Buka menu utama
Peulebat Tempoe dulu

Peulebat[1] berasal dari kata “Khubat” yakni suatu perkelahian yang menunjukkan keperkasaan dan kelihaian seseorang menggunakan senjata berupa benda tajam. dulunya alat bantu dalam pelebat adalah Mekhemu (Red-Pedang Khas Suku Alas), tetapi setelah Belanda menguasai Tanoh Alas dimulai pada tahun 1904 penggunaan Mekhemu dilarang dikarenakan sangat berbahaya bagi pelaku yang memainkannya, jadi digantilah penggunaan Mekhemu dengan sepotong bambu yang sudah diraut.

Peulebat sendiri biasanya dilakukan pada saat keluarga mempelai pria hendak mau menjemput ke rumah mempelai wanita yang mana rumah tersebut biasanya di sebut dengan "Ni pengembunan". kedua keluarga mempelai baik pria maupun wanita sama-sama menurunkan dua orang pemuda dari kalangan keluarganya masing-masing, sebelum adu tangkas ini dimulai biasanya akan ada yang namanya pengukuran bambu agar tidak terjadi yang namanya beda bulu.

Peulebat juga sering dihelat pada saat menjamu tamu-tamu kehormatan yang datang dari luar. akan tetapi pelebat dewasa ini sudah sangat jarang dihelat, entah apa sebabnya walaupun setiap tahunnya ada saja yang melaksanakan pernikahan tetapi jarang sekali masyarakat Alas melaksanakannya, mungkin jika ditanya pada generasi muda saat ini di Aceh tenggara mereka banyak yang tidak tahu kesenian ini, ironis memang.

Tata Cara Peragaan[2]Sunting

Dalam langkah ningcini, mata mencari kelengahan lawan dengan gerak cepat melompat dengan langkah menerkam, memukul lawan seirama dengan pemukulan canang (Alat Musik Suku Alas), yang ditabuh dengan posisi duduk dan berdiri, sepak pemain, memukul dan menangkis, sedangkan peserta terbanyak melakukan pukulan dianggap menang begitu juga sebaliknya dan dibarengi dengan sorak sorai para hadirin penonton. Dalam langkah ningcini, mata mencari kelengahan lawan dengan gerak cepat melompat dengan langkah menerkam, memukul lawan seirama dengan pemukulan canang, yang ditabuh dengan posisi duduk dan berdiri, sepak pemain, memukul dan menangkis, sedangkan peserta terbanyak melakukan pukulan dianggap menang begitu juga sebaliknya dan dibarengi dengan sorak sorai para hadirin penonton.

ReferensiSunting