Buka menu utama

Operasi Starvation adalah sebuah operasi penyebaran laut Amerika yang dilakukan pada masa Perang Dunia II oleh Pasukan Tentara Udara, di rute perairan vital dan pelabuhan Jepang dengan cara menebarkannya dari udara.

Operasi Starvation
Bagian dari Perang Dunia II, Perang Pasifik
B-29 Aerial mine.jpg
Sebuah ranjau laut dijatuhkan dari a B-29
LokasiJepang
TujuanMenghancurkan kapal-kapal Jepang dengan menyebarkan ranjau ke laut.
TanggalApril 1945
Pelaksana United States
HasilKemenangan Amerika Serikat

Pada akhir Maret 1945, militer Amerika Serikat memulai operasi penebaran ranjau dari udara untuk melawan Jepang dengan nama Operasi Starvation. Meskipun operasi ini jarang sekali disorot, hasilnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Tonase perkapalan Jepang yang ditenggelamkan maupun dirusak ranjau dalam enam bulan sebelum WWII berakhir, ternyata lebih besar dari jumlah yang dicetak faktor-faktor lain termasuk pengeboman Sekutu, serangan kapal selam maupun meriam kombatan permukaan.

Operasi Starvation dilakukan oleh bomber-bomber B-29 milik XXI Bomber Command di bawah Jenderal Curtis LeMay, yang diterbangkan dari Kepulauan Mariana. Penebaran ranjau udara melawan Jepang sendiri bukanlah sesuatu yang baru. B-29 dari XX Bomber Command dan unit-unit Sekutu lain telah menebar ranjau di Outer Zone Jepang sejak bulan Februari 1943, namun Operasi Starvation yang dilakukan ke Inner Zone Jepang jauh lebih terkonsentrasi dan sukses dari usaha-usaha sebelumnya. Operasi Starvation juga mewakili pergeseran peran mine warfare dari taktis ke strategis.

Salah satu isu mayor yang dihadapi Presiden Roosevelt dan petinggi-petinggi militer AS dalam Konferensi Honolulu tahun 1944, adalah pilihan antara dua metode yang dapat dipakai untuk mengalahkan Jepang. Pertama, adalah invasi besar-besaran bergaya D-Day yang didahului blokade laut dan pengeboman udara (Operasi Downfall). Kedua, kombinasi intensifikasi pengeboman dan blokade tanpa invasi. Petinggi AD AS mendukung Operasi Downfall, namun komandan senior AL AS seperti Nimitz dan MacArthur lebih mendukung pilihan kedua karena melihat Jepang sudah dilemahkan oleh kehilangan sumber daya, hancurnya merchant shipping, dan kekalahan-kekalahan militer lainnya. Karena masih belum ada pilihan yang dibuat, AS pun mempersiapkan keduanya tanpa penekanan di salah satu pilihan.

Operasi Starvation akhirnya dicetuskan untuk membantu usaha AL AS memblokade Jepang, selain serangan langsung ke kapal-kapal musuh dan pelabuhan. Operasi Starvation memiliki tiga tujuan yaitu:

  1. mencegah masuknya bahan mentah dan makanan ke Jepang
  2. mencegah penyuplaian dan penyebaran kekuatan militer lawan
  3. mengganggu transportasi maritim internal dalam Laut pedalaman

Nama Operasi Starvation (kelaparan) muncul dari tujuan operasi ini –menghentikan pasokan pangan dan bahan mentah ke Jepang, menghentikan aktivitas industri, dan membuat populasi lawan kelaparan. Efek dari kelaparan, digabung dengan pengeboman udara diharapkan akan membuat lawan tidak memiliki niat untuk terus bertempur.

Operasi Starvation dimulai pada tanggal 27 Maret 1945, dengan berangkatnya 105 B-29 dari 313th Wing untuk menebar ranjau di Selat Shimonoseki. Selat ini dipilih menjadi titik penebaran pertama karena selat ini adalah satu-satunya jalan keluar dari Laut pedalaman Jepang di barat, dan menjadi rute ke Outer Zone Jepang yang relatif aman dari serangan kapal selam dan pesawat Sekutu. Penebaran ranjau kembali dilakukan dengan 94 pesawat pada tanggal 30 Maret. Dengan penutupan selat ini, armada Jepang tidak dapat membantu teman-teman mereka di Okinawa yang sedang menghadapi serangan AS (Operasi Iceberg). Mereka yang berada di Kure harus melewati Selat Bungo dan Selat Kii sehingga menjadi sasaran empuk armada USN, dan ini termasuk gugus tugas superbattleship Yamato. Jumlah perkapalan yang berani melewati Shimonoseki turun sebesar 25% dari angka normal.

Fase penebaran ranjau selanjutnya ditujukan untuk memblokade pusat-pusat industri. Setiap 100 pesawat diterbangkan untuk setiap misi. Yang menjadi sasaran adalah Kobe, Osaka, Tokyo, Nagoya, rute-rute perkapalan di dalam Laut pedalaman, dan peranjauan ulang Shimonoseki. Dalam fase ini, ranjau pressure-type A-6 yang tidak bisa disapu sudah tersedia dalam jumlah terbatas dan pertama kalinya dipakai. Fase ini berlangsung dari tanggal 3-12 Mei, dan total ada 1,422 ranjau yang berhasil ditebar di area target.

Fase ketiga dijalankan mulai 13 Mei hingga 6 Juni. Sasaran penebaran ranjau adalah Honshu di barat laut dan Kyushu. Pelabuhan-pelabuhan mayor di Honshu barat laut dan Kyushu diranjau, dan Shimonoseki juga diranjau ulang. Ranjau akustik frekuensi rendah yang juga tidak dapat disapu sudah mulai digunakan dalam fase ini. Total ada sebanyak 1,313 ranjau yang ditebar di area target.

Fase keempat dilancarkan dari tanggal 7 Juni sampai 8 Juli. Tujuan dari fase keempat adalah intensifikasi blokade di Honshu dan Kyushu. Target-target sebelumnya diranjau ulang, dan pelabuhan-pelabuhan sekunder serta tersier di barat laut Honshu dan Kyushu juga menjadi sasaran. Aktivitas perkapalan di pelabuhan-pelabuhan industri sudah terhenti, dan hanya berjalan di Kobe, Osaka, serta Shimonoseki. Total ada 3,542 ranjau yang ditebar di area target.

Fase terakhir pada tanggal 9 Juli sampai 15 Agustus memiliki tujuan blokade total. Jepang sudah sangat lumpuh di titik ini sehingga target-target sebelumnya sudah tidak perlu diranjau lagi. Jepang dilanda kekurangan pangan, dan usaha mereka untuk mengirim makanan secara minimum pun harus dibayar dengan kehilangan kapal dalam jumlah besar. Hanya ada 3 dari 22 galangan kapal yang dapat dipakai karena yang lainnya telah diranjau, sehingga mereka tidak dapat memperbaiki kapal-kapal mereka. Pukulan terakhir dilancarkan oleh AS dengan meranjau pelabuhan-pelabuhan di Korea dan memutus alur supply yang tersisa ke Jepang. Total ada 3,746 ranjau yang ditebar di fase terakhir ini.

B-29 yang menjalankan operasi penebaran ranjau biasanya membawa muatan seberat 5,4 hingga 5,8 ton, yang terdiri dari ranjau 500 kg dan 1,000 kg. Campurannya tergantung ranjau yang tersedia. Rombongan B-29 yang menjatuhkan ranjau menggunakan taktik yang serupa dengan pengeboman bom bakar. Mereka terbang di malam hari, dan terbang agak berjauhan sehingga sulit disasar pertahanan udara lawan. Terbang berjauhan juga mengurangi keletihan pilot, memperpanjang usia mesin dan menambah jumlah muatan yang dapat dibawa. Pengeboman memakai teknik radar bombing di ketinggian rendah (5,000-6,000 kaki), dan komputasi titik pelepasan diatur untuk menyesuaikan dengan ranjau udara yang diperlambat dengan parasut.

Admiral Nimitz menyebut hasil dari Operasi Starvation sebagai sesuatu yang fenomenal. Total terdapat 700,000 ton hingga 1,250,000 ton lainnya yang ditenggelamkan maupun dirusak. Selain banyaknya loss kapal, Jepang juga kehilangan waktu berharga saat kapal-kapalnya harus duduk diam di pelabuhan menunggu ladang ranjau yang telah ditebar, disapu terlebih dahulu. Perkapalan ke pelabuhan-pelabuhan industri turun drastis dari 800,000 ton di Maret 1945 ke 250,000 ton di bulan Juli, meskipun perubahan rute telah diusahakan oleh Jepang. Lalu lintas di laut-laut Jepang menurun drastis dan ini mengakibatkan kekurangan komoditas kunci bagi Jepang. Jepang juga tidak mampu memenuhi kebutuhan makanan warganya dengan memadai, bahkan setelah memprioritaskan pengiriman makanan di atas komoditas vital lainnya.

Pangeran Fumimaro Konoe sendiri mengatakan bahwa penenggelaman kapal-kapal Jepang dari udara dan penebaran ranjau laut oleh B-29 di pelabuhan Jepang, sama efektifnya dengan serangan B-29 ke industri Jepang di saat-saat akhir perang, ketika semua makanan dan material penting tidak dapat mencapai home island Jepang.

Kesuksesan yang luar biasa dari operasi penebaran ranjau ini sama sekali tidak diantisipasi oleh pemimpin-pemimpin militer atas. Apalagi mengingat bahwa Jepang mengandalkan transportasi laut di Laut pedalaman karena infrastruktur perkeretaan yang tidak cukup. Sampai terbukti oleh Operasi Starvation, peran mine warfare secara strategis masih dianggap remeh. Jika memang dipikirkan, operasi penebaran ranjau ofensif dalam skala besar akan dilakukan lebih awal dalam perang, dan dengan sumber daya yang lebih. Bisa jadi Joint Chief of Staff akan mempertimbangkan ulang perencanaan Operasi Downfall yang kontroversial.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

Pranala luarSunting