa resmiKurdi, Kurmanji, Sorani, Zazaki dan Gorani
Kelompok etnik
Kurdi
Agama
Islam; Syiah dan sebagian Sunni[1]
PemerintahanDemokrasi Parlementer
• Presiden
Idris Barzani
Masrour Barzani
Kemerdekaan
22 Januari 1946
11 Juni 1946
15 Desember 1946
• Pemimpin dieksekusi
30 Maret 1947
27 September 1986
Penduduk
 - Perkiraan
8,5 juta (-)
Mata uangRial Iran
Zona waktuWaktu Standar Iran
(UTC+3.30)
Kode telepon+98

Latar belakangSunting

Dalam sejarah, Rojhilat melahirkan banyak negara Kurdi (kerajaan, keamiran, bahkan imperium) seperti Republik Mahabad, namun itu tak berlangsung lama. Dua peristiwa penting dalam sejarah membentuk bagian timur Kurdistan yaitu Pertempuran Dimdim (1609-1610) dan Perjanjian Zuhab.[3]

Kastel Dimdim adalah benteng Kurdi di puncak Gunung Dimdim yang terletak di selatan kota Urmia dan barat Danau Urmia. Kastel ini memiliki sejarah yang panjang, tetapi pada tahun 1609 penguasa Kurdi Amir yaitu Khan Lepzerin dari Bradost membangunnya kembali untuk melindungi rakyatnya dari pelanggaran besar-besaran yang tak henti-hentinya dilakukan oleh Dinasti Safawiyah.

Pertempuran Dimdim terjadi antara Dinasti Safawiyah dan Kerajaan Bradost Kurdi. Meskipun orang Kurdi, yang kalah jumlah dan persenjataannya, melakukan perlawanan heroik; Dimdim akhirnya jatuh ke tangan Safawi. Jatuhnya Dimdim menyebabkan genosida dan eksodus massal orang Kurdi yang tinggal di pantai barat Danau Urmia. Dinasti Safawiyah mendeportasi ribuan keluarga Kurdi ke Khorasan dan menggantikan mereka dengan suku Qarapaq dan Afshariyah. Akibatnya, wilayah Kurdi yang besar hilang dari Azerbaijan modern.

Perjanjian Zuhab adalah yang pertama dari dua perjanjian (yang lainnya adalah Perjanjian Lausanne, 1923) yang membagi tanah Kurdi menjadi beberapa bagian. Sementara Ottoman dan Safawiyah menyelesaikan sengketa teritorial mereka, Kurdistan kemudian kambat laun terpecah belah.

Perjanjian yang ditandatangani pada 17 Mei 1639 menegaskan kekuasaan Safawiyah atas wilayah Kurdi di Iran dan Kaukasus modern dan mengakui kekuasaan Ottoman atas Bakur dan Basur. Secara singkat, itu menarik perbatasan barat Republik Islam Iran saat ini.

SejarahSunting

Dinasti KurdiSunting

Dari abad ke-10 hingga abad ke-12, dua dinasti Kurdi memerintah wilayah ini, Hasanwayhids (9591015) dan Ayyariyah (990-1117) (di Kermanshah, Dinawar, Ilam, dan Khanaqin). Dinasti Ardalan, didirikan pada awal abad ke-14, menguasai wilayah Zardiawa, Khanaqin, dan Kirkuk. Ibu kota dinasti pertama kali berada di Sharazur tepatnya di Kurdistan Irak saat ini, tetapi kemudian dipindahkan ke Sanandaj (sekarang Iran). Dinasti Ardalan terus memerintah wilayah tersebut sampai raja Qajar Nasser-al-Din Shah (18481896) mengakhiri kekuasaan mereka pada tahun 1867.

Periode Seljuk dan KwarazmidSunting

Pada abad ke-12 M, Sultan Sanjar menciptakan sebuah provinsi yang disebut "Kurdistan" yang berpusat di Bahar, terletak di timur laut Hamadān. Provinsi ini termasuk Hamadān, Dinawar, Kermanshah, Sanandaj, dan Sharazur. Itu diperintah oleh Sulaiman, keponakan Sanjar. Pada tahun 1217, orang Kurdi dari Zagros mengalahkan pasukan Ala ad-Din Muhammad II, raja Kwarazmid, yang dikirim dari Hamadan.[4]

Periode SafawiSunting

Menurut Encyclopaedia of Islam, keluarga Safawi berasal dari Kurdistan Iran, dan kemudian pindah ke Azerbaijan. Mereka akhirnya menetap pada abad ke-11 M di Ardabil.[5] Selama pemerintahan Safawi, pemerintah mencoba memperluas kendalinya atas wilayah yang dihuni Kurdi di Iran barat. Saat itu, ada sejumlah emirat Kurdi semi-independen seperti Dinasti Mukriyan (Mahabad), Dinasti Ardalan (Sinne), dan Dinasti Shikak di sekitar Danau Urmia atau barat laut Iran.

Kurdi menolak kebijakan ini dan mencoba mempertahankan beberapa bentuk pemerintahan sendiri. Hal ini menyebabkan serangkaian konfrontasi berdarah antara Safawi dan Kurdi. Kurdi akhirnya dikalahkan dan sebagai hasilnya Safawi memutuskan untuk menghukum pemberontak Kurdi dengan relokasi paksa dan deportasi pada abad ke-15-16. Kebijakan ini dimulai pada masa pemerintahan Raja Safawi Tahmasp I (berkuasa 15141576).

ReferensiSunting

  1. ^ a b "History of Rojhilat". KurdishPeople.Org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-08-06. 
  2. ^ Kurdish Awakening: Nation Building in a Fragmented Homeland, (2014), by Ofra Bengio, University of Texas Press
  3. ^ Foundation, Encyclopaedia Iranica. "The History of the Dindim War". iranicaonline.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-08-06. 
  4. ^ Houtsma, Martijn Theodoor, ed. (1913–1936). "Kurds". Encyclopaedia of Islam (dalam bahasa Inggris). 4 (edisi ke-1st). Brill. hlm. 1140. ISBN 9004097902. OCLC 258059134. 
  5. ^ "-AFAWIDS [VIII:765b]". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2005-12-16. Diakses tanggal 2010-05-18. 

Pranala luarSunting