Buka menu utama

Muhammad Syarkawie Hassan (lahir di Samarinda, Kalimantan Timur, 3 Mei 1931 – meninggal di Jakarta, 1 Oktober 2017 pada umur 86 tahun) adalah Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PGDI) dua periode pada 1982-1985 dan 1985-1988 serta Ketua Majelis Kehormatan dan Penasihat Pengurus Besar PDGI periode 1988-2003.

Muhammad Syarkawie Hassan
Lahir(1920-08-02)2 Agustus 1920
Bendera Hindia Belanda Samarinda, Hindia Belanda
Meninggal1 Oktober 2017(2017-10-01) (umur 86)
Bendera Indonesia Jakarta
Dikenal atasDokter
Orang tuaMohammad Hassan (ayah)
Asiah (ibu)
KerabatAbdoel Moeis Hassan (kakak)

Daftar isi

Latar Belakang dan KeluargaSunting

Muhammad Syarkawie Hassan lahir di Samarinda pada 3 Mei 1931.[1] Ia adalah seorang Banjar. Ayahnya bernama Mohammad Hassan, seorang tokoh Syarikat Islam Samarinda pada masa pergerakan kebangsaan. Kakeknya dari pihak ayah bernama H. Mohammad Saleh yang berasal dari Amuntai, Kalimantan Selatan.[2] Mohammad Saleh tokoh Kampung HBS (kini Kelurahan Pasar Pagi) di Samarinda pada awal abad ke-20.[3] Sementara itu, kakek dan nenek dari pihak ibunya berasal dari Banjarmasin.[2] Muhammad Syarkawie Hassan mempunyai saudara kandung bernama Abdoel Moeis Hassan, tokoh pejuang Republiken di Kalimantan Timur.

PendidikanSunting

Muhammad Syarkawie Hassan menamatkan HIS Samarinda pada 1946, MULO Banjarmasin pada 1950, dan SMA Negeri Malang pada 1950. Ia melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya dan tamat tahun 1961. Kemudian ia menyelesaikan Bidang Orthodonti pada LKGAL Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada 1976.[1]

Tahun 1961 Muhammad Syarkawie Hassan mengikuti Latihan Kemiliteran Dasar Infranti. Kemudian tahun 1972 ia mengikuti Kursus Jabatan pada Pusdikes Kobangdiklat Angkatan Darat. Lalu, tahun 1977 ia menjadi peserta Kursus Manajemen Kesehatan Angkatan Darat dan 1979 Kursus Sistem Manajemen Pertahanan dan Keamanan. Tahun 1962-1967 ia mengikuti Wajib Militer dengan pangkat Letnan I.[4]

KiprahSunting

Saat bersekolah di HIS Samarinda, Beberapa bulan pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945, Muhammad Syarkawie Hassan bersama teman-temannya di bawah pimpinan guru kelasnya mengambil alih kepemimpinan sekolah yang dipegang seorang Belanda. Mereka menurunkan bendera Belanda lalu menggantinya dengan bendera Merah Putih.[5] Ketika bersekolah di Banjarmasin, Muhammad Syarkawie Hassan menjadi anggota Brigade Pelajar Kalimantan (1949-1950).[6]

Saat mengikuti yang Wajib Militer 1962-1967, Muhammad Syarkawie Hassan bertugas di Korem-22 Bukit Barisan merangkap sebagai dokter gigi di RSU Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Pada 1967-1972 ia ditugaskan pada RSPAD Jakarta.[6]

Pada 1972-1973 ia menjadi Komandan Sekolah Pengatur Rawat Gigi dan Sekolah Pengatur Tekniker Gigi Ditkesad. Selanjutnya, ia menjabat Kepala Lembaga Kesehatan Gigi dan Mulut Dirkesad selama tujuh tahun sejak 1977-1984. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Pembinaan Kesehatan Gigi dan Mulut Ditkesad tahun 1984 hingga pensiun dengan pangkat Kolonel.[6]

Muhammad Syarkawie Hassan aktif dalam organisasi profesi dokter gigi, yakni Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). Awalnya ia menjadi anggota PDGI tahun 1968. lalu, pada 1980 ia terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Pengurus Besar PDGI. Dua tahun berselang, ia menjadi Ketua Umum PB PDGI hingga tahun 1985. Ia terpilih kembali sebagai Ketua Umum untuk periode 1985-1988. Selanjutnya, sejak 1988 hingga 2003 ia menjabat Ketua Majelis Kehormatan dan Penasihat PB PDGI.[6]

Tanda PenghargaanSunting

Muhammad Syarkawie Hassan memperoleh tanda jasa dan peghargaan yaitu Satya Lencana Dwiya Sistha, Satya Lencana Kesetiaan VIII Tahun, XIV Tahun, dan XVII Tahun. Ia juga mendapatkan penghargaan sebagai Ketua Umum PB PDGI yang berhasil dalam Perjuangan Pendidikan Spesialisasi Ilmu Kedokteran Gigi.[6]

ReferensiSunting

Catatan kaki
  1. ^ a b Hassan 2004, hlm. 359.
  2. ^ a b Hassan 1994, hlm. 191.
  3. ^ Hamdani 2005, hlm. 36.
  4. ^ Hassan 2004, hlm. 359-360.
  5. ^ Katianda 2012, hlm. 22.
  6. ^ a b c d e Hassan 2004, hlm. 360.
Daftar Pustaka
  • Hamdani, Hamdani & Untoro Raja Bulan (2005). Kampoeng HBS Kampung Pejuang dan Saudagar. Samarinda: Pemerintah Kota Samarinda. ISBN 97997940-3-X. 
  • Hassan, A. Moeis (1994). Ikut Mengukir Sejarah. Jakarta: Yayasan Bina Ruhui Rahayu. 
  • Hassan, A. Moeis (2004). Kalimantan Timur: Apa, Siapa dan Bagaimana. Jakarta: Yayasan Bina Ruhui Rahayu. ISBN 979-9222-88-5. 
  • Katianda, Gozali (2012). Anak Kampung yang Keliling Dunia. Jakarta: Kakilangit Kencana. ISBN 978-602-8556-32-3.