Pratama Dahlian Persadha

Dr. Pratama Dahlian Persadha (lahir di Blora, Jawa Tengah, 14 Oktober 1977 (umur 44) adalah Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan dan Komunikasi CISSReC (Communication and Information System Security Research Center).[1]

Pratama Dahlian Persadha
Pratama Persadha.jpg
LahirPratama Dahlian Persadha
14 Oktober 1977 (umur 44)
Bendera Indonesia Blora, Jawa Tengah, Indonesia
KebangsaanIndonesia
AlmamaterUniversitas Gadjah Mada Akademi Sandi Negara (AKSARA)
PekerjaanPlt. Direktur Pengamanan Sinyal Lembaga Sandi Negara Akademisi
Dikenal atasPakar Keamanan Siber Indonesia
JabatanChairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC
Situs webwww.cissrec.org

Pratama D Persadha telah menggeluti dunia siber sejak 1999 di Akademi Sandi Negara. Sejumlah pendidikan formal dan informal dijalaninya, seperti pelatihan "Secure IP-Based VPN and Secure Email" dan "Hardware Encryption Programming and Technology" di Selandia Baru, serta pelatihan "Cryptography Programming" di Swiss. Keahlian yang didapatnya dalam pelatihan-pelatihan tersebut bahkan telah membawanya menjabat sebagai Wakil Ketua Tim Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) pengamanan pesawat Kepresidenan RI. Tak hanya itu, Pratama juga pernah menjabat sebagai Ketua Tim Lemsaneg Pengamanan IT Komisi Pemilihan Umum, Ketua Tim Lemsaneg Cyber Defence Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, dan terakhir sebagai Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pamsinyal Lemsaneg.

Di Lemsaneg, Pratama telah 19 tahun mengabdi. Dalam kurun waktu yang tidak sebentar itu, Pratama memiliki pandangan tersendiri mengenai sistem komunikasi dan informasi di Indonesia yang menurutnya masih rendah. Indonesia memiliki sistem informasi yang sangat tidak aman dan sangat mudah disadap.

Atas dasar itu, ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari Lemsaneg dan mulai merintis Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC).[2] Pratama bertekad untuk seutuhnya menjadi penjaga keamanan siber di Indonesia. Bersama sejumlah profesional di bidang sistem keamanan teknologi informasi dan Kriptografi, pria kelahiran Blora ini mulai mengampanyekan kesadaran terhadap keamanan sistem komunikasi dan informasi melalui berbagai kegiatan kreatif. Di antaranya kampanye melalui media video viral, komik, karikatur, dan poster yang disebarkan lewat web, media sosial, dan media massa.

Tugasnya sebagai penjaga keamanan siber Indonesia juga membawanya berkeliling dari satu institusi ke institusi lain untuk melakukan diskusi publik, di samping tetap harus melakukan riset terkait keamanan sistem informasi. Hasil diskusi dan riset secara berkala akan dipublikasikan melalui website CISSReC. Dengan itu Pratama berharap dapat mewujudkan masyarakat yang sadar dan paham akan pentingnya keamanan sistem informasi dan komunikasi.[3]

Kini Pratama aktif menjadi narasumber di beberapa media nasional dan seminar internasional. Juga aktif mengajar di beberapa Institusi dan perguruan tinggi di tanah air, seperti Lemhannas, Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, UGM, Sekolah Tinggi Intelijen Negara, dan lainnya.

KarierSunting

  • Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC)[4][5][6]
  • Dosen Etnografi Dunia Maya Program Studi S-2 Antropologi[7] Universitas Gadjah Mada (UGM)
  • Pengajar Ketahanan Siber di Lembaga Ketahanan Nasional RI
  • Direktur Pamsinyal Lembaga Sandi Negara[8] (Resign 2014)
  • Ketua Tim Lemsaneg Pengamanan Teknologi Informasi (TI) KPU pada Pemilu 2014.[9]
  • Ketua Tim Lemsaneg Cyber Defence[10] Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
  • Wakil Ketua Tim Lemsaneg Pengamanan Pesawat Kepresidenan RI[11]
  • Ketua Tim Lemsaneg Pengamanan IT Presiden.[12]
  • Penanggung Jawab Pembangunan Jaring Komunikasi Sandi Nasional[13]

Peristiwa pentingSunting

  • Perlindungan data, Dampak bagi pemilik data yang telah tersebar data pribadinya kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sangat berbahaya. Menurut Pakar keamanan siber yang juga Chairman lembaga riset siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) Pratama Persadha, Data dari file yang bocor dapat digunakan oleh pelaku kejahatan dengan melakukan phishing yang ditargetkan atau jenis serangan rekayasa sosial (social engineering). Walaupun di dalam file yang bocor tidak ditemukan data yang sangat sensitif seperti detail kartu kredit namun dengan beberapa data pribadi yang ada, maka bagi pelaku penjahat dunia maya sudah cukup untuk menyebabkan kerusakan dan ancaman nyata. Dalam praktik phising pada pesan ataupun web, para pelaku bisa meyakinkan korban karena telah memiliki data yang akurat. Pengambilalihan akun korban sangat mungkin dilakukan.[14]
  • Pembatasan penggunaan internet di Indonesia 2019, "Pasca pembatasan internet ini, sebaiknya pemerintah melakukan upaya edukasi dan peningkatan literasi digital masyarakat. Pemerintah perlu melakukan edukasi bagi semua elemen. Baik masyarakat, pengambil kebijakan dan sektor usaha."[15]
  • Perang Siber Sudah Jadi Ancaman Serius, "Diplomat dan Paspampres masih memakai email gratisan. Soal dunia siber ini ada aturan dan kebijakan yang tegas,"[16]
  • Industri Digital Bisa Majukan Ekonomi Indonesia di Tengah Pandemi, "Pada akhirnya pemenuhan itu disuplai oleh ekosistem siber dalam negeri. Tak kalah penting, dengan kemandirian akan membuat kedaulatan siber negara kita semakin kuat,"[17]

PublikasiSunting

Beberapa cuplikan publikasi nasional dan internasional yang pernah dilakukan antara lain:

  • Pratama Dahlian Persadha, Irwan Abdullah, and Sugeng Bayu Wahyono "AUDIENCE CULTURE IN THE RECEPTION OF TEXT: BLACK CAMPAIGNS ON ONLINE MEDIA DURING INDONESIA'S 2014 AND 2019 PRESIDENTIAL ELECTIONS" Received on 18th February 2019, Revised on 17th April 2019, Published on 23rd August 2019. [18]
  • P. D. Persadha, A. A. Waskita and S. Yazid, "Comparative Study of Cyber Security Policies among Malaysia, Australia, Indonesia: A Responsibility Perspective," 2015 Fourth International Conference on Cyber Security, Cyber Warfare, and Digital Forensic (CyberSec), Jakarta, 2015, pp. 146-150, doi: 10.1109/CyberSec.2015.36. [19]
  • Persadha, P. D., Waskita, A. A., Fadhila, M. I., Kamal, A., & Yazid, S. (2016). How inter-organizational knowledge sharing drives national cyber security awareness? A case study in Indonesia. In 18th International Conference on Advanced Communications Technology: "Information and Communications for Safe and Secure Life!", ICACT 2016 - Proceeding (pp. 550-555). [7423468] (International Conference on Advanced Communication Technology, ICACT; Vol. 2016-March). Institute of Electrical and Electronics Engineers Inc.. https://doi.org/10.1109/ICACT.2016.7423468" [20]
  • A. A. Waskita, H. Suhartanto, P. D. Persadha and L. T. Handoko, "A simple statistical analysis approach for Intrusion Detection System," 2013 IEEE Conference on Systems, Process & Control (ICSPC), Kuala Lumpur, 2013, pp. 193-197, doi: 10.1109/SPC.2013.6735130.[21]
  • PERSADHA, Pratama Dahlian; ABDULLAH, Irwan; WAHYONO, S. Bayu. Yogyakarta netizen community response to the black campaign: the 2014 presidential election in Indonesia. Asian Journal of Media and Communication (AJMC), 2017, 1.1: 19-34. doi.org/10.20885/asjmc.vol1.iss1.art2 [22]
  • Pratama Dahlia Persadha.April 2018. Mewaspadai Kampanye Hitam dalam Era Demokrasi Digital. hlm 1-9, JURNAL DIALOG KEBIJAKAN PUBLIK, Demokrasi Digital Dalam Pilkada Serentak, EDISI 26 April 2018. ISSN: 1979-3499. PENERBIT KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI[23]
  • Pratama Dahlia Persadha. 2019. Sistem Keamanan Informasi Pada Era Revolusi Industri 4.0. hlm 41-47, JURNAL DIALOG KEBIJAKAN PUBLIK, Indonesia Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0, EDISI 31 2019. ISSN: 1979-3499. PENERBIT KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI[24]

BukuSunting

  • Persadha, Pratama D (Juli, 2015). "Lahirnya Dinas Kode". Kode Untuk Republik: Peran Sandi Negara di Perang Kemerdekaan. PT Marawa Tiga Warna. hlm. 109–119. ISBN 978-602-72773-0-4.
  • Kode Untuk Republik[25][26]

Lihat pulaSunting

  • Pratama Dahlian Persadha, akun milik Pratama Dahlian Persadha di Wikipedia bahasa Indonesia.
  • Roebiono Kertopati, terdapat kutipan buku "Lahirnya Dinas Kode". Kode Untuk Republik: Peran Sandi Negara di Perang Kemerdekaan. pada hlm. 109–119

ReferensiSunting

  1. ^ "Profile :: CISSReC | Communication and Information System Security Research Center". www.cissrec.org. Diakses tanggal 2019-12-03. 
  2. ^ "Overview". www.cissrec.org. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  3. ^ "Pratama D. Persadha, Ketua Lembaga Riset Keamanan Cyber dan Komunikasi (CISSReC): Indonesia Butuh Lembaga Pertahanan Siber". Republika Online. 2015-03-10. Diakses tanggal 2019-12-03. 
  4. ^ developer, mediaindonesia com (2017-07-04). "BIN dan Keamanan Siber". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  5. ^ International Finance is a media partner with Tradepass (2019-07-26). "Indonesia Security Summit to address core cybersecurity issues". international finance. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  6. ^ bisnis.com, jpnn.com (2017-04-28). "WEBSITE TELKOMSEL DIBOBOL HACKER: Kapan Indonesia Punya Badan Cyber?". Kementrian Pertahanan Republik Indonesia. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  7. ^ "Penipuan Social Engineering yang Timpa Maia Estianty - Gojek Marak di 2020". suara.com. 2020-01-01. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  8. ^ Lumbanrau, Raja Eben. "'Badan Siber Tak Cuma Urus Berita Hoax'". nasional. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  9. ^ "Doktor Pratama: Pengamanan web KPU perlu ditingkatkan cegah peretasan". Antara. Diakses tanggal 2020-09-15. 
  10. ^ "ISS 2019 | Tradepass". www.indonesiasecuritysummit.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-12-27. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  11. ^ "CISSReC Kritisi Pengumpulan Data Pribadi Masyarakat oleh PKK". Republika Online. 2019-09-23. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  12. ^ "Eks Tim IT Kepresidenan: Menyadap Itu Semudah Masak Mi Instan". Liputan6. Diakses tanggal 2020-09-15. 
  13. ^ "Pratama D. Persadha, Ahli Telik Sandi Yang Rintis Pengamanan Cyber Sendiri". www.cissrec.org. Diakses tanggal 2020-01-29. 
  14. ^ beritasatu.com (24 Mei 2021). "Data Pribadi Bocor, Ini Risiko yang Mengintai". www.beritasatu.com. Diakses tanggal 29 Juli 2021. 
  15. ^ "Pengamat Setuju Jika Pembatasan Medsos Hanya 3 Hari". CNN. Diakses tanggal 2020-09-15. 
  16. ^ "Perang Siber Sudah Jadi Ancaman Serius". Diakses tanggal 2020-09-15. 
  17. ^ "Industri Digital Bisa Majukan Ekonomi Indonesia di Tengah Pandemi". Diakses tanggal 2020-09-15. 
  18. ^ "AUDIENCE CULTURE IN THE RECEPTION OF TEXT: BLACK CAMPAIGNS ON ONLINE MEDIA DURING INDONESIA'S 2014 AND 2019 PRESIDENTIAL ELECTIONS" (PDF). www.core.ac.uk. Diakses tanggal 2020-09-15. 
  19. ^ "Comparative Study of Cyber Security Policies among Malaysia, Australia, Indonesia: A Responsibility Perspective". www.ieeexplore.ieee.org. Diakses tanggal 2020-09-15. 
  20. ^ "How inter-organizational knowledge sharing drives national cyber security awareness? A case study in Indonesia". www.scholar.ui.ac.id/. Diakses tanggal 2020-09-15. 
  21. ^ "A simple statistical analysis approach for Intrusion Detection System" (PDF). Diakses tanggal 2020-09-15. 
  22. ^ "YOGYAKARTA NETIZEN COMMUNITY RESPONSE TO THE BLACK CAMPAIGN: THE 2014 PRESIDENTIAL ELECTION IN INDONESIA". Diakses tanggal 2020-09-15. 
  23. ^ "JURNAL DIALOG KEBIJAKAN PUBLIK. EDISI 26 April 2018". Diakses tanggal 2020-09-15. 
  24. ^ "JURNAL DIALOG KEBIJAKAN PUBLIK. EDISI 31 April 2019". Diakses tanggal 2020-09-15. 
  25. ^ "Kode Untuk Republik". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2019-12-03. 
  26. ^ "Pinjam Buku Kode Untuk Republik". Bookabuku. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-01-29. Diakses tanggal 2020-01-29. 

Pranala luarSunting

Official Website