Nyeri bayangan

sensasi nyeri dari anggota tubuh yang tidak ada secara fisik

Nyeri bayangan adalah persepsi yang dialami seseorang yang berhubungan dengan anggota tubuh atau organ yang secara fisik bukan bagian dari tubuh. Kehilangan anggota tubuh adalah akibat dari pengangkatan dengan amputasi atau defisiensi anggota tubuh bawaan.[1] Namun, sensasi dari tungkai juga dapat terjadi setelah avulsi saraf atau cedera sumsum tulang belakang.

Nyeri bayangan
SpesialisasiNeurologi

Sensasi nyeri bayangan yang paling sering terekam adalah setelah amputasi lengan atau kaki, tetapi juga dapat terjadi setelah pengangkatan payudara, gigi, atau organ dalam. Nyeri tungkai bayangan adalah perasaan nyeri pada tungkai atau sebagian tungkai yang tidak ada. Sensasi nyeri bervariasi dari individu ke individu.

Sensasi tungkai bayangan adalah fenomena sensorik (kecuali nyeri) yang dirasakan pada tungkai yang tidak ada atau sebagian tungkai. Diketahui bahwa setidaknya 80% orang yang diamputasi mengalami sensasi bayangan di suatu waktu dalam hidup mereka. Beberapa yang lain mengalami beberapa tingkatan nyeri bayangan dan merasakan rangsangan pada anggota tubuh yang hilang selama sisa hidup mereka.

Istilah "tungkai bayangan" pertama kali diciptakan oleh ahli saraf Amerika Silas Weir Mitchell pada tahun 1871. [2] Mitchell menggambarkan bahwa "ribuan anggota tubuh roh (spirit limbs) menghantui para tentara yang baik, kini dan nanti selalu menyiksa mereka".[3] Namun, pada tahun 1551, ahli bedah militer Perancis Ambroise Paré mencatat dokumentasi pertama dari nyeri tungkai bayangan ketika ia melaporkan bahwa, "Untuk pasien, setelah sekian lama sejak amputasi dilakukan, mengatakan bahwa mereka masih merasakan nyeri di bagian yang diamputasi".[3]

Tanda dan gejalaSunting

Nyeri bayangan melibatkan sensasi nyeri di bagian tubuh yang telah diangkat.

Gejala termasuk: munculnya sensasi dalam beberapa hari pertama setelah amputasi. Datang dan pergi atau berkelanjutan. Seringkali mempengaruhi bagian tungkai yang terjauh dari tubuh, seperti ujung tungkai yang diamputasi. Dapat digambarkan sebagai nyeri tembakan, tusukan, membosankan, remasan, denyutan, atau terbakar. Terkadang terasa seolah-olah bagian bayangan dipaksa berpindah ke posisi yang tidak nyaman. Dapat dipicu oleh tekanan pada bagian anggota tubuh yang tersisa atau stres emosional.[4]

JenisSunting

Ada berbagai jenis sensasi yang mungkin dirasakan:

  • Sensasi yang berhubungan dengan postur, panjang dan volume tungkai bayangan misalnya perasaan bahwa tungkai bayangan berperilaku seperti tungkai normal seperti duduk dengan lutut ditekuk atau perasaan bahwa tungkai bayangan sama beratnya dengan tungkai lainnya. Terkadang, orang yang diamputasi akan mengalami sensasi yang disebut telescoping, perasaan bahwa tungkai bayangan secara bertahap memendek seiring waktu.
  • Sensasi gerakan (misalnya merasa bahwa kaki bayangan bergerak).
  • Sensasi sentuhan, suhu, tekanan, dan gatal. Banyak orang yang diamputasi melaporkan perasaan panas, kesemutan, gatal, dan nyeri.

PatofisiologiSunting

Dasar neurologis dan mekanisme nyeri tungkai bayangan semuanya berasal dari teori dan pengamatan eksperimental. Sedikit yang diketahui tentang mekanisme sebenarnya yang menyebabkan nyeri bayangan, dan banyak teori yang sangat tumpang tindih. Secara historis, nyeri bayangan diperkirakan berasal dari neuroma yang terletak di ujung tunggul (ujung amputasi). Neuroma traumatis, atau cedera saraf nontumor, sering kali muncul akibat pembedahan dan akibat pertumbuhan abnormal dari serabut saraf yang cedera. Meskipun neuroma tunggul berkontribusi pada nyeri bayangan, itu bukan satu-satunya penyebab sensasi nyeri bayangan. Dapat disimpulkan demikian karena pasien dengan defisiensi ekstremitas bawaan terkadang dapat, meskipun jarang, mengalami nyeri bayangan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat representasi sentral dari anggota gerak yang bertanggung jawab atas sensasi nyeri.[5] Saat ini, teori-teori nyeri bayangan didasarkan pada jalur neurologis yang diubah dan reorganisasi kortikal.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Giummarra, M. J.; Gibson, S. J.; Georgiou-Karistianis, N.; Bradshaw, J. L. (2007). "Central mechanisms in phantom limb perception: The past, present and future". Brain Research Reviews. 54 (1): 219–232. doi:10.1016/j.brainresrev.2007.01.009. PMID 17500095. 
  2. ^ Halligan, P. W. (2002). "Phantom limbs: The body in mind". Cognitive Neuropsychiatry. 7 (3): 251–269. doi:10.1080/13546800244000111. PMID 16571541. 
  3. ^ a b Bittar, R. G.; Otero, S.; Carter, H.; Aziz, T. Z. (2005). "Deep brain stimulation for phantom limb pain". Journal of Clinical Neuroscience. 12 (4): 399–404. doi:10.1016/j.jocn.2004.07.013. PMID 15925769. 
  4. ^ "Phantom Pain". Mayo Clinic. Diakses tanggal 26 September 2018. 
  5. ^ Ramachandran, V. S.; Hirstein, W. (1998). "The perception of phantom limbs. The D. O. Hebb lecture". Brain : A Journal of Neurology. 121 (9): 1603–1630. doi:10.1093/brain/121.9.1603. PMID 9762952. 

Pranala luarSunting

Klasifikasi