Kabupaten Raja Ampat

kabupaten di Papua Barat
(Dialihkan dari Raja Ampat)

Kabupaten Raja Ampat adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Waisai. Kabupaten ini memiliki 610 pulau, termasuk kepulauan Raja Ampat. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo, merupakan pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama. Kabupaten ini memiliki total luas 67.379,60 km² dengan rincian luas daratan 7.559,60 km² dan luas lautan 59.820,00 km².[2]

Kabupaten Raja Ampat
Papua 1rightarrow blue.svg Papua Barat
Lambang Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.gif
Lambang
Julukan: 
Caribbean van Papua
Motto: 
Mbilin Kayam
92.05.00 PapuaBarat Raja Ampat.svg
Kabupaten Raja Ampat berlokasi di Maluku dan Papua
Kabupaten Raja Ampat
Kabupaten Raja Ampat
Kabupaten Raja Ampat berlokasi di Indonesia
Kabupaten Raja Ampat
Kabupaten Raja Ampat
Koordinat: 0°14′S 130°31′E / 0.23°S 130.52°E / -0.23; 130.52
Negara Indonesia
ProvinsiPapua Barat
Tanggal peresmian12 April 2003
Dasar hukumUU Nomor 26 Tahun 2002/LN Nomor 129 Tahun 2002
Ibu kotaWaisai
Pemerintahan
 • BupatiH. Abdul Faris Umlati, S.E.[1]
 • WakilManuel Piter Urbinas, S.Pi., M.Si.
Luas
 • Total7.559,60 km2 (291,880 sq mi)
Populasi
 • Total93.918 jiwa
Demografi
 • Suku bangsaLaganyan, Matbat, Wawiyai, Kawe dll
 • AgamaKristen 68,10%
- Protestan 67,34%
- Katolik 0,76%
Islam 31,83%
Hindu 0,06%
Buddha 0,01%[4]
 • BahasaIndonesia, Wawiyai
Zona waktuWIT (UTC+09:00)
Kode telepon0923
Kode Kemendagri92.05 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan24 distrik[3][2]
Jumlah kelurahan4[3][2]
Jumlah desa117[3]
DAURp.486.042.052.000.-(2013)[5]
Bandar udaraBandar Udara Domine Eduard Osok
Bandar Udara Marinda
Flora resmiAnggrek Dendrobium Azureum
Fauna resmiMaleo Waigeo
Situs webhttp://www.rajaampatkab.go.id/
Kepulauan Raja Ampat
Pyainemo Raja Ampat

PemerintahanSunting

Daftar BupatiSunting

Daftar Bupati Raja Ampat

Dewan PerwakilanSunting

KecamatanSunting

DemografiSunting

PendudukSunting

Penduduk kabupaten Raja Ampat pada tahun 2019 berjumlah 93.918 jiwa dengan rincian 50.292 jiwa laki-laki dan 43.626 perempuan. Penduduk terbanyak berada di ibukota kabupaten, yakni kota Waisai, sebanyak 32.499 jiwa, dengan kepadatan 125,85 jiwa/km². Sementara penduduk paling sedikit berada di distrik kecamatan Salawati Barat yakni 1.463 jiwa, 764 laki-laki dan 699 perempuan.[2]

AgamaSunting

Penduduk kabupaten Raja Ampat mayoritas memeluk agama Kristen. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2010, pemeluk agama Kristen berjumlah 68,10%, dimana 67,34% adalah Protestan dan sebagian kecil Katolik yakni 0,76%. Pemeluk agama Islam juga cukup signifikan berjumlah 31,83%, kemudian Hindu 0,06% dan Buddha 0,01%.[4]

Suku BangsaSunting

Sementara itu, etnis yang ada di Raja Ampat cukup multienis. Etnis atau suku asli kabupaten ini termasuk suku Laganyan, Matbat, Wawiyai, Kawei, Ambel, Wardo, dan Usba dan suku lainnya yang tersebar di setiap pulau-pulau Raja Ampat.[6] Selain itu, suku pendatang juga cukup banyak terlebih saat ini kabupaten Raja Ampat menjadi kawasan wisata favorit hingga mancanegara. Pendatang seperti suku Jawa, Bugis, Minahasa, Batak, dan penduduk asli dari berbagai kabupaten di pulau Papua lainnya, mulai banyak bermukim di Raja Ampat.

BudayaSunting

Kabupaten Raja Ampat memiliki beragam budaya yang menjadi ciri khas kabupaten ini. Salah satu kebudayaan yang ada di Raja Ampat adalah Tradisi Wala. Wala adalah sebuah tradisi lisan berupa nyanyian yang dibawakan bersamaan dengan gerakan tarian.[7] Tradisi Wala dikenal oleh Suku Matbat, yang merupakan suku asli dari pulau Misool dan tradisi Wala hanya digelar pada acara tertentu saja. Penduduk di Misool secara umum mengenal Tradisi Wala. Mereka menyebutnya sebagai 'lan batan o' atau lagu tanah, yang menkisah tentang asal usul 'Batan Me' atau lahirnya komunitas di pulau Misool dan persebaran kehidupan masyarakat suku Matbat.[7]

Tradisi ini sempat hampir punah, karena tidak dipelihara oleh penduduk local. Namun, pada tanggal 08 Oktober 2019, tradisi Wala diakui sebagai budaya nasional dan telah dituangkan dalam bentuk sertifikat yang ditandangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Prof.Dr.Effendy Muhadjir, di Jakarta.[7]

FotoSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Ribuan Warga Sambut Bupati Terpilih Raja Ampat", Tabloit Jubi, 31 Januari 2016
  2. ^ a b c d e f "Kabupaten Raja Ampat Dalam Angka 2020" (pdf). www.rajaampatkab.bps.go.id. Diakses tanggal 2 September 2020. 
  3. ^ a b c d "Permendagri no.137 tahun 2017". 27 Desember 2017. Diakses tanggal 12 Juni 2018. 
  4. ^ a b "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupaten Raja Ampat". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 22 Februari 2020. 
  5. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  6. ^ "Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, Dikukuhkan Sebagai Anak Adat Oleh Suku-suku di Pulau Waigeo". www.metrorakyat.com. Diakses tanggal 22 Februari 2020. 
  7. ^ a b c "Budaya Wala sebagai Identitas Suku Matbat". www.travel.detik.com. Diakses tanggal 22 Februari 2020. 

Pranala luarSunting