Buka menu utama

Platonisme, sebagai kata benda khusus, adalah filsafat Plato atau nama dari sistem-sistem filsafat yang dianggap sebagai turunan langsung dari filsafat Plato. Dalam lingkup makna yang lebih sempit, platonisme, sebagai kata benda umum (dengan huruf "p" kecil), adalah sebutan bagi filsafat yang mengakui keberadaan objek-objek abstrak. Objek-objek mujarad ini diyakini "wujud" di suatu "alam ketiga". Alam ketiga berbeda dari alam lahiriah yang dapat diindrai maupun alam batiniah yang dapat diinsyafi. Dengan demikian, platonisme (dengan huruf "p" kecil) adalah kebalikan dari nominalisme (dengan dengan huruf "n" kecil).[1] Kaum "platonis" dengan huruf "p" kecil tidak harus menerima ajaran-ajaran Plato.[1]

Dalam makna sempit, istilah ini dapat merujuk pada ajaran Realisme Platonik. Konsep utama Platonisme, pembeda hakiki dari Teori Wujud, adalah pembedaan antara realitas yang tercerap tetapi tak terpahami, dan realitas yang tak tercerap tetapi terpahami. Wujud-wujud lazimnya dipaparkan dalam dialog-dialog seperti Faidon, Simposion, dan Politeia sebagai arketipe-arketipe sempurna dan transenden, yang padanya objek-objek alam kehidupan sehari-hari hanya sekadar tiruannya yang tak sempurna.

Dalam Politeia, wujud tertinggi dipahami sebagai Wujud Kebajikan, sumber dari segala wujud lainnya, yang dapat diketahui dengan akal budi. Dalam Sofistes, salah satu karya tulis terkemudian, wujud-wujud keadaan, kesamaan dan perbedaan termasuk di antara "Ragam-Ragam Besar" primordial. Pada abad ke-3 SM, Arkesilaos mengadopsi skeptisisme, yang menjadi dalil utama mazhab Platonisme sampai pada 90 SM, manakala Antiokhos menambahkan unsur-unsur Stoik, menolak skeptisisme, dan mengawali era baru yang dikenal sebagai Platonisme pertengahan.

Pada abad ke-3 M, Plotinos menambahkan unsur-unsur mistik, membentuk Neoplatonisme, yang di dalamnya keberadaan tertinggi adalah Yang Maha Esa atau Yang Maha Baik, sumber segala sesuatu; dalam kebajikan dan meditasi, jiwa berkuasa mengangkat dirinya sendiri untuk mencapai kemanunggalan dengan Yang Maha Esa. Platonisme berdampak besar atas pemikiran dunia Barat, dan banyak gagasan Platonik diadopsi oleh gereja Kristen yang memaknai wujud-wujud Plato sebagai pikiran-pikiran Allah, sementara Neoplatonisme berdampak besar atas Mistisisme Kristen di dunia Barat melalui Santo Agustinus, Doktor Gereja Katolik. Karya-karya tulis Agustinus mengenai ajaran Kristen sangat dipengaruhi gagasan-gagasan dalam Enneades karya Plotinos,[2] dan karya-karya tulis itu kelak menjadi landasan seluruh pemikiran Kekristenan Barat.[3]

Daftar isi

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ a b "Filsuf-filsuf yang mengakui keberadaan objek-objek abstrak adakalanya disebut kaum platonis, sementara filsuf-filsuf yang mengingkari keberadaan objek-objek abstrak adakalanya disebut kaum nominalis. Terminologi semacam ini patut disesali, karena kata-kata tersebut telah diberi makna khusus dalam sejarah filsafat, yakni sebagai sebutan bagi pendirian-pendirian di kalangan filsuf yang hanya sedikit atau sama sekali tidak ada kaitannya dengan gagasan modern mengenai objek abstrak. Kendati demikian, istilah-istilah tersebut kini sudah diberi makna mutakhir, sehingga perlu diinsyafi oleh pembaca. Sehubungan dengan hal ini, kiranya perlu untuk senantiasa menginsyafi bahwa kaum platonis (dengan huruf "p" kecil) modern tidak mesti menerima satu butir pun ajaran Plato, sebagaimana kaum nominalis modern tidak mesti menerima ajaran-ajaran kaum Nominalis Abad Pertengahan." - "Abstract Objects", Gideon Rosen, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Musim Semi 2012), Edward N. Zalta (penyunting), [1]
  2. ^ O'Connell SJ, RJ, The Enneads and St Augustine's Vision of Happiness. Vigiliae Christianae 17 (1963) 129-164 (JSTOR)
  3. ^ Pelikan, Jaroslav. The Christian Tradition: A History of the Development of Doctrine. Vol 1, The Emergence of the Catholic Tradition 100-600; Pelikan, Jaroslav. The Christian Tradition: A History of the Development of Doctrine. Vol 3, The Growth of Mediaeval Theology 600-1300, section, "The Augustinian Synthesis"

Bacaan lebih lanjutSunting

  • Ackermann, C. The Christian Element in Plato and the Platonic philosophy. Diterjemahkan oleh Asbury Samuel Ralph. Edinburgh: T. & T. Clark, 1861.
  • Cassirer, Ernst. The Platonic Renaissance in England. Diterjemahkan oleh James P. Pettegrove. Edinburgh: Nelson, 1953.
  • Kristeller, Paul Oskar, "Renaissance Platonism." In Renaissance Thought: the Classic, Scholastic, and Humanistic Strains. New York: Harper, 1961.
  • Walker, Daniel Pickering. The Ancient Theology: Studies in Christian Platonism from the Fifteenth to the Eighteenth Century. London: Duckworth, 1972.

Pranala luarSunting