Pembicaraan:Biara (tempat tinggal)

Komentar terbaru: 6 tahun yang lalu oleh Japra Jayapati pada topik Ragam istilah

Ragam istilah Sunting

@Japra Jayapati: terima kasih sebelumnya telah membuat artikel ini dan memutuskan untuk menggunakan judul "Biara (tempat tinggal)". Sudah cukup lama saya bingung menetapkan terjemahan kata yang tepat untuk kata monastery, karena banyaknya kosa kata Inggris yang biasa diterjemahkan menjadi "biara" (misalnya convent, abbey, priory, dll.), dan masih berharap ada kosa kata khusus untuk istilah monastery ini. Ada beberapa hal ingin saya diskusikan:

  • Abbey: dalam artikel ini Anda terjemahkan menjadi "keabasan", dan selaras dengan yang digunakan dalam beberapa sumber seperti artikel ini. Namun, sebelumnya saya pernah memutuskan untuk menggunakan kata "keabbasan" (jika menurut Anda lebih baik menggunakan huruf "b" tunggal, silakan dipindahkan saja ya) sebagai terjemahan dari kata abbacy karena mengikuti definisi dalam kamus Oxford untuk merujuk pada jabatan sang abbas (mungkin ini serupa dengan penggunaan istilah "kepausan" papacy untuk jabatan sri paus) dan artikel ini tampaknya menggunakannya untuk maksud demikian. Sehingga, dengan pandangan saya tersebut, otomatis saya jadi tidak tahu abbey harus diterjemahkan menjadi apa. Bagaimana menurut Anda seputar isu abbacy dan abbey ini?
  • Priory: dalam artikel ini Anda terjemahkan menjadi "priorat", dan sepertinya ini yang paling tepat karena serapan dari istilahnya dalam bahasa Latin. Sebelumnya saya memutuskan untuk menggunakan kata "priori", bahkan sebelumnya lagi saya nekat menggunakan kata "keprioran", karena mengikuti sejumlah terjemahan awam dan sepertinya ada juga tarekat di Indonesia yang menggunakan kata tersebut (lih. contoh). :) Bagaimana pandangan Anda seputar istilah-istilah tersebut?

Mohon masukannya, dan mungkin ada isu-isu lain yang terlewatkan mohon disampaikan juga ya. Ign christian (bicara) 15 April 2017 15.24 (UTC)Balas[balas]

Oya, misteri lain yang belum terpecahkan dan belum Anda bahas dalam artikel ini yaitu terjemahan istilah "convent". Rasanya istilah ini cukup sering digunakan dalam bahasa Inggris. Komentar? Ign christian (bicara) 15 April 2017 15.42 (UTC)Balas[balas]

@Ign christian: Sama-sama. Sebenarnya saya ingin menggunakan judul "Biara" karena sesuai dengan maknanya menurut KBBI sebagai tempat tinggal para petarak, sementara makna "biara" sebagai tempat peribadatan sepertinya adalah makna arkais (misalnya "biaro" di Sumatera dan "boro" di Jawa), dan istilah modern untuk tempat peribadatan umat Buddha adalah "wihara".

Abbas adalah ejaan Latin. Dalam bahasa Indonesia, "abas" sudah mewakili bunyi Latinnya, jadi menurut saya "keabasan" sudah tepat jadi padanan abbacy dan abbatia. Artikel-artikel daring dalam bahasa Indonesia sama seringnya menggunakan bentuk "abbas" maupun "abas". Saya lebih suka transliterasi dari bahasa Latin (jika ada istilah Latinnya), sama seperti universitas - bukan universiti/universiteit, kualitas - bukan kualiti/kualitet, mumpung belum ada aturannya haha.

Istilah convent menurut saya sama dengan "(biara) susteran", "frateran" (friary), dan "bruderan". Mayoritas orang-orang yang disapa "suster, frater, dan bruder" ini adalah anggota tarekat-tarekat petarak pengemis. Cirinya adalah tidak berkhalwat dalam biara-biara terpencil, tetapi hidup, berkarya, dan mencari nafkah di tengah-tengah masyarakat. Biara susteran/frateran/bruderan biasanya dibangun berdampingan dengan kantor yayasan, bengkel, sekolah, klinik, panti, toko, dll, yang terbuka untuk umum. Biara-biara ini jauh lebih santai dan terbuka dibanding biara-biara para rahib dan rahibah (pertapaan). Menurut wikipedia bahasa Inggris, istilah convent dalam bahasa Inggris awalnya digunakan sebagai sebutan untuk tempat berkumpul komunitas para petarak pengemis, dan sejak abad ke-19 menyempit maknanya menjadi tempat tinggal komunitas petarak perempuan. Khusus untuk agama Buddha dan Kristen Ortodoks, monastery digunakan untuk menyebut semua tempat tinggal petarak pria, sedangkan convent untuk semua tempat tinggal petarak wanita.Japra Jayapati (bicara) 18 April 2017 03.07 (UTC)Balas[balas]

@Japra Jayapati: pada dasarnya saya sepakat dengan pendapat Anda, dan karena memang belum ada konsensus umum secara luas maka wikipediawan bisa berkreasi. :) Dari penjelasan Anda saya coba rangkum sbb:
  • Priori sebaiknya dialihkan ke priorat karena transliterasi langsung dari istilah Latinnya.
  • Keabbasan sebaiknya dialihkan saja ke keabasan untuk mewakili bunyi pengucapannya saja. Nah, jika abbacy menjadi "keabasan", bagaimana dengan abbey?
  • Susteran sebaiknya digunakan sebagai terjemahan dari convent, dan frateran (yang di dalamnya juga memuat definisi "bruderan") sebaiknya digunakan sebagai terjemahan friary. Sayangnya di en.wiki belum ada artikel friary (saat ini dialihkan ke priory).
Selain itu, jika saya tidak salah mengerti, istilah "biara" atau monastery biasa digunakan dalam tarekat monastik (seperti yang digolongkan dalam bagian artikel ini), sementara tarekat pengemis (mendikan) dan yang lainnya menggunakan istilah selain monastery. Seandainya demikian, apa mungkin istilah monastery lebih akurat jika diterjemahkan menjadi "biara pertapaan" atau mungkin "monasterium"? Ign christian (bicara) 18 April 2017 08.26 (UTC)Balas[balas]

@Ign christian: Terima kasih sudah repot-repot menyimpulkan. IMHO:

  1. Sepertinya baik abbacy maupun abbey adalah hasil transliterasi dari abbatia yang berarti monasterium sui iuris, cui abbas vel abbatissa praeest (biara swatantra, yang dikepalai oleh abas atau abdis). Jadi, abbacy rasa-rasanya cukup padan dengan keabasan (lebih berkaitan dengan jabatan abas/abdis), sementara abbey cukup padan dengan "biara" atau dengan "biara keabasan".
  2. Convent dan friary sama-sama adalah priorat, yaitu tempat tinggal para petarak-pengemis (friar) yang lebih suka menyebut tempat tinggalnya dengan istilah conventus (ngumpul bareng), tidak dipimpin oleh seorang abah/umi, tetapi oleh seorang ketua (prior), dan memiliki aturan yang lebih longgar dibanding biara (monasterium) asli. Susteran, frateran, dan bruderan di Indonesia adalah priorat. Umat Katolik Indonesia hanya kenal satu Gereja/Ritus Katolik saja, yaitu ritus latin, yang mewajibkan seluruh rohaniwannya hidup selibat, akibatnya pastoran dan keuskupan di Indonesia juga seringkali lebih dari sekadar "kantor/pos/kediaman seorang imam-paroki atau uskup", karena sering pula digunakan menampung para imam praja, para imam/frater/bruder/suster/awam misionaris atau staff kuria keuskupan, bahkan seminaris. Meskipun tempat-tempat tinggal semacam ini menampung para biarawan dan biarawati, tetapi tidak menerapkan aturan waktu dan hak milik seketat biara sejati. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, para suster/frater/bruder yang berkarya di tengah-tengah masyarakat lebih suka menyebut tempat tinggalnya dengan istilah "rumah" dan "wisma", begitu pula para imam praja atau imam misionaris dari tarekat tertentu yang mampu membeli atau mendirikan tempat tinggal sendiri. Priory semacam ini lebih cenderung "semibiara". Selain itu priorat juga dapat berarti "biara cabang" yang dikepalai seorang ketua, yang tunduk sepenuhnya pada aturan dan keputusan "biara induk" pimpinan abas/abdis. Priory semacam ini identik dengan abbey kecuali dalam hal kepemimpinan. Para petapa (eremit/rahib/rahibah/rubiah) di Indonesia lebih suka menyebut biara mereka sebagai pertapaan, yang mengesankan bahwa mereka menjalani pola hidup berkhalwat dan bertafakur, dan lebih sesuai dengan arti perdana (dan mungkin juga arti sejati) dari "monasterium" (tempat hidup menyendiri/menyepi), mirip para resi dan petapa Hindu yang menjalani tapa keras (bukan yg membuka padepokan/wanasrama).
  3. Dengan demikian "biara" dalam bahasa Indonesia memang sudah tepat (IMHO) dijadikan istilah generik untuk menyebut semua tempat tinggal para biarawan/biarawati. Untuk istilah-istilah yang lebih khusus, dapat digunakan istilah susteran (tempat tinggal suster), frateran (tempat tinggal frater), atau pertapaan (tempat tinggal para petapa, "biara pertapaan" juga oke). Ini cuma pendapat saya lho. Terima kasih Japra Jayapati (bicara) 18 April 2017 12.13 (UTC)Balas[balas]
@Japra Jayapati: terima kasih sudah berbagi wawasan dan pengalaman. Kenyataannya memang penggunaan istilah dalam bahasa Indonesia seringkali berbeda dengan penggunaan istilah padanannya dalam bahasa Inggris. Kendala tersebut terkadang menghambat atau membuat saya ragu-ragu memilih suatu istilah dalam bahasa Indonesia ketika ingin menerjemahkan suatu artikel. Mengingat istilah-istilah tersebut cukup sering digunakan dalam penerjemahan artikel, saya pikir perlu kita tetapkan di awal sebelum kebablasan dengan penggunaan istilah-istilah yang tidak seragam. Untuk istilah "pertapaan" sendiri sebenarnya saya kurang setuju untuk digunakan oleh mereka dari tarekat monastik senobitik, meski digunakan oleh tarekat seperti Trapis dan CSE di Indonesia, karena saya lihat padanannya dalam bahasa Inggris (yaitu hermitage) digunakan khusus untuk para eremit. Baiklah, kalau begitu sementara ini kita tetapkan saja ya istilah "biara" sebagai istilah generik yang merupakan padanan dari istilah monastery. Mari kita alihkan artikel-artikel yang perlu dialihkan, dan mohon ditambahkan ya pada artikel ybs jika ada informasi yang kurang. Sekali lagi terima kasih atas pencerahan dan diskusinya ini. Ign christian (bicara) 18 April 2017 12.51 (UTC)Balas[balas]

@Ign christian: Sama-sama. Saya setuju bahwa tidak semua istilah kerohanian asing memiliki padanan yang benar-benar "padan" dalam bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya. Monasterium dan biara memiliki asal-usul pembentukan kata yang sangat berbeda, mungkin satu-satunya kesamaan di antara keduanya adalah menjadi sebutan bagi tempat tinggal orang atau orang-orang yang menjalani hidupnya dengan bermati-raga. Japra Jayapati (bicara) 18 April 2017 14.33 (UTC)Balas[balas]

Kembali ke halaman "Biara (tempat tinggal)".