Prediksi pandemi dan persiapan sebelum pandemi COVID-19

Perencanaan dan persiapan untuk pandemi telah terjadi di beberapa negara dan organisasi internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menulis rekomendasi dan panduan, meskipun tidak ada mekanisme yang berkelanjutan untuk mengulas kesiapan dan kemampuan respons cepat dari negara-negara tersebut dikarenakan aksi nasional bergantung kepada pemerintah nasional.[1] Pada tahun 2005 hingga tahun 2006, sebelum terjadinya pandemi flu babi 2009 dan selama satu dekade setelah kejadian tersebut, pemerintah Amerika Serikat,[2] Prancis,[3] Britania Raya dan negara lain telah mengatur persediaan peralatan kesehatan yang strategis, tetapi sering mengurangi persediaan tersebut setelah pandemi tahun 2009 untuk mengurangi biaya.

Sebuah ulasan pada bulan Juni 2018 menyatakan bahwa rencana pandemi di negara manapun tidak cukup karena virus bisa secara alamiah menyebar dengan angka kematian lebih dari 50%. Namun, para profesional di bidang kesehatan dan pembuat kebijakan hanya membuat rencana dengan perkiraan angka kematian 2.5% seperti yang terjadi di pandemi Flu Spanyol pada tahun 1918.[4] Pada tahun-tahun sebelum pandemi COVID-19, beberapa pemerintah melakukan pelatihan demonstrasi (seperti Crimson Contagion) yang membuktikan bahwa mayoritas negara tidak siap menghadapi pandemi. [5] [6] Tidak ada pihak yang melakukan tindakan pencegahan, baik pemerintah atau bisnis besar.[7] Beberapa laporan menggarisbawahi ketidakmampuan pemerintah nasional mengambil pelajaran dari wabah dan pandemi yang sebelumnya terjadi. Richard Horton menjelaskan bahwa "respons global terhadap SARS-CoV-2 "merupakan kegagalan kebijakan sains dalam satu generasi".[8]

Awal wabah di Hubei, Italia dan Spanyol menunjukkan sistem kesehatan beberapa negara kaya kelabakan, sedangkan di negara berkembang yang memiliki infrastruktur kesehatan yang lebih lemah mengalami kekurangan peralatan kebutuhan kedokteran dan tempat tidur untuk perawatan intensif lebih cepat.[9]

InternasionalSunting

WHO dan Bank Dunia memperingatkan risiko pandemi sepanjang dekade 2000an dan 2010an, terutama setelah wabah SARS 2002–2004. Dewan Pengawasan Kesiapsiagaan Global menerbitkan laporan pertamanya di akhir tahun 2019.[1] Inisiatif pihak swasta juga meningkatkan kesadaran tentang bahaya pandemi dan membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih baik.[10] Pada tahun 2018, WHO menciptakan istilah, Penyakit X "mewakilkan pengetahuan bahwa epidemi serius internasional dapat disebabkan oleh sebuah patogen yang saat ini tidak diketahui yang menyebabkan penyakit manusia" untuk memfokuskan penelitian dan pengembangan pada kandidat pandemi yang saat itu tidak diketahui selanjutnya.[11]

Perpecahan internasional dan kurangnya kolaborasi yang cocok menyebabkan terbatasnya kesiapsiagaan terhadap pandemi, meskipun proyek kesiapsiagaan pandemi influenza WHO telah menyiapkan anggaran sebesar US$39 juta untuk dua tahun yang diambil dari anggaran WHO yang berjumlah US$4.8 milyar.[1]

Sejumlah organisasi telah terlibat untuk persiapan tahun untuk menghadapi pandemi dan wabah. Diantara persiapan tersebut, seperti pembentukkan Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi yang didirikan oleh Yayasan Bill & Melinda Gates , Wellcome Trust, dan Komisi Eropa. Sejak tahun 2017, koalisi ini telah mencoba menghasilkan sebuah platform pendekatan yang untuk berurusan dengan penyakit epidemi yang muncul, seperti COVID-19 yang akan memungkinkan pengembangan vaksin dan penelitian imunitas yang cepat sebafai respon terhadap wabah.[12][13]

NegaraSunting

PrancisSunting

Mengikuti peringatan dan peningkatan kesiapsiagaan pada dekade 2000an, pandemi flu babi menyebabkan reaksi anti pandemi di antara negara Barat. Galur virus H1N1/09 dengan gejala sedang dan letalitas yang rendah mendapatkan reaksi buruk dari publik karena terlalu reaktif menghabiskan dana untuk pembelian vaksin pandemi flu babi 2009 yang berbiaya tinggi sehingga pada tahun-tahun berikutnya, peralatan medis nasional yangs stratergis tidak diperbaru secara sistematis. Di Prancis, 382 juta pembelian masker, vaksin dan keperluan lain untuk H1N1 berada dibaeah tanggung jawab Menteri Kesehatan, Roselyne Bachelot dikritik secara luas. [3][14]

Otoritas kesehatan Prancis memutuskan pada tahun 2011 untuk tidak mengisi kembali persediaan mereka untuk mengurangi biaya pembelian dan penyimpanan sehingga mereka lebih bergantuk pada persediaan dari Tiongkok dan logistik just in time serta mendistribusikan tanggung jawabnya ke perusahaan swasta sebagai pilihan opsional. Persedian peralatan medis strategis di Prancis turun menjadi 1 milyar masker medis dan 600 juta masker FFP2 pada tahun 2010 dan kembali menurun menjadi 150 juta masker medis and 0 masker FFP2 pada awal 2020[3]

Britania RayaSunting

Simulasi pandemi penyakit seperti influenza telah dilakukan oleh National Health Service (NHS) trust sejak wabah influenza H5N1 2007("flu burung"). Russell King, manajer resiliensi di NHS saat itu mengatakan " Kantor kabinet telah mengidentifikasi persediaan dan distribusi APD [Alat pelindung diri} akan mencapai titik jepit dalam sebuah pandemi".[15]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c Simone, McCarthy; Jiangtao, Shi (31 Maret 2020). "Wanted: world leaders to answer the coronavirus pandemic alarm". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 Maret 2020. Diakses tanggal 19 Maret 2021. 
  2. ^ Manjoo, Farhad (25 Maret 2020). "Opinion | How the World's Richest Country Ran Out of a 75-Cent Face Mask". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 19 Maret 2021. 
  3. ^ a b c Vignal, François (23 Maret 2020). "Pénurie de masques : une responsabilité partagée par les gouvernements". Public Senat (dalam bahasa Prancis). Diakses tanggal 19 Maret 2021. 
  4. ^ The Oxford Handbook of Global Health Politics (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. 19 Maret 2020. doi:10.1093/oxfordhb/9780190456818.001.0001. ISBN 978-0-19-045680-1. 
  5. ^ Sanger, David E.; Lipton, Eric; Sullivan, Eileen; Crowley, Michael (19 Maret 2020). "Before Virus Outbreak, a Cascade of Warnings Went Unheeded". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  6. ^ Stracqualursi Stracqualursi, Veronica (19 Maret 2021). "New York Times: HHS' pandemic simulation showed how US was ill prepared for coronavirus". CNN. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  7. ^ Xie, Andy (6 April 2020). "How the greedy elite failed us, putting profit before pandemic preparedness". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  8. ^ Horton, Richard (9 April 2020). "Coronavirus is the greatest global science policy failure in a generation". the Guardian (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  9. ^ Whittington, Dale; Wu, Xun (30 Maret 2020). "What developing countries can learn about coronavirus lockdown". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  10. ^ Wakefield, Jane (19 Maret 2015). "TED 2015: Bill Gates warns on future disease epidemic". BBC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  11. ^ "List of Blueprint priority diseases". web.archive.org. Archived from the original on 2020-04-09. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  12. ^ Desmond-Hellmann, Susan (4 Maret 2020). "Preparing for the Next Pandemic". Wall Street Journal (dalam bahasa Inggris). ISSN 0099-9660. Diakses tanggal 20 Maret 2020. 
  13. ^ Gates, Bill (18 Januari 2017). "Preparing for the next epidemic: a first step". gatesnotes.com. Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  14. ^ Verner, Robin (20 Maret 2020). "Pénurie de masques: pourquoi la France avait décidé de ne pas renouveler ses stocks il y a neuf ans". BFMTV (dalam bahasa Prancis). Diakses tanggal 20 Maret 2021. 
  15. ^ Lay, Kat , Defence (31 Maret 2020). Fisher, Lucy, ed. "Coronavirus: Shortage of masks and gowns for NHS staff foreseen over a decade ago" (dalam bahasa Inggris). ISSN 0140-0460. Diakses tanggal 20 Maret 2021.