Raja Sapta Oktohari

Raja Sapta Oktohari (lahir 15 Oktober 1975) adalah seorang pengusaha muda Indonesia. Ia terpilih menjadi Ketua Umum HIPMI periode 2011-2014 menggantikan Erwin Aksa pada Musyawarah Nasional (Munas) XIV HIPMI yang dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 20 Oktober 2011.[1]

Raja Sapta Oktohari
Lahir15 Oktober 1975 (umur 47)
Jakarta, Indonesia
KebangsaanIndonesia
PekerjaanPengusaha
politisi
Dikenal atasKetua Umum HIPMI
Promotor tinju
Partai politikPAN (2015–sekarang)
AnakSultan Sapta Bandaro
Orang tuaOesman Sapta Odang dan Serviati Oesman

Pria berdarah Minang-Bugis ini adalah anak kedua di antara empat bersaudara dari konglomerat dan pemilik OSO Group, Oesman Sapta Odang. Di samping mengelola usahanya di beberapa daerah yang bergerak di bidang pertambangan, perkebunan, perikanan, transportasi, komunikasi dan perhotelan, ia juga ikut mengurus konglomerasi OSO Group milik keluarganya.[2] Namanya mencuat ketika ia menjadi promotor tinju kelas dunia, sehingga ia dinobatkan sebagai promotor tinju dunia termuda oleh World Boxing Association.[3]

Perjalanan Karier di Dunia Olahraga

Mahkota Promotion (M-Pro) Sebagai pengusaha muda, Oktohari mengwali kiprah di bidang olahraga sebagai promotor tinju. Ia mendirikan Mahkota Promotion (M-Pro) pada 2008 yang kini telah berkembang menjadi satu-satunya perusahaan promotor tinju terbesar hingga saat ini.

M-Pro telah mengorbitkan petinju-petinju profesional Indonesia merengkuh gelar juara dunia. Beberapa petinju yang sukses dibawa M-Pro ke panggung dunia adalah Chris John, Daud Jordan, serta Ongen Saknosiwi.

Atas kiprah gemilang tersebut, Oktohari dinobatkan sebagai Honorary Promotor of the Year 2018 Raja Sapta Oktohari Dapat Penghargaan dari WBC Asia oleh WBC Asia pada Annual Award Presentation 201 di Bangkok, Thailand, 22 Mei 2019, atas kesuksesannya membangun M-Pro.

Balap Sepeda: Berawal dari Komunitas, Membangun Prestasi Balap Sepeda Indonesia, hingga Mendapat Apresiasi dari Asia bahkan Dunia

Oktohari menyukai balap sepeda sejak muda. Saat duduk di bangku SMP, Oktohari sempat mengadakan kompetisi balap sepeda yang kemudian membuatnya langsung jatuh cinta untuk berperan aktif di cabang olahraga ini.

Oktohari memulai aktivitas organisasi balap sepeda dari komunitas. Ia menjadi salah satu sosok penggas bike to work yang mengajak pekerja kantoran untuk bersepeda ke tempat kerja dengan tujuan agar masyarakat bisa mendapatkan udara bersih.

- ISSI/International Cycling Federation

Pada 2011, Oktohari mendapat kepercayaan memimpin Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) DKI Jakarta. Empat tahun berselang, para pengurus provinsi ISSI di Indonesia meminta Okto maju menjadi Ketua Umum Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) PB ISSI 2015-2019 dan ia terpilih ia terpilih menduduki kursi satu PB ISSI Okto Terpilih Pimpin PB ISSI Periode 2015-2019.

Di bawah kepemimpinan Oktohari, pembinaan balap sepeda di Indonesia fokus terhadap enam hal, yakni peningkatan kualitas atlet, pelatih, commissaire, pengadaan tournamen standart internasional yang diakui UCI, venue, hingga organisasi. Ia juga berhasil memperjuangkan atlet-atlet balap sepeda Indonesia mendapatkan beasiswa untuk berlatih di UCI World Training Center, Swiss.

Konsep tersebut membuahkan buah positif karena untuk kali pertama dalam sejarah, balap sepeda memiliki perwakilan untuk turun di Olimpiade. Adalah Toni Syarifudin yang mendapatkan kesempatan emas tersebut pada Olimpiade 2016 Rio de Janeiro Toni Syarifudin Pembalap Pertama di Olimpiade. Selain itu, PB ISSI juga mengirim pembalap pertama untuk tampil di panggung Piala Dunia Disiplin Trek.

Oktohari mampu menghidupkan kembali Tour de Indonesia yang mati suri Tour de Indonesia yang saat itu mati suri selama tujuh tahun terakhir. Ia juga membawa turnamen level Asia dan dunia ke Tanah Air, seperti Banyuwangi BMX International, Kejuaraan Trek Asia, ACC Urban Championship, serta mengantarkan sukses Asian Games 2018 Jakarta-Palembang di cabang olahraga balap sepeda.

Rangkaian kiprah positif tersebut, Oktohari mendapat dukungan dari mayoritas pengurus provinsi untuk maju di periode kedua, 2019-2023. Ia terpilih secara aklamasi sebagai calon tunggal dalam Musyawarah Nasional (Munas) yang diadakan di Bandung, Jawa Barat.

Namun, Oktohari terpaksa harus mengakhiri masa jabatannya lebih cepat karena ia terpilih menjadi President NOC Indonesia Periode 2019-2023. Meski demikian, para pengurus PB ISSI/ICF meminta kelonggaran karena mereka membutuhkan waktu menggelar musyawarah nasional pada masa transisi Sulitnya Mencari Pengganti Okto. Posisi Oktohari digantikan oleh Kapolri Listyo Sigit terpiih aklamasi menjadi Ketua PB ISSI 2021-2025 pada 3 April 2021.

Asian Cycling Confederation

Meski demikian, kecintaan Oktohari di balap sepeda tetap berlanjut. Pada Maret 2021, Osama AlShaafar terpilih menjadi President Asian Cycling Confederation (ACC) yang juga menempatkan Oktohari sebagai senior vice president ACC. Dalam pemilihan tersebut, Okto juga terpilih menjadi Executive Committee ACC.

Keseriusan Okto dalam membangun balap sepeda serta olahraga Indonesia pada umumnya membuat dirinya menjadi sosok yang diperhitungkan di Asian Cycling Confederation (ACC) hingga Union Cycliste Internationale (UCI). Pada Maret 2022, Okto menerima penghargaan Konfederasi Balap Sepeda Asia (ACC) Special Order of Merit di Dushanbe, Tajikistan. Penghargaan ini merupakan apresiasi atas kerja tokoh yang berperan besar membantu peningkatan balap sepeda.

Okto, sapaan Raja Sapta, menerima trofi ACC Special Order of Merit yang diserahkan langsung Presiden Federasi Balap Sepeda Internasional (UCI) David Lappartient dan Presiden ACC Osama Ahmed Abdullah Al Shafar pada Kongres ACC di Dushanbe, Tajikistan, Minggu (27/03).

Chef de Mission Indonesia for Rio 2016 Olympic

Muda, berprestasi, dan bekerja sepenuh hati membuat Komite Olimpiade Indonesia yang saat itu diketuai Erick Thohir menunjuk Oktohari sebagai Chef de Mission Kontingen Indonesia untuk Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Okto dipilih setelah mengalahkan empat nama yang juga dinominasikan sebagai CdM saat itu.

Sebagai CdM Kontingen Indonesia, Okto melecut semangat atlet-atlet Indonesia untuk lolos kualifikasi Olimpiade Rio dengan memberikan bonus Rp 100 juta. Apresiasi ini sebagai bentuk penghargaan yang diberikan Okto kepada atlet yang tampil di Olimpiade, yang merupakan multi event tertinggi dan paling bergengsi sedunia.

Kontingen Indonesia yang dipimpin Oktohari berangkat ke Rio de Janeiro dengan beranggotakan 28 atlet yang tampil di tujuh cabang olahraga at the 2016 Summer Olympics|Indonesia at Rio Olympic.

Di Rio de Janeiro, Okto mengantarkan Indonesia membawa pulang satu medali emas dan dua medali perak. Emas yang dipersembahkan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir tersebut juga menjadi pengembali tradisi medali emas di cabang olahraga bulu tangkis. Dua keping perak lainnya diberikan atlet angkat besi Eko Yuli Irawan (62 kg putra) dan Sri Wahyuni (48 kg putri).

Kiprah positif yang diraih oleh atlet-atlet Indonesia ini juga membuat Okto turut memperjuangkan kenaikan bonus bagi peraih medali Olimpiade kepada pemerintah RI. Untuk kali pertama dalam sejarah, peraih medali emas mendapatkan apresiasi dari pemerintah sebesar Rp 5 miliar per orang. Sementara peraih medali perak mendapat Rp 2 miliar atau naik lima kali lipat dari bonus yang diberikan pemerintah di Olimpiade 2012 London.

Indonesia Asian Paralympic Games 2018 Organization Committee (INAPGOC) Chief

Rekam jejak positif yang ditorehkan Okto membuat dirinya diberi kepercayaan lebih besar untuk menjadi Ketua Indonesia Asian Paralympic Games 2018 Organization Committee (INAPGOC) pada 2017.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, Okto ditugaskan untuk menyiapkan multi event terakbar empat tahunan atlet disabilitas bergengsi se-Asia pada 6-13 Oktober 2018. Ajang ini diselenggarakan di Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Dengan pengalaman dan koneksi yang dimilikinya, Okto berhasil membuat Asian Para Games 2018 Jakarta berlangsung dengan sukses. Tak sekadar dari sisi penyelenggaraan, melainkan juga pertanggung jawaban dan prestasi yang telah diukirkan oleh atlet-atlet NPC Indonesia.

Ketua Komite Olimpiade Indonesia/National Olympic Committee of Indonesia (NOC Indonesia) President

Setelah sukses merampungkan tugas sebagai INAPGOC, nama Okto kian bersinar. Okto kemudian diusung oleh federasi nasional untuk maju dalam bursa pemilihan Ketua Komite Olimpiade Indonesia 2019-2023.

Pada 5 Oktober 2019, Okto resmi mendaftar sebagai calon Ketua Komite Olimpiade Indonesia dan menggandeng Warih Sardono sebagai wakilnya.

Okto terpilih secara aklamasi dalam Kongres Komite Olimpiade Indonesia di Jakarta pada 10 Oktober, 2019. Ia menggantikan Erick Thohir yang sebelumnya menjabat sebagai ketua pada 2015-2019.

Pada masa kepemimpinannya, Okto aktif menyebarkan semangat dan nilai-nilai dari Olimpiade, yakni excellence, friendship dan respect. Ia sangat membela kepentingan atlet dan Merah Putih, contohnya saat Tim Hoki Indonesia dilarang bertanding di SEA Games 2019 Filipina karena dualisme kepengurusan ataupun saat pebulu tangkis Indonesia yang mendapat perlakuan diskriminatif di All England 2021.

Hal tersebut dilakukan Okto sesuai dengan Olympic Charter, pada pasal 27 poin 2.5 yang menuliskan NOC harus melakukan aksi perlawanan terhadap diskriminasi dan kekerasan di olahraga.

Pada Olimpiade 2020 Tokyo, Okto juga menjadi sosok yang memberi input kepada pemerintah untuk memberi kenaikan bonus. Masukan tersebut direspon positif oleh Presiden RI Joko Widodo, di mana ada kenaikan sebesar Rp 500 juta kepada setiap peraih medali.

Saat ini, Okto tengah gencar melakukan diplomasi olahraga “Indonesia Olympic Champions Program” atau program yang mengatur pertukaran training camp atlet ke luar negeri sehingga diharapkan mampu meningkatkan prestasi olahraga Indonesia di multi event sekelas Olimpiade dan Kejuaraan Dunia.

Project yang digencarkan sejak pengujung 2021 dengan meminimalkan anggaran pemerintah diharapkan dapat menyukseskan Desain Besar Olahraga Nasional Rancangan (DBON) Rancangan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Kemampuan diplomasi dan jejaring yang dimiliki Okto membuat Menpora Zainudin Amali memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi ketua Gugus Tugas Percepatan Penyelesaian Sanksi Badan Anti-Doping Dunia (WADA) pada pertengahan Oktober. Tim tersebut sukses melakukan diplomasi sehingga sanksi yang diberikan WADA terhadap Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) berakhir pada 2 Februari 2022 waktu Montreal.

ReferensiSunting