Pulau Larat

pulau di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku

7°14′26″S 131°58′49″E / 7.24056°S 131.98028°E / -7.24056; 131.98028

Pulau Larat
Pulau Larat di Indonesia
Pulau Larat
Pulau Larat
Pulau Larat (Indonesia)
Pulau Larat di Maluku
Pulau Larat
Pulau Larat
Geografi
LokasiAsia Tenggara
Koordinat7°08′16″S 131°51′03″E / 7.137778°S 131.850833°E / -7.137778; 131.850833
KepulauanKepulauan Maluku
Pemerintahan
NegaraIndonesia
ProvinsiMaluku
KabupatenKabupaten Kepulauan Tanimbar
Kependudukan
Penduduk12.411 jiwa (2016)
Info lainnya
Zona waktu
Peta
Sebuah kampung di pulau Larat (sekitar 1915)

Pulau Larat adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Aru dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau Larat ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, provinsi Maluku. Pulau ini berada di sebelah timur laut dari Pulau Yamdena dengan 7° 14′26″ LS, 131° 58′49″ BT (batas bagian paling luarnya).

Pada 7 Maret 2017, Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penetapan Pulau-Pulau Kecil Terluar. Peraturan ini kemudian menetapkan pulau Larat serta 110 pulau lainnya sebagai pulau kecil terluar.[1]

Masyarakat

sunting

Pulau ini memiliki tujuh desa yaitu desa Ridol, Ritabel, Watidal, Kaliobar, Kelaan, Lamdesar Barat, dan Lamdesar Timur.[2] Kehidupan masyarakat di desa-desa Pulau Larat yakni berkebun, berburum, meramu dan mencari ikan di laut. Mereka memiliki sejumlah kearifan lokal. Dalam aktivitas berkebun misalnya. Masyarakat di Pulau Larat mengelola kebun dibedakan berdasarkan tiga periode yakni tnemun, lawlowar, dan tual. Dalam hal menangkap ikan, masyarakt di Pulau Lart juga memiliki pengetahuan lokal tentang pembagian wilayah laut berdasarkan kedalamannya, jenis ikan laut, dll.[2]

Masyarakat Larat umumnya berbahasa bahasa Fordata. Bahasa ini merupakan bahasa yang juga dituturkan di sekitar pulau Larat yakni di pulau Fordata itu sendiri dan di gugusan pulau Molu Maru. Bahasa ini masuk kedalam rumpun bahasa Austronesia.[3] Dalam bahasa Fordata juga terdapat dua jenis dialek yakni dialek Utara dan dialek Seira. Masyarakat Larat sendiri banyak menggunakan dialek Utara.[4]

Transportasi

sunting

Akses transportasi udara dari atau menuju pulau Larat dapat ditempuh menggunakan pesawat melalui Bandara Liwur Bunga dengan dimensi runway 800 meter x 23 meter. Bandara yang memiliki luas 16 hektar ini, melayani jadwal penerbangan perintis sebanyak dua kali dalam seminggu yakni pada hari Selasa dan Rabu. Adapun rute penerbangannya adalah Saumlaki - Larat - Tual dan sebaliknya.[5]

Akses transportasi darat pulau Larat dapat ditembuh menggunakan kendaraan mobil. Waktu tempuh Saumlaki menuju Larat menggunakan mobil yakni empat jam perjalanan.[6] Akses menuju pulau Larat dari pulau Yamdena kini juga sudah terhubung oleh Jembatan Wear Arafura atau Leta Oa Ralan yang diresmikan pada 11 Januari 2019.[7]

Akses transportasi laut pulau Larat dapat ditempuh menggunakan kapal feri, kapal motor ataupun kapal PELNI.[8] Dari Saumlaki perjalanan laut dapat ditempuh menggunakan perahu motor yang berkapasitas 20 penumpang dan 50 penumpang. Lama perjalanan antara Saumlaki - Larat adalah empat hingga lima jam tergantung cuaca di pesisir laut Pulau Yamdena. Cuaca sangat berpengaruh terhadap kelancaran transportasi laut di pulau Yamdena - Larat dikarenakan perairan sekitar pulau Yamdena merupakan wilayah laut terbuka.[5]

Secara umum, Larat memiliki iklim tipe B dengan 8 bulan basah, 2 bulan kering, dan 2 bulan lembab. Musim Barat berlangsung pada bulan Desember hingga Februari dan musim Timur terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Sedangkan musim peralihan pertama terjadi pada bulan Maret hingga Mei dan musim peralihan kedua pada bulan September hingga November.[8]

Curah hujan pulau Larat tergolong melimpah pada musim Barat dan musim peralihan pertama. Curah hujan pada bulan-bulan tersebut rata-rata mencapai 160–430 mm. Sedangkan hari hujannya rata-rata mencapai 16-22 hari. Sebaliknya, di musim Timur dan peralihan kedua curah hujan di pulau Larat tergolong rendah yakni < 60 mm dengan hari hujan 2 - 15 hari.[8]

Suhu siang hari pulau Larat rata-rata terendah terjadi pada bulan Agustus - Juli yakni 25,80 - 25,88 C. Suhu tertinggi terjadi di bulan November yakni sekitar 28,30 C. Sedangkan pada bulan-bulan lain berkisar 26,44 hingga 27,94 C.[8]

Flora dan Fauna

sunting

Dikarenakan adanya status cagar alam pada Pulau Larat yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 169/Kpts-II/1995 tanggal 23 Maret 1995, beberapa jenis satwa dilindungi di pulau ini.[9]

Flora di pulau Larat yang paling menonjol adalah terdapat padang lamun atau seagrass. Terdapat setidaknya enam jenis lamun yakni jenis Cymodecea rotundata, Cymodecea serulata, Thalasia hemprichii, Halodule uninervis, Halophila ovalis, dan Enhalus acoroides. Adapula jenis mangrove.[8] Adapun flora lain adalah anggrek alam (Dendrobium palaennopsis), palma, dan pandan.[9]

Beberapa jenis ikan yang ditemukan di perairan pulau Larat adalah ikan tuna (Thunnus spp), madidihang (Thunnus albacares), cakalang (Katsuwomus pelamis), tenggiri (Scomberomorus sp) dan tongkol (Euthynnus affinis). Sedangkan beberapa jenis satwa yang dilindungi adalah Kakatua manila/kakatua Tanimbar (Cacatua goffini), Nuri Tanimbar (Eos reticulata), Towai (Geoffroyus geoffroyi), Sikatan (Anignathus megalorinchos), Bayan (Ecletus rotatus), dan Kus-Kus (Phalager sp).[9] Terdapat juga burung Jalak Tanimbar (Aplonis crassa), Ketam Kenari (Birgus latro), Duyung (Dugong dugong), penyu hijau (Chelonia mydas).[10]

Situs Arkeologi

sunting

Terdapat sejumlah situs arkeologi yang ditemuka di Pulau Larat. Situs arkeologi tersebut terdapat di desa Kelaan, desa Lamdesar Barat dan di desa Keliobar. Di desa Kelaan terdapat situs perkampungan kuna yang dikenal sebagai Negeri Lama Kelaan. Di situs ini ditemukan fragmen keramik asing seperti yang berasal dari Dinasti Ming. Di Lamdesar Barat terdapat situs Kora Tutul. Di situs ini ditemukan jenis peninggalan berupa dolmen. Sedangkan di desar Keliobar terdapat situs pekuburan kuno dan fragmen gerabah polos dan keramik asing.[11]

Referensi

sunting
  1. ^ "111 Pulau Ini Ditetapkan Presiden Jokowi Sebagai Pulau-Pulau Kecil Terluar". Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. 2017-03-07. Diakses tanggal 2022-12-20. 
  2. ^ a b umi_hidayati (2019-07-30). "PENELITIAN PENGELOLAAN PULAU-PULAU KECIL BERBASIS LOKAL DI PULAU LARAT". Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku. Diakses tanggal 2022-12-27. 
  3. ^ A., Monk, Kathryn (2012). Ecology of Nusa Tenggara and Maluka. Tuttle Pub. ISBN 978-1-4629-0506-5. OCLC 795120066. 
  4. ^ Hughes, Jock. "The Languages of Kei, Tanimbar and Aru: A Lexicostatistic Classification" (PDF). Diakses tanggal 2022-12-27. 
  5. ^ a b Nurdin, Erwin; Nurdin, Erwin (2022-06-25). "Bandara Liwur Bunga Jadi Akses Udara Ke Larat". MAJALAH BANDARA. Diakses tanggal 2022-12-20. 
  6. ^ Nurdin, Erwin; Nurdin, Erwin (2022-06-29). "Kabandara Liwur Bunga Larat Supriyono Sudah 27 Tahun Mengabdi". MAJALAH BANDARA. Diakses tanggal 2022-12-20. 
  7. ^ Agency, ANTARA News. "Menkeu resmikan jembatan Wear Arafura". ANTARA News Ambon, Maluku. Diakses tanggal 2022-12-20. 
  8. ^ a b c d e "Pulau LARAT". www.ppk-kp3k.kkp.go.id. Diakses tanggal 2022-12-27. 
  9. ^ a b c Maluku, BKSDA (2017-09-21). "Suaka Alam Pulau Larat". BKSDA Maluku. Diakses tanggal 2022-12-27. 
  10. ^ BirdLife Data Zone. "Pulau Larat". datazone.birdlife.org. Diakses tanggal 2022-12-27. 
  11. ^ Ririmasse, Marlon NR (2016-12-29). "Arkeologi Kepulauan Tanimbar Bagian Utara: Tinjauan Potensi di Pulau Fordata dan Pulau Larat Maluku Indonesia". Kapata Arkeologi: 43–58. doi:10.24832/kapata.v12i1.318. ISSN 1858-4101.