Pembantaian Pulau Bangka

Koordinat: 2°15′S 106°00′E / 2.250°S 106.000°E / -2.250; 106.000 Pembantaian Pulau Bangka terjadi pada tanggal 16 Februari 1942 ketika para tentara Kekaisaran Jepang menembaki 22 perawat Angkatan Darat Australia (satu selamat) dan kurang lebih 60 tentara Australia dan Britania dan awak dua kapal yang ditenggelamkan Jepang (dua selamat).[butuh rujukan]

PembantaianSunting

Pada tanggal 12 Februari 1942, kapal pesiar kerajaan Sarawak Vyner Brooke meninggalkan Singapura tepat sebelum kota itu jatuh ke tangan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Kapal tersebut mengangkut prajurit yang cedera dan 64 perawat dari 2/13th Australian General Hospital.[1] Kapal tersebut dibom oleh pesawat Jepang dan tenggelam.[1] Dua perawat tewas saat pengeboman; sembilan lainnya terakhir diketahui berada di sekoci dan tak pernah terlihat lagi; dan sisanya terdampar di Pulau Bangka, Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Para perawat berkumpul dengan tentara dan korban luka dari Vyner Brooke. Setelah diketahui bahwa pulau tersebut dikuasai Jepang, salah seorang perwira Vyner Brooke melakukan proses penyerahan diri kepada pihak berwenang di Muntok.[1] Beberapa wanit dan anak-anak mengikutinya. Para perawat diam di tempat untuk menangani korban luka. Mereka mendirikan tenda berlambang Palang Merah di atasnya.

Menjelang siang, perwira tadi kembali diiringi 20 tentara Jepang. Mereka memerintahkan seluruh prajurit terluka yang mampu berdiri untuk berjalan mengitari sebuah tanjung. Sejumlah perawat mendengar rentetan tembakan sebelum tentara Jepang kembali, duduk di depan mereka, dan membersihkan bayonet dan senjatanya masing-masing.[1] Seorang tentara Jepang memerintahkan sisanya, 22 perawat dan seorang perempuan (penumpang sipil) untuk berjalan ke tepi pantai.[1] Sebuah senjata mesin dipasang di pantai dan setelah terendam sepinggang, mereka ditembaki. Semuanya tewas kecuali Sister Lt Vivian Bullwinkel.[1] Korban luka yang masih tergeletak di tandu langsung dibayonet dan dibunuh.[butuh rujukan]

Tertembak di diafragma, Bullwinkel sedang dalam keadaan tidak sadar saat tubuhnya terdampar di pantai dan dikira sudah meninggal. Ia berhasil bertahan hidup selama 10 hari sampai akhirnya ditangkap dan dipenjara. Perang pun berakhir dan ia memberi kesaksiannya tentang pembantaian ini di pengadilan kejahatan perang di Tokyo pada tahun 1947.[2]

Catatan kakiSunting

  1. ^ a b c d e f Klemen, L (1999–2000). "The Bangka Island Massacre, February 1942". Forgotten Campaign: The Dutch East Indies Campaign 1941–1942. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-07-22. Diakses tanggal 2015-01-11. 
  2. ^ "Sister Vivian Bullwinkel's Story". Banka Island Massacre (1942). Archived from the original on 2009-03-25. 

ReferensiSunting

Bacaan lanjutanSunting

  • Jeffrey, Betty (Sydney, NSW). White Coolies. Eden Books. ISBN 0-207-16107-0. 
  • Shaw, Ian W (2010). On Radji Beach. Sydney, NSW: Pan Macmillan Australia. ISBN 978-1-4050-4024-2. OCLC 610570783. 
  • Wigmore, Lionel (1957). The Japanese Thrust - Australia in the War of 1939 – 1945. Canberra: Australian War Memorial. 

Pranala luarSunting