Buka menu utama

Pertempuran Covadonga merupakan kemenangan pertama pasukan Kristen di Semenanjung Iberia semenjak penaklukan Kerajaan Visigoth oleh Kekhalifahan Umayyah pada tahun 711–718. Pertempuran ini berlangsung di di Covadonga, kemungkinan besar pada musim panas tahun 722. Berkat kemenangan ini, bangsawan Visigoth Pelagius dari Asturias dapat mendirikan Kerajaan Asturias yang akan berkembang menjadi kerajaan yang kuat di semenanjung Iberia barat laut dan menjadi kekuatan yang melawan perluasan wilayah Islam. Bagi para sejarawan, pertempuran di Covadonga menandai permulaan Reconquista.[3]

Pertempuran Covadonga
Bagian dari permulaan Reconquista
Don Pelayo.jpg
Pelagius, pemenang pertempuran Covadonga dan Raja Asturias pertama.
TanggalMusim panas tahun 718 atau 722
LokasiPicos de Europa di dekat Covadonga, kini di Sepanyol
Hasil Kemenangan Asturias
Pihak terlibat
Emblema del Reino de Asturias.svg Kerajaan Asturias Umayyad Flag.svg Kekhalifahan Umayyah
Tokoh dan pemimpin
Pelagius dari Asturias Munuza
Al Qama
Kekuatan
300[1] 187.000 (prakiraan abad pertengahan) 800 - 1.400 (perkiraan zaman modern)
Korban
289 mati[1] 124.000 (perkiraan abad pertengahan) Tidak diketahui (perkiraan zaman modern) [2]

PermulaanSunting

Berdasarkan teks yang ditulis oleh kelompok Mozarab di Iberia utara pada abad ke-9, pada tahun 718 kaum Visigoth telah memilih seorang bangsawan yang bernama Pelagius (681-737) sebagai pemimpin mereka. Pelagius merupakan cucu bekas Raja Hispania, Chindasuinth, dan anak lelaki Favila yang merupakan seorang bangsawan di istana Raja Visigoth Egica (687-700). Ia mendirikan ibu kotanya di Cangas de Onís, Asturias dan memulai perlawanan terhadap pemerintahan khilafah Umayyah.

Sejak Islam menaklukkan Iberia, tentara-tentara dari selatan melarikan diri ke utara untuk menghindari pemerintahan Islam. Tempat persembunyian mereka terletak di daerah pegunungan terpencil Asturias yang terletak di barat laut semenanjung Iberia. Mereka kemudian direkrut oleh Pelagius. Aksi pertamanya adalah menolak membayar jizyah (pajak untuk non-Islam) kepada pemerintah Islam dan mulai menyerang garnisun kecil yang ditempatkan di daerah ini. Akhirnya, ia berhasil mengusir gubernur daerah yang bernama Munuza dari Asturias. Ia juga berhasil mempertahankan wilayah ini dari serangan-serangan yang dilancarkan oleh kekhalifahan Umayyah.

Selama 50 tahun pertama, pemberontakkan ini tidak mengancam kekuasaan Kekhalifahan Umayyah di Hispania yang berpusat di Cordoba. Pelagius tidak selalu berhasil dalam upayanya untuk mengusir kaum Muslim dari Asturias. Namun, pasukan Muslim mulai melancarkan serangan ke Narbonne dan Galia, sehingga mereka kekurangan tenaga militer di wilayah pegunungan Asturias. Pelagius tidak pernah mencoba memanfaatkan permasalahan ini dan kekalahan Umayyah di tempat lain-lah yang menjadi pemicu Pertempuran Covadonga. Pada 9 Juli 721, pasukan Muslim yang menyeberangi Pegunungan Pirenia telah dikalahkan dalam Pertempuran Toulouse. Peristiwa ini merupakan kekalahan besar pertama umat Muslim selama kampanye militernya di Eropa barat. Enggan kembali ke Cordoba dengan berita buruk ini, wāli Umayyah, Anbasa ibn Suhaym Al-Kalbi, memutuskan untuk memadamkan pemberontakan di Asturias saat sedang dalam perjalanan pulang karena merasa bahwa mereka akan dengan mudah, sehingga akan meningkatkan moral pasukan.

PertempuranSunting

Pada tahun 722, pasukan tentara yang dipimpin oleh komandan Umayyah, Al Qama dan Munuza, dan (menurut legenda) ditemani oleh Uskup Oppas[4] dari Sevilla, telah dikirim ke Asturias. Konon menurut cerita rakyat[5] Oppas mencoba menjadi penengah yang mengajak kaum Kristen untuk menyerah, tetapi upaya ini gagal. Pelagius dan tentaranya mundur jauh ke daerah pegunungan Asturias, sampai tiba di sebuah lembah sempit yang diapit oleh gunung-gunung yang mudah untuk dipertahankan. Pelagius mungkin memiliki beberapa ratus orang bersama dengannya.

Al Qama akhirnya tiba di Covadonga dan mengirim utusan untuk meminta agar Pelagius menyerah. Pelagius menolak, sehingga Al Qama memerintahkan pasukan terbaiknya untuk menyerbu lembah ini. Pasukan Asturias menembakkan panah dan melempar bebatuan dari sisi pegunungan, dan kemudian selama puncak pertempuran, Pelagius memimpin tentaranya masuk ke dalam lembah. Mereka bersembunyi di dalam sebuah gua yang tidak dapat dilihat oleh pasukan Muslim. Menurut kisah dari pihak Kristen, mereka berhasil membantai pasukan Muslim, sementara menurut catatan sejarah Umayyah serangan tersebut merupakan serangan kecil belaka. Al Qama tewas dalam pertempuran, sementara pasukannya melarikan diri dari medan pertempuran.

Setelah kemenangan Pelagius, penduduk di Asturias mengambil senjata dan mulai membunuh ratusan tentara Al Qama yang melarikan diri. Munuza yang baru saja mendengar kabar kekalahan ini merekrut pasukan baru dan mengumpulkan sisa-sisa pasukan yang selamat dari Covadonga. Tidak lama kemudiann, pasukannya berhadapan dengan Pelagius dekat kota Proaza. Sekali lagi kemengan berpihak kepada Pelagius, dan Munuza tewas dalam pertempuran. Meskipun kaum Muslim pada saat itu menjuluki Pelagius dan pasukannya sebagai "tiga puluh kafir yang tersisa, apa yang dapat mereka lakukan", mereka tidak dapat lagi menentang kemerdekaan Kerajaan Asturias.

Catatan kakiSunting

  1. ^ a b Neither army strengths nor casualties are known with certainty. Asturian accounts stated that only 10 men survived with Pelagius.
  2. ^ Andy Symington - Northern Spain Footprint Handbook - #Citation
  3. ^ Ring, Trudy, Robert M. Salkin and Sharon La Boda, International Dictionary of Historic Places: Southern Europe, (Fitzroy Dearborn Publishers, 1995), 170.
  4. ^ Archer, Thomas Andrew and Charles Lethbridge Kingsford, The Story of the Crusades, (G.P. Putnam's Sons, 1895), 25.
  5. ^ "Spain: The Northern Kingdoms and the Basques, by Roger Collins." The New Cambridge Medieval History. Ed. Rosamond McKitterick. Vol. II. Cambridge: Cambridge UP, 1995. Print.

Koordinat: 43°18′32″N 5°03′20″W / 43.30889°N 5.05556°W / 43.30889; -5.05556