Pucuk (Saussurea costus) adalah spesies tumbuhan dalam genus Saussurea yang berasal dari India. Minyak atsiri yang diekstraksi dari akarnya telah lama dimanfaakan dalam pengobatan tradisional dan wewangian sejak dahulu kala.[1][2] Genus Saussurea tergolong ke dalam famili Asteraceae yang terdiri dari sekitar 300 spesies di dunia di mana 61 spesiesnya ditemukan di India.[3] Aucklandia, yang juga dikenal sebagai costus atau mu xiang, adalah akar dari tumbuhan Saussurea costus. Akar tumbuhan ini adalah bagian inti dari pengobatan dengan khasiat hemoepati.[4]

Pucuk
Saussurea costus

Status konservasi
Terancam kritis
IUCN50126641
Taksonomi
DivisiTracheophyta
SubdivisiSpermatophytes
KladAngiospermae
Kladmesangiosperms
Kladeudicots
Kladcore eudicots
Kladasterids
Kladcampanulids
OrdoAsterales
FamiliAsteraceae
SubfamiliCarduoideae
TribusCynareae
GenusSaussurea
SpesiesSaussurea costus
Lipsch., 1964
Tata nama
BasionimAucklandia costus (en)
Sinonim taksonSaussurea lappa (en)

Tumbuhan ini punya sejumlah nama lokal dalam bahas lain, termasuk kustha (Sanskrit), kust atau qust (Arab dan Persia), kut, kur, dan pachak (Hindi dan Bengali), kostum, gostham, dan pocuk (Tamil), upaleta dan kur (Gujarat), kot atau kust (Punjabi), changala (Telugu), sepuddy (Malayalam), kostha (Kannada), kuth atau postkhai (Kashmir), dan kosht (Hebrew).[5][6]

Budidaya sunting

Tanaman dibudidayakan sebagai tanaman obat. Penanamannya sebagian besar di India, tepatnya di Himachal Pradesh, Jammu-Kashmir, tempat asalnya. Kajian oleh Parmaret et al. (2012) menemukan pengaruh ketinggian terhadap persentase daya tumbuh dan perkecambahan biji. Ini alasan mengapa tumbuh subur di Wilayah Himalaya yang bergunung-gunung. Budidaya difokuskan pada akar tanaman. Akarnya diekspor ke Cina dan Jepang, dan merupakan komoditas perdagangan di Kashmir. Bagaimana pun juga, jenis perdagangan ini saat ini diatur oleh negara dikarenakan sudah sangat tereksploitasi. Tanaman ini dipanen berlebihan dan ditempatkan pada daftar spesies terancam punah CITES (Apendiks I) yang artinya perdagangan antar negara (untuk ekspor) adalah ilegal.

Habitat sunting

Umum ditemukan pada ketinggian 2.500 m sampai 3.000 m (8.200 sampai 9.800 kaki) di atas permukaan laut di India; termasuk Himalaya, Kashmir, Jammu, Ghats Barat, dan Lembah Kishenganga.[5] Musim berbunganya dari Juli sampai Agustus, dengan biji yang matang dari Agustus hingga September. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada berbagai macam tanah, dari berpasir ringan, medium, sampai tanah liat berat yang asam, netral, atau basa, tanah alkalin, meski lebih menyukai tanah yang gembur. Banyaknya cahaya matahari yang dibutuhkan bervariasi dari area semi-naungan atau area tanpa naungan[7].

 
Pucuk di perjalanan Gangria menuju Hemkund, Taman Nasional Lembah Berbunga

Keragaan sunting

Pucuk digolongkan dalam tumbuhan tahunan, dengan tinggi sekitar 1–2 m (3.3-6.6 kaki) dengan lebar 1 m (3.3 kaki).[7] Tumbuhan ini punya daun lyrate dan bagian atasnya keunguan. Dasar daunnya berbentuk daun telinga, dengan bergerigi, polanya mirip gigi di bagian bawah daunnya dan rata-rata memiliki panjang 0.50-1.25 m (1.6-4.1 kaki). Akarnya gemuk dan dapat mencapai panjang 40 cm (16 in).[8][9]

Referensi sunting

  1. ^ Sambamurty, A. V. S. S. (2005). Taxonomy of angiosperms. New Delhi: I.K. International. ISBN 81-88237-16-7. OCLC 841013792. 
  2. ^ Lohberger, Birgit; Rinner, Beate; Stuendl, Nicole; Kaltenegger, Heike; Steinecker-Frohnwieser, Bibiane; Bernhart, Eva; Rad, Ehsan Bonyadi; Weinberg, Annelie Martina; Leithner, Andreas (2013-06-14). "Sesquiterpene Lactones Downregulate G2/M Cell Cycle Regulator Proteins and Affect the Invasive Potential of Human Soft Tissue Sarcoma Cells". PLoS ONE. 8 (6). doi:10.1371/journal.pone.0066300. ISSN 1932-6203. PMC 3682952 . PMID 23799090. 
  3. ^ Kour, Sumeet; et al. (2015). "Conservation Strategies of Saussurea costus, Critically Endangered Medicinal Herb Growing in Kashmir Himalaya-A Review". International Journal of Science and Research. 4 (7): 257–260. 
  4. ^ Tish, Davidson (2014). Fundukian, Laurie, ed. The Gale Encyclopedia of Alternative Medicine. 1. Gale. hlm. 197–198. ISBN 1410394336. 
  5. ^ a b Madhuri, K.; Elango, K.; Ponnusankar, S. (2012-03). "Saussurea lappa (Kuth root): review of its traditional uses, phytochemistry and pharmacology". Oriental Pharmacy and Experimental Medicine (dalam bahasa Inggris). 12 (1): 1–9. doi:10.1007/s13596-011-0043-1. ISSN 1598-2386. 
  6. ^ Kuniyal, Chandra P.; Rawat, Yashwant S.; Oinam, Santaram S.; Kuniyal, Jagdish C.; Vishvakarma, Subhash C. R. (2005-05). "Kuth (Saussurea lappa) cultivation in the cold desert environment of the Lahaul valley, northwestern Himalaya, India: arising threats and need to revive socio-economic values". Biodiversity and Conservation (dalam bahasa Inggris). 14 (5): 1035–1045. doi:10.1007/s10531-004-4365-x. ISSN 0960-3115. 
  7. ^ a b Lipsch. "Saussurea costus". Plants For A Future. Diakses tanggal 15 Mei 2020. 
  8. ^ Upadhyay, C.B.; Ojha, J.K.; Datta, S.K. (1993). "Pharmacognostic study of the root of Saussurea lappa". Sachitra Ayurveda. 8: 608–612. 
  9. ^ Hajra, P.K.; Sharma, B.D.; Sanjappa, M.; Sastry, A.R.K. (1996). Flora of India. New Delhi: Botanical Survey of India. hlm. 187.