Buka menu utama

Muhammad II (juga dikenal dengan julukan al-Faqih, "pakar hukum", kelahiran kr. 1235, memerintah 1273–1302 sampai kematiannya) adalah sultan kedua Granada di Al-Andalus, Semenanjung Iberia, dari dinasti Banu Nashri, penerus ayahnya Muhammad I. Saat naik takhta, ia sudah berpengalaman dalam urusan negara, dan ia meneruskan kebijakan ayahnya mempertahankan kemerdekaan Granada menghadapi negara-negara tetangga yang lebih besar, yaitu Kerajaan Kristen Kastilia serta Kesultanan Mariniyah. Ia juga menghadapi pemberontakan dari Banu Asyqilula yang dulunya merupakan sekutu Banu Nashri.

Muhammad II
Sultan Granada
BerkuasaJanuari 1273 – April 1302
PendahuluMuhammad I
PenerusMuhammad III
Lahirs. 1235
WafatApril 1302
Granada
WangsaDinasti Nasrid
AyahMuhammad I
AnakMuhammad III; lain-lain
AgamaIslam

Setelah naik tahta, ia membuat perjanjian damai dengan Alfonso X dari Kastilia; Kastilia setuju untuk mengakhiri dukungan untuk Banu Asyqilula dan sebagai gantinya menerima pembayaran dari Granada. Saat Kastilia menerima pembayaran ini tetapi malah tetap mendukung Banu Asyqilula, Muhammad meminta bantuan dari Sultan Mariniyah Abu Yusuf untuk melawan Kastilia. Mariniyah mengirim pasukan yang berhasil mengalahkan Kastilia, tetapi hubungan kedua sultan ini memburuk saat kubu Mariniyah memperlakukan Banu Asyqilula setara dengan Muhammad. Pada 1279, melalui manuver diplomatik, Muhammad meraih kembali Málaga, yang sebelumnya adalah pusat kekuasaan Banu Asyqilula. Pada 1280, keadaan diplomasi Granada memburuk dan kesultanan tersebut menghadapi serangan serentak dari Kastilia, Mariniyah dan Banu Ashqilula. Muhammad menanggapinya dengan memanfaatkan perpecahan antara Alfonso dan putranya Sancho, dan menerima bantuan dari Ghuzat al-Mujahidin, bala tentara sukarelawan yang direkrut dari Afrika Utara. Ancaman terhadap Granada menyurut saat Alfonso meninggal pada 1284 dan Abu Yusuf pada 1286. Para penerus mereka (yaitu Sancho dan Abu Yaqub) lebih mengurusi persoalan-persoalan dalam negeri mereka sendiri. Pada 1288, Banu Asyqilula berimigrasi ke Afrika Utara atas bujukan Abu Yaqub, mengakhiri ancaman terbesar terhadap Muhammad dari dalam negeri.

Pada 1292, Granada membantu Kastilia merebut Tarifa dari Mariniyah, namun Sancho (sekarang Sancho IV) mengingkari janjinya bahwa ia akan menyerahkan kota tersebut ke tangan Granada. Muhammad II kemudian beralih lagi ke kubu Mariniyah, tetapi pada 1294 Granada dan Mariniyah gagal merebut Tarifa. Pada 1295, Sancho meninggal dan digantikan oleh Ferdinand IV, yang masih berumur belia. Granada memanfaatkanya dan melakukan aksi militer sukses terhadap Kastilia dan berhasil merebut Quesada dan Alcaudete. Muhammad juga merencanakan serangan bersama dengan Aragon melawan Kastilia, namun ia meninggal pada 1302 sebelum aksi militer ini dimulai.

Kehidupan awalSunting

Muhammad lahir pada tahun 633 Hijriyah (1235 atau 1236 Masehi) dari klan Nasrid, yang berasal dari kota Arjona, saat itu di Al-Andalus, Semenanjung Iberia.[1] Menurut sejarawan dan waliraja Granada Ibnu al-Khatib, klan tersebut—yang juga dikenal sebagai Banu Nasr atau Banu al-Ahmar—merupakan keturunan dari Sa'd bin Ubadah, seorang sahabat Nabi, dari Banu Khazraj di Arabia; para keturunan Sa'd bermigrasi ke Spanyol dan menetap di Arjona sebagai petani.[2] Ia memiliki seitdaknya dua kakak, Faraj (l. 628 H/1230 atau 1231 M) dan Yusuf,[3] dan dua saudari bernama Mu'mina dan Sham.[4] Pada 1232, ayahnya Muhammad I menyatakan kemerdekaan dari kota tersebut, dan kemudian berkembang menjadi negara independen di selatan Spanyol, yang terpusat di Granada setelah kekalahan Arjona pada 1244.[5] Keamiran Granada menjadi negara Muslim independen terakhir di semenanjung Iberia.[5] Pada 1257, setelah kematian Faraj, Muhammad I mendeklarasikan putra-putranya Muhammad dan Yusuf sebagai para pewaris barunya.[6] Pada Agustus tahun yang sama, Muhammad muda dikaruniai putra sulung, kelak Muhammad III.[7] Setelah itu, ia dikaruniai putra lainnya, Nasr, dan seorang putri Fatima.[8] Fatima kelak menikahi sepupu ayahnya Abu Said Faraj, dan para keturunan mereka kelak menjadi penguasa Granada menggantikan garis laki-laki langsung setelah penggulingan Nasr pada 1314.[8] Sebagai pewaris, kelak Muhammad II terlibat dalam urusan-urusan kenegaraan, termasuk perang dan diplomasi.[9] Ia sempat menjabat sebagai wali raja pada masa pemerintahan ayahnya.[10] Ia menadi pewaris tunggal setelah kematian Yusuf, yang tak meninggalkan keturunan, pada masa hidup ayah mereka.[11] Pada masa kematian ayahnya pada 1273, Muhammad II berusia 38 tahun dan telah menjadi seorang negarawan berpengalaman.[9]

Masa pemerintahan: 1273–1302Sunting

Latar belakangSunting

 
Peta Keamiran Granada Nasrid. Garis-garis depan berubah sepanjang waktu dan peta ini mungkin tak mewakili kawasan yang dikuasai pada masa pemerintahan Muhammad II. Hijau/Hijau muda: Granada.
 
Granada (perbatasan coklat dengan selatan Iberia) dan negara-negara tetangganya pada 1360 (perbatasan dapat saja sangat berbeda dengan perbatasan pada masa pemerintahan Muhammad II).

Granada diapit dua negara yang lebih besar: kerajaan Kristen Kastilia di utara dan negara Muslim Mariniyah yang terpusat di selatan Maroko modern. Kastilia berusaha untuk membendung Granada dengan cara mencegahnya melakukan serangan dan memastikannya tetap membayar upeti.[12] Upeti yang dibayarkan berjumlah 300.000 maravedí (sekitar separuh pendapatan Granada) dan merupakan sumber pemasukan penting bagi Kastilia, meskipun Granada seringkali menunda pembayaran.[13][14] Di sisi lain, seperti halnya para pendahulunya Almohad dan Almoravid, Mariniyah memberikan perlindungan kaum Muslim di semenanjung Iberia, serta ikut serta dalam jihad melawan ekspansi Kristen disana yang disebut sebagai "Reconquista" sebagai tugas mereka sebagai kaum Muslim dan sebagai cara untuk meningkatkan legitimasi mereka.[15][16] Pada masa pemerintahan Muhammad II, tujuan utama Granada adalah untuk menyatakan kemerdekaan dari dua kekuatan tersebut, menghimpun keseimbangan kekuatan, menghindari aliansi di antara mereka, dan menguasai kota-kota di garis depan Kastilia serta pelabuhan-pelabuhan di Selat Gibraltar, seperti Algeciras, Tarifa, dan Gibraltar.[12][17] Perebutan atas kekuasaan pelabuhan-pelabuhan penting tersebut, yang mengkontrol perlintasan dari dan menuju Afrika Utara,[18] yang berlangsung sampai pertengahan abad ke-14, dalam sebuah peristiwa yang disebut sebagai "Pertempuran Selat" (Batalla del Estrecho) oleh para sejarawan modern.[16]

Selain dua kekuatan asing tersebut, Granada juga berhadapan dengan Banu Ashqilula, klan Arjona lain yang awalnya bersekutu dengan Nasrid, dan memiliki kekuatan militer yang membantu pendirian kerajaan tersebut. Mereka memberontak melawan Muhammad I sejak setidaknya 1266, dan meraih bantuan dari Kastilia, saat itu berada di bawah kekuasaan Alfonso X, yang ingin mempertahankan kekuasaannya di Granada. Alfonso mengirim pasukan yang berada di bawah kepemimpinan Nuño González de Lara untuk membantu Banu Ashqilula, namun kalangan bangsawan Kastilia berbeda pendapat dengan Alfonso;[19] Nuño González mengakhiri pemberontakan melawan rajanya, dan disambut oleh Muhammad I.[17] Pada permulaan masa pemerintahan Muhammad II, wilayah kekuasaan Banu Ashqilula meliputi Málaga (kota terbesar kedua di keamiran tersebut setelah Granada dan pelabuhan penting di Laut Tengah) serta Guadix.[20][21]

Kenaikan takhta dan negosiasi dengan Alfonso XSunting

Pada 22 Januari 1273, Muhammad I jatuh dari kuda dan meninggal dunia akibat cederanya. Muhammad muda naik tahta sebagai Muhammad II. Karena ia merupakan pewaris tahta, transisi kekuasaan berjalan mulus. Tugas pertamanya adalah menghadapi pemberontakan Banu Ashqilula dan para pemberontak Kastilia yang bersekutu dengan ayahnya dan disambut di wilayah Granada. Hubungan dengan para pemberontak Kastilia, yang dipimpin oleh Nuño González dan berguna dalam mengecek Kastilia dan Banu Ashqilula, merenggang saat kedua belah pihak menyoroti hilangnya dukungan satu sama lain setelah sukses. Alfonso juga berniat berrekonsiliasi dengan beberapa pemberontak.[17]

Muhammad II kemudian mengadakan negosiasi Alfonso—jika ia dapat mengamankan aliansi Kastilia, ia tak akan perlu khawatir saat kehilangan dukungan dari para pemberontak.[17] Pada akhir 1273, ia dan beberapa pemimpin pemberontak mengunjungi Alfonso di istananya yang terletak di Sevilla, dimana mereka disambut dengan hormat. Alfonso sepakat dengan tawaran-tawaran Granada untuk mengakhiri dukungannya untuk Banu Ashqilula dan membalasnya dengan menjadikan Muhammad sebagai vasal Alfonso, membayar 300.000 maravedí setiap tahun sebagai upeti dan mengakhiri kerjasamanya dengan para pemberontak. Namun, saat pembayaran dilakukan, Alfonso menarik tawarannya, mempertahankan dukungannya untuk Banu Ashqilula dan meminta Muhammad untuk gencatan senjata.[22][23]

Ekspedisi Mariniyah terhadap KastiliaSunting

 
Pelabuhan-pelabuhan penting di Selat Gibraltar, yang mengkontrol perlintasan antara Afrika Utara dan Semenanjung Iberia. Kontrol politik pada tahun 1292: Kastilia (merah), Granada (ungu), dan Mariniyah (hijau)

Tertekan oleh Alfonso, Muhammad meminta dukungan dari Mariniyah, pimpinan Abu Yusuf Yaqub.[24] Saat Alfonso pergi untuk bertemu Paus Gregorius X, meninggalkan kerajaannya di bawah pewaris dan wali rajanya Ferdinand de la Cerda,[25] Muhammad mengirim para utusan ke pihak Mariniyah.[24] Sejak 1245, Abu Yusuf menunjukkan minat untuk bertarung melawan Kristen di Spanyol. Meraih kekuasaan atas bekas ibukota Almohad, Marrakech dan sebagian besar Maroko, ia memiliki kekuatan dan kesempatan untuk melakukannya.[20] Pada April 1275, Abu Yusuf mengerahkan 5.000 pasukan kavaleri di bawah komando putranya, Abu Zayyan Mandil.[24][26] Tiga bulan kemudian, Abu Zayyan melintasi Selat Gibraltar, mendarat di Tarifa dan merebut kota tersebut.[24] Kemudian, gubernur Algeciras bergerak dari Granada dan menyerahkan kotanya kepada Abu Zayyan.[26] Pangeran Mariniyah tersebut mendirikan sebuah pelabuhan antara Tarifa dan Algeciras, dan mulai menyerbu wilayah Kastilia sampai Jerez.[24] Setelah pendaratan, Muhammad II menyerang Banu Ashqilula di Málaga pada Juni 1275, namun kemudian ia dipukul mundur.[26] Ferdinand de la Cerda berpawai untuk menghadapi pasukan Muslim. Namun, ia menjemput ajal pada 25 Juli 1275 di Villareal, meninggalkan Kastilia dalam kepemimpinan yang tak pasti.[20]

Dengan pendirian pelabuhan tersebut dan wilayah Kastilia terkikis, Abu Yusuf mengirim lebih banyak pasukan, termasuk pengawalnya sendiri, menteri, perwira dan rohaniwan Afrika Utara. Abu Yusuf sendiri melintasi Spanyol pada 17 Agustus 1275. Ia kemudian bertemu Muhammad dan pemimpin Banu Ashqilula, Abu Muhammad, yang menggabungkan sultan tersebut dengan pasukan mereka. Mariniyah memperlakukan Nasrid dan Banu Ashqilula sebagai mitra setara, dan Muhammad memandangnya setara dengan pasukan pemberontaknya, meninggalkan pasukan setelah tiga hari, meskipun pasukannya bertahan.[27] Pada September 1275, pasukan tersebut memenangkan kemenangan besar melawan Kastilia dalam Pertempuran Ecija. Nuño González, yang sekarang memihak Kastilia, ikut terbunuh. Menurut hikayat-hikayat Mariniyah, Banu Ashqilula ikut andil dalam sebagian besar kemenangan tersebut dan para pemimpin mereka hadir, meskipun pasukan Granada berkontribusi sedikit, dengan Muhammad sendiri tetap berada di Granada.[28]

Abu Zayyan merayakan kemenangan tersebut di Algeciras dan mengirim kepala Nuño González ke Granada.[29] Hal tersebut mungkin dikecam Muhammad, yang membenci jenis kekejaman tersebut dan menghormati atau bahkan berteman dengan bekas sekutunya. Ia membalsem kepala tersebut memakai wewangian dan kapur barus dan mengirimnya ke Kastilia untuk disemayamkan dengan jasadnya.[30] Sumber-sumber Mariniyah menggambarkannya sebagai upaya dari Muhammad untuk "menjalin pertemanan [dengan Alfonso]".[29][31] Pada masa itu, Mariniyah menjadi makin bersahabat dengan Banu Ashqilula dan kurang simpatik terhadap Muhammad.[29]

 
Petikan sebuah puisi karya sekretaris Muhammad II untuk Sultan Mariniyah Abu Yusuf, mengisahkan bantuan berkelanjutannya di Al-Andalus.[32][33][34]

Setelah kalah dalah pertempuran angkatan laut di lepas Tarifa, Abu Yusuf, yang takut putus hubungan dengan Maroko, memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Abu Yusuf, Muhammad dan Kastilia menyepakati gencatan senjata selama dua tahun pada akhir Desember 1275 atau awal Januari 1276.[35] Sebelum Abu Yusuf hengkang, sekretaris Muhammad, Abu Umar bin Murabit[36] menulis sebuah puisi yang mengekspresikan kekhawatiran kekuatan Kastilia dan harapan untuk bantuan berkelanjutan Mariniyah.[32][36] Abu Yusuf meninggalkan Spanyol dan mendarat di Ksar es-Seghir pada 19 Januari.[37]

Abu Yusuf dan Mariniyah kembali ke Spanyol pada Juni 1277. Awalnya, mereka bergabung dengan Banu Ashqilula dan berkampanye tanpa Muhammad dan pasukan Nasrid. Mariniyah mengalahkan pasukan Kastilia di luar Sevilla pada 2 Agustus dan merebut beberapa kastil di sepanjang sungai Guadalquivir sebelum menarik diri ke Algeciras pada 29 Agustus.[38] Abu Yusuf kembali berpawai pada 30 Oktober, kali ini bergabung dengan Muhammad di dekat Archidona. Mereka merebut kastil Benamejí, yang mengelilingi Córdoba dan mempilari kota-kota di sekitarnya. Baik Alfonso maupun kota-kota yang terdampak perang tersebut menuntut perdamaian, yang diterima oleh Muhammad dan Abu Yusuf. Abu Yusuf menarik diri ke Algeciras pada 28 November, menyatakan gencatan senjata pada 24 Februari 1278, dan kembali ke Maroko pada bulan Mei. Meskipun Mariniyah memenangkan kemenangan medan tempur dan pasukan Muslm merangsek ke berbagai kota, mereka gagl merebut pemukiman besar manapun atau secara permanen menganeksasi wilayah-wilayah Kristen.[39] Di sisi lain, pelabuhan-pelabuhan Tarifa dan Algeciras di Selatan, masih menjadi pos-pos luar Mariniyah di semenanjung tersebut.[37]

Pergerakan diplomatik sampai 1280Sunting

Pada ekspedisi kedua Abu Yusuf, Banu Ashqilula menyerahkan Málaga, pusat kekuatan mereka, kepada sekutu baru mereka.[29] Keputusan tersebut dimotivasi oleh kekhawatiran bahwa mereka tak dapat mempertahankannya melawan Granada.[40] Mariniyah mendudukinya pada pertengahan Februari 1278.[40] Abu Yusuf mengangkat pamannya, Umar bin Yahya, menjadi gubernur.[21][23] Muhammad memperingatkan gangguan Mariniyah tersebut di wilayahnya, mengingatkan tindakan Almoraviyah dan Almohad, dua dinasti Muslim Afrika Utara sebelumnya yang menganeksasi Al-Andalus setelah awalnya campur tangan melawan Kristen. Ia mendorong Yaghmurasen dari Tlemcen untuk menyerang Mariniyah di Afrika Utara, dan Kastilia untuk menyerang pangkalan Spanyol Mariniyah di Algeciras.[21] Kalah kuat dan diserang di berbagai sisi, Abu Yusuf menarik diri dari Málaga dan menyerahkan kota tersebut kepada Muhammad pada 31 Januari 1279.[41][21] Granada juga diduga menyuap Umar bin Yahya dengan memberikannya kastil Salobreña dan lima puluh ribu dinar emas.[21] Muhammad mengangkat sepupu dan penasehat dekatnya Abu Said Faraj sebagai gubernur.[42] Dengan Málaga di tangannya, Muhammad kemudian membantu Mariniyah mempertahankan Algeciras, mungkin merasa khawatir soal penderitaan dari para Muslim yang dikepung du kota tersebut. Pasukan gabungan Mariniyah–Granada mempertahankan para pengepung Kastilia pada tahun 1279. Sumber-sumber Kastilia pada masa itu tak menyebut keterlibatan Granada dan menganggap mereka dikalahkan sendiri oleh Mariniyah.[43]

Perang pada dua frontSunting

Mariniyah dan Kastilia murka atas pergerakan yang diambil Málaga dan pencegahan Kastilia dari perebutan Algeciras. Keduanya, beserta Banu Ashqilula, menyerang Muhammad pada 1280.[44] Mariniyah dan Banu Ashqilula bergerak menuju Málaga, gagal menyerang wilayah Marbella di selatan.[44][45] Kastilia diserang dari utara, dipimpin oleh Infante (Pangeran) Sancho (kemudian Sancho IV), putra Alfonso, yang diperiksa oleh para Sukarelawan Iman Afrika Utara pimpinan Ibnu Muhalli dan Tashufin ibn Mu'ti.[44] Para sukarelawan tersebut adalah bagian dari militer Granada terdiri dari para prajurit asal Afrika Utara, kebanyakan orang yang diasingkan secara politik yang bermigrasi dengan keluarga dan suku mereka.[46] Mereka masih mempertahankan Granada melawan Kastilia meskipun Granada juga berperang dengan negara Mariniyah dimana mereka berasal.[44] Pada 23 Juni, pasukan Granada mengadapi pasukan besar Kastilia di Moclín.[45] Pada Juni 1281, Kastilia menyerang balik, dipimpin oleh Alfonso sendiri dan ditemani oleh Infante Sancho, Petrus dan Yohanes.[47] Mereka mengalahkan Muhammmad dalam pertempuran di dekat tembok Granada pada 25 Juni, namun setelah kegagalan negosiasi yang menyusul, pasukan Kastilia meninggalkan Granada.[47]

Pada akhir 1281, Alfonso mengirim Sancho ke Granada untuk negosiasi lebih lanjut dan Muhammad sepakat untuk memperbaharui status vassalnya untuk Kastilia. Namun Alfonso menuduh Sandho telah berkhianat dan menyelewengkan upeti Muhammad. Pergesekan terjadi antar raja dan putrinya, yang menimbulkan ancaman Kastilia terhadap Granada.[48] Alfonso mengakhirinya dengan meminta bantuan Abu Yusuf untuk melawan Sancho, dan kedua penguasa tersebut berkampanye bersama melawan para partisan Sancho di Kastilia.[49] Sementara itu, Muhammad menyegel sebuah aliansi dengan Sancho di Priego pada akhir 1282.[50] Pada akhir 1283, Abu Yusuf menyerang Málaga, memaksa Muhammad untuk berdamai. Diperantarai oleh putra Abu Yusuf, Abu Yaqub Yusuf, mereka sepakat untuk berrekonsiliasi dan bersama-sama menyerang umat Kristen.[51]

Alfonso wafat pada 1284, dan digantikan oleh Sancho. Sancho berteman dengan Granada dan memukul mundur pasuka Kastilia, sementara Muhammad mendeklarasikan status vassalnya terhadapnya.[52][53] Pada 1286, Abu Yusuf menjemput ajal dan digantikan oleh putranya Abu Yaqub. Pada permulaan masa pemerintahannya, Abu Yaqub lebih mengurusi urusan dalam negeri, dan sehingga menarik pasukannya dari kampanye Iberia. Pada 1288, Abu Yaqub menawarkan sebuah wilayah di Afrika Utara kepada Banu Ashqilula. Klan tersebut menerima tawaran tersebut dan berimigrasi massal dari wilayah Granada.[23][53]

Kampanye-kampanye TarifaSunting

 
Muhammad II membantu Sancho IV merebut Tarifa dari Mariniyah, namun raja Kastilia kemudian menolak untuk menyerahkan kota tersebut kepada Muhammad sesuai janji.
Gambar: Sebuah patung yang mengenang perebutan Tarifa oleh Sancho.

Mariniyah mendirikan pos-pos di Iberia, termasuk Tarifa, sebuah kota pelabuhan penting di Selat Gibraltar. Pada 1290, Muhammad menjalin perjanjian dengan Sancho dan penguasa Tlemcen. Kastilia akan menyerang Tarifa, Granada akan menyerang wilayah-wilayah Mariniyah lainnya, dan Tlemcen akan bertikai secara terbuka melawan Mariniyah di Afrika Utara.[54] Berdasarkan perjanjian, Kastilia kemudian akan menyerahkan Tarifa ke Granada sebagai pertukaran dengan enam benteng perbatasan.[53] Pada November dan Desember 1291, Yakobus II dari Aragon bertemu Sancho dan bersepakat untuk bergabung dalam perang melawan Mariniyah.[55] Pada Oktober 1292, dengan bantuan dari angkatan laut Aragon dan disuplai oleh Granada, Kastilia memutuskan untuk merebut Tarifa.[56] Kastilia juga merebut enam benteng perbatasan dari Granada sesuai yang disepakati, namun menolak untuk menyerahkan Tarifa bahkan setelah uhammad bertemu Sancho di Córdoba pada bulan Desember.[57][58] Merasa dikhianati, Granada kemudian berbalik memihak Mariniyah. Muhammad datang ke Afrika Utara dan bertemu Abu Ya'qub di Tangier pada 24 Oktober, memberikan banyak hadiah dan menyatakan persahabatan dan pengampunannya. Kedua penguasa tersebut sepakat untuk beraliansi melawan Kastilia.[59] Pada 1294, Mariniyah dan Granada gagal mengepung Tarifa. Setelah itu, kota tersebut tak pernah lagi jatuh ke tangan Muslim. Setelah kegagalan tersebut, Mariniyah memutuskan untuk menarik diri ke Afrika Utara. Granada merebut kembali bekas pos-posnya, termasuk Algeciras dan Ronda, setelah beberapa pemberontakan lokal.[57][58]

Tahun-tahun terakhir dan kematianSunting

 
Quesada, direbut oleh Muhammad pada 1295 dan salah satu cangkupan wilayah Granada pada masa pemerintahannya.

Pada 1295, Sancho wafat dan digantikan oleh putranya yang berusia sembilan tahun Ferdinand IV.[60] Karena usianya masih belia, Kastilia diurus oleh sebuah perwalian raja pimpinan pamannya, Infante Henry.[60][61] Sepupunya, Alfonso de la Cerda berniat ingin merebut takhta tersebut, didukung oleh Yakobus dari Aragon.[62] Muhammad memanfaatkan keadaan tersebut untuk menyerang Kastilia. Pada akhir 1295, ia merebut Quesada dan menghadapi tentara Kastilia dalam Pertempuran Iznalloz.[62] Ferdinand juga diserang oleh Aragon, Denis dari Portugal, dan pamannya, Infante Yohanes.[62] Pada 1296, Granada dan Aragon menjalin persahabatan dan sepakat untuk membagi tujuan-tujuan mereka: Murcia akan diserahkan kepada Aragon dan Andalusia kepada Granada.[61][62] Pada Juni 1296, Infante Henry menawarkan perdamaian dengan Muhammad, menyerahkan Tarifa, namun batal saat panglima kota tersebut, Alfonso Pérez de Guzmán, menyatakan bahwa ia tak sudi menyerahkannya bahkan meskipun diperintahkan.[63][64] Pada tahun berikutnya, pasukan Granada mengalahkan Infante Henry di dekat Arjona dan nyaris menangkapnya.[65] Kuda Henry direbut, namun Muhammad memerintahkan agar kuda tersebut dikembalikan atas dasar jiwa kekesatriaan.[66]

Mariniyah ikut perang tersebut untuk mendukung Granada dan mengalahkan Kastilia dalam sebuah pertempuran besar di dekat Sevilla pada Mei atau Juni 1299. Mereka kemudian mengepung Tarifa.[67] Kastilia memberikan tawaran baru kepada Tarifa dalam pertukaran untuk sebuah aliansi dengan Granada, namun kembali terhambat akibat penolakan Alfonso Pérez.[67] Perang tersebut berlanjut dan Muhammad merebut benteng-benteng perbatasan lainnya, termasuk Alcaudete pada Juni 1299, dan menyerbu kota-kota Kastilia yang meliputi Jaén dan Andújar.[64] Pada April 1301, Muhammad dan Yakobus memperbaharui aliansi mereka, meskipun Yakobus diam-diam mengirim suplai kepada umat Kristen yang terkepung di Tarifa.[68] Pada 6 September, Paus Bonifasius VIII menyatakan Ferdinand sebagai raja sah atas Kastilia, memberikan penyelesaian dan pengesahan dari musuh-musuh Kristennya.[68] Pada September 1301, Granada dan Aragon memperbaharui aliansi mereka di Zaragoza. Mereka merencanakan serangan baru melawan Kastilia dan menyekutukan tujuan-tujuan perang mereka. Pihak lain memaklumkan Granada untuk merebut kembali Tarifa dan merangseki beberapa kota garis depan.[64][69][70] Perjanjian tersebut diratifikasi pada Januari 1302, dan kemudian Alfonso de la Cerda juga ikut aliansi tersebut dan mengakui kembali hak Muhammad atas Tarifa.[70] Namun, sebelum kampanye tersebut dimulai, Muhammad II menjemput ajal pada 8 April 1302 (8 Syakban 701 Hijriyah).[64][69] Ia digantikan oleh putranya, Muhammad III. Terdapat dugaan bahwa Muhammad III mungkin sengaja merebut kekuasaan dengan meracuni ayahnya meskipun pernyataan tersebut tak pernah terkonfirmasi.[71][72][73]

Pemerintahan dan peninggalanSunting

 
Sebuah mercusuar zaman Nasrid di Huéscar. Muhammad II membangun barisan benteng di garis depan keamiran.

Muhammad membangun negara yang baru lahir bentukan ayahnya, dan tetap mempertahankan kemerdekaan kerajaannya dengan bersekutu dengan kekuatan lain, khususnya Kastilia dan Mariniyah, dan terkadang mendorong mereka untuk bertarung satu sama lain.[12][74] Sebuah esensi identitas juga timbul di kerajaan tersebut, disatukan lewat agama (Islam), bahasa (Arab) dan kesadaran akan ancaman terkini pada keselamatannya dari tetangga-tetangga Kristen pemakai rumpun bahasa Romansa. Sejarawan Ibnu Khaldun menyatakan bahwa ikatan tersebut dijadikan sebagai pengganti dari asabiyyah atau solidaritas suku, yang dianggap oleh Ibnu Khaldun bersifat mutlak untuk kebangkitan dan kejatuhan negara.[75]

Muhammad II adalah penghimpun sebenarnya dari negara Nasrid dengan reformasi-reformasinya dalam administrasi dan ketentaraan.[76] Kegiatan legislatif menonjolnya meliputi pembuatan protokol kerajaan Nasrid (rusūm al-mulk),[77] dan kanseri istana (al-kitāba), dimana kepala figur pemerintahannya adalah kelak wali raja Abu Abdallah bin al-Hakim.[78] Masa pemerintahannya juga diwarnai ekspansi dan institusionalisasi Sukarelawan Iman (juga disebut ghazi dalam bahasa Arab): para prajurit yang direkrut dari Afrika Utara untuk mempertahankan Granada dari Kristen. Beberapa diantaranya adalah anggota suku atau keluarga yang diasingkan dari negara Mariniyah.[46] Beberapa diantara mereka menetap di kota Granada, menghimpun kawasan Zenete (diambil dari nama suku Berber Zenata),[46] dan beberapa di kawasan barat kerajaan tersebut, seperti Ronda dan kawasan sekitar.[61] Mereka menerima bayaran dari negara, namun seringkali berkonflik dengan warna lokal di kawasan yang mereka tinggali. Pada awal 1280an, saat Granada brkonflik dengan Mariniyah, para Sukarelawan tersebut masih loyal dan mempertahankan Granada melawan Kastilia, saat wilayah tersebut diserang pada saat yang sama.[44] Sepanjang waktu, para Sukarelawan tersebut menjadi pasukan militer paling penting dari Granada, berjumlah 10.000 pada akhir masa pemerintahan Muhammad dan melampaui pasukan rekrutan lokal Granada. Pemimpin mereka, shaikh al-ghuzat, memegang posisi penting dalam politik Granada.[79] Orang-orang berbeda disebut sebagai shaikh oleh Muhammad pada titik-titik berbeda masa pemerintahannya, termasuk Ali bin Abi Iyad bin Abd al-Haqq, Tasfin bin Mu'ti, Musa bin Rahhu, Abd al-Haqq ibn Rahhu, dan Ibrahim bin Yahya.[80]

 
Muhammad II menambahkan Torre de las Damas (gambar) dan Torre de los Picos di Alhambra.

Secara teritorial, Muhammad mengkonsolidasikan kerajaannya dan meraih beberapa kekuatan di Kerajaan Jaén, termasuk Quesada dan Alcaudete.[68] Ia kehilangan Tarifa dari Kastilia. Sejak itu, kota tersebut tak pernah lagi berada di tangan Muslim.[58] Ancaman dalam negeri dari Banu Ashqilula disingkirkan, dan Muhammad tak hanya dipandang berhasil memadamkan serangan-serangan Mariniyah berulang, namun juga merebut kekuasaan-kekuasaan mereka di Al-Andalus.[74][81] Muhammad menghimpun proyek perbentengan skala besar untuk pertahanan kerajaan, membangun serangkaian kekuatan yang disuplai baik dan berposisi strategis dari barat sampai timur, yang membentuk tulang punggung pertahanan garis depan Granada selama berabad-abad.[82][83][84] Perbentengan tersebut juga menguatkan kontrol kerajaan karena perbentengan tersebut dikontrol oleh para gubernur militer (qa'id) yang dipilih dan dirotasi oleh istana alih-alih diperintah oleh para penguasa herediter.[85] Perbentengan tersebut seringkali terletak di pegunungan atau kawasan lain yang sulit dicapai, dan hanya dapat direbut atau dirangseki oleh alat perang pengepungan mahal.[86]

Muhammad meningkatkan pengaruh waliraja di negara Nasrid. Ia hanya memiliki satu wali raja sepanjang masa pemerintahannya yang lama, Abu Sultan Aziz bin Ali bin al-Mun'im al-Dani, yang menjadi sekutu kepercayaannya. Ia juga menjabat sebagai utusan Muhammad untuk Mariniyah, mengkomandani beberapa operasi militer, dan sama-sama menandatangani banyak dokumen kerajaan.[87] Muhammad juga meluaskan istana dan kompleks benteng Alhambra yang dimulai oleh ayahnya, membangun apa yang sekarang dikenal sebagai Torre de las Damas dan Torre de los Picos.[88]

Dalam urusan luar negeri, Muhammad mendorong peningkatan dagang dengan Kristen Eropa, khususnya para pedagang Italia dari Genoa dan Pisa.[89] Pada 18 April 1279, Muhammad membuat sebuah traktat dengan utusan Genoa, memberikan hak untuk mengekspor barang-barnag Granada kepada republik tersebut dengan potongan bayaran 6.5% dan membangun faktori dagang di keamiran tersebut, sebagai pertukaran untuk menyuplai kapal-kapal ke Granada saat konflik melawan kekuatan Muslim lain yang tak bersekutu dengan Genoa.[90]

Muhammad II dikenal dengan sebutan al-Faqih, yang artinya "pakar hukum", namun juga dapat berarti "orang Bijak", dan tak hanya merefleksikan pendidikan tingginya, namun juga karena ia dikelilingi oleh para cendekiawan dan penyair. Seperti tokoh sezamannya, Raja Alfonso X dari Kastilia, Muhammad menulis puisi dan mengedepankan kehiatan budaya signifikan di istananya, bersaing dengan Alfonso dalam hal memukau orang pintar.[76] Sejarawan Spanyol Ana Isabel Carrasco Manchado menyatakan, "al-Faqih adalah sebutan tak lazim di kalangan penguasa Andalusi; ini menggarisbawahi kepribadian politik yang ditujukan untuk menonjolkan diri sendiri lewat asosiasi dengan praktek intelektual dan dengan iman, serta norma-norma keadilan dan hukum, selaran dengan kegiatan para faqih".[76]

ReferensiSunting

KutipanSunting

  1. ^ Boloix Gallardo 2017, hlm. 164.
  2. ^ Harvey 1992, hlm. 28–29.
  3. ^ Boloix Gallardo 2017, hlm. 38.
  4. ^ Boloix Gallardo 2017, hlm. 39.
  5. ^ a b Harvey 1992, hlm. 39–40.
  6. ^ Harvey 1992, hlm. 33.
  7. ^ Boloix Gallardo 2017, hlm. 166.
  8. ^ a b Fernández-Puertas 1997, hlm. 2–3.
  9. ^ a b Kennedy 2014, hlm. 279.
  10. ^ Arié 1973, hlm. 206.
  11. ^ Boloix Gallardo 2017, hlm. 165.
  12. ^ a b c Kennedy 2014, hlm. 280.
  13. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 11.
  14. ^ O'Callaghan 2013, hlm. 456.
  15. ^ Kennedy 2014, hlm. 281.
  16. ^ a b Carrasco Manchado 2009, hlm. 401.
  17. ^ a b c d Harvey 1992, hlm. 151.
  18. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 3.
  19. ^ Harvey 1992, hlm. 38–39.
  20. ^ a b c O'Callaghan 2011, hlm. 65.
  21. ^ a b c d e Harvey 1992, hlm. 158.
  22. ^ Harvey 1992, hlm. 153.
  23. ^ a b c Kennedy 2014, hlm. 284.
  24. ^ a b c d e Harvey 1992, hlm. 154.
  25. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 62–63.
  26. ^ a b c Arié 1973, hlm. 70.
  27. ^ Harvey 1992, hlm. 155–156.
  28. ^ Harvey 1992, hlm. 156–157.
  29. ^ a b c d Harvey 1992, hlm. 157.
  30. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 68.
  31. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 68–69.
  32. ^ a b O'Callaghan 2011, hlm. 69–70.
  33. ^ Ibn Khaldun 1851, hlm. 288, juga di Wikimedia Commons
  34. ^ Ibn Khaldun 1856, hlm. 94.
  35. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 69.
  36. ^ a b Ibn Khaldun 1856, hlm. 92.
  37. ^ a b O'Callaghan 2011, hlm. 70.
  38. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 72–73.
  39. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 73–74.
  40. ^ a b O'Callaghan 2011, hlm. 74.
  41. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 76.
  42. ^ Fernández-Puertas 1997, hlm. 2.
  43. ^ Harvey 1992, hlm. 158–159.
  44. ^ a b c d e Harvey 1992, hlm. 159.
  45. ^ a b O'Callaghan 2011, hlm. 78.
  46. ^ a b c Kennedy 2014, hlm. 282.
  47. ^ a b O'Callaghan 2011, hlm. 81.
  48. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 82.
  49. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 83.
  50. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 85.
  51. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 86.
  52. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 89.
  53. ^ a b c Harvey 1992, hlm. 160.
  54. ^ Harvey 1992, hlm. 159–160.
  55. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 97–98.
  56. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 101.
  57. ^ a b Harvey 1992, hlm. 161–162.
  58. ^ a b c Kennedy 2014, hlm. 284–285.
  59. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 103.
  60. ^ a b O'Callaghan 2011, hlm. 112.
  61. ^ a b c Harvey 1992, hlm. 162.
  62. ^ a b c d O'Callaghan 2011, hlm. 113.
  63. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 114.
  64. ^ a b c d Harvey 1992, hlm. 163.
  65. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 114–115.
  66. ^ O'Callaghan 2011, hlm. 115.
  67. ^ a b O'Callaghan 2011, hlm. 116.
  68. ^ a b c O'Callaghan 2011, hlm. 118.
  69. ^ a b Latham & Fernández-Puertas 1993, hlm. 1022.
  70. ^ a b O'Callaghan 2011, hlm. 117.
  71. ^ Harvey 1992, hlm. 163, mengutip Ibn al-Khatib: "A story was put about that [Muhammad II] had been poisoned by a sweetmeat administered by his heir." Kennedy 2014, hlm. 285: "It was alleged that [Muhammad III] had in fact poisoned his father."
  72. ^ Harvey 1992, hlm. 163, 166.
  73. ^ Kennedy 2014, hlm. 285.
  74. ^ a b Catlos 2018, hlm. 341.
  75. ^ Harvey 1992, hlm. 163–164.
  76. ^ a b c Carrasco Manchado 2009, hlm. 402.
  77. ^ Carrasco Manchado 2009, hlm. 429.
  78. ^ Carrasco Manchado 2009, hlm. 439.
  79. ^ Kennedy 2014, hlm. 282–283.
  80. ^ Arié 1973, hlm. 240.
  81. ^ Carrasco Manchado 2009, hlm. 403.
  82. ^ Kennedy 2014, hlm. 283.
  83. ^ Arié 1973, hlm. 230.
  84. ^ Albarrán 2018, hlm. 45–47.
  85. ^ Albarrán 2018, hlm. 46–47.
  86. ^ Albarrán 2018, hlm. 45–46.
  87. ^ Arié 1973, hlm. 306.
  88. ^ Arié 1973, hlm. 463.
  89. ^ Harvey 1992, hlm. 161.
  90. ^ Arié 1973, hlm. 360–361.

Daftar pustakaSunting

Sumber primerSunting