Medium (situs web)

Medium adalah platform penerbitan online yang dikembangkan oleh Evan Williams dan diluncurkan pada Agustus 2012. Williams yang sebelumnya menjabat sebagai co-founder Blogger dan Twitter awalnya mengembangkan Medium sebagai wadah untuk menerbitkan tulisan dan dokumen yang lebih panjang dari 140 karakter—batas maksimum karakter di Twitter kala itu.

Medium
Medium logo (2020).png
Jenis usahaSwasta
BahasaBahasa Inggris (beberapa publikasi bisa dalam Bahasa Spanyol, Perancis, dan bahasa lainnya)
Wilayah operasiSeluruh dunia
PemilikA Medium Corporation
PendiriEvan Williams
CEOEvan Williams
SektorInternet
Produk
Jasa
Karyawan85 (Mei 2017)[1]
Situs webmedium.com
Peringkat AlexaIncrease 140 (Per 24 Juli 2019)[2]
Daftar akunDiharuskan untuk mempublikasikan dan menulis artikel, beberapa artikel dapat diakses secara gratis
Diluncurkan15 Agustus 2012; 8 tahun lalu (2012-08-15)
StatusAktif
PlatformiOS dan Android

Platform yang saat ini dimiliki oleh A Medium Corporation[3] ini merupakan salah satu contoh jurnalisme sosial

SejarahSunting

Evan Williams, co-founder dan mantan CEO Twitter, menciptakan Medium untuk mendorong para penggunanya agar membuat tulisan yang lebih panjang dari batas 140 karakter di Twitter. Pada April 2013, Williams melaporkan bahwa mereka mempekerjakan 30 staf purnawaktu termasuk pekerjaan sebagai "Storyteller."[4] Ia juga mengatakan bahwa "98 persen" dari waktunya didekasikan untuk platform ini.[5] Pada Agustus 2013, Williams melaporkan bahwa situs web itu masih tergolong kecil, namun ia merasa cukup optimis dengan mengatakan, "Kami berusaha membuatnya semudah mungkin bagi orang-orang yang ingin mengungkapkan pemikirannya".[6]

Alih-alih memperbanyak jumlah pengunjung situs, Medium justru berfokus pada bagaimana pengunjung situs menghabiskan lebih banyak waktu membaca di platform mereka.[7][8] Pada 2015, Williams mengkritik ukuran lalu lintas pengunjung sebagai "angka yang sangat tidak stabil dan tidak memiliki arti apapun bagi apa yang kami coba lakukan." Pada Mei 2017, Medium.com menyatakan bahwa mereka telah memiliki 60 juta pembaca bulanan.[1]

Hingga tahun 2019, Medium belum meraih menguntungkan.[9]

Tata kelola perusahaanSunting

Medium awalnya menggunakan holakrasi sebagai struktur tata kelola perusahaan.[10][11] Pada tahun 2016, Medium beralih dari sistem holakrasi karena mereka kesulitan untuk mengoordinasikan proyek-proyek skala besar, ditambah persepsi publik yang buruk tentang holakrasi.[12][a]

Informasi dan fitur penggunaSunting

PenggunaSunting

Medium tidak mempublikasikan statistik pengguna resmi di situs webnya. Menurut blog AS, platform ini memiliki sekitar 60 juta pengunjung bulanan pada tahun 2016.[13] Pada tahun 2015, jumlah total pengguna Medium berjumlah sekitar 25 juta.

PemblokiranSunting

MalaysiaSunting

Pada Januari 2016, Medium menerima usulan take-down dari Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) terhadap salah satu artikel yang diterbitkan oleh Sarawak Report. Sarawak Report telah mempublikasikan artikelnya di Medium sejak Juli 2015, ketika situs webnya diblokir oleh pemerintah Malaysia. Artikel tersebut melaporkan dugaan bahwa dana investasi negara di 1Malaysia Development Berhad (1MDB) berakhir di rekening bank milik Perdana Menteri Najib Razak.[14]

Tim hukum Medium menanggapi usulan tersebut dengan meminta salinan pernyataan dari resmi Komisi Anti Korupsi Malaysia bahwa berita yang dimuat oleh Sarawak Report itu tidak benar. Situs menolak untuk menghapus konten sampai dikeluarkannya perintah dari pengadilan yang berwenang.[15] Akibatnya, semua konten di Medium tidak dapat diakses oleh pengguna internet di Malaysia pada 27 Januari 2016. Pemblokiran Medium kemudian dicabut pada 18 Mei 2018 karena MCMC menyatakan bahwa mereka "tidak memiliki alasan untuk memblokir situs tersebut" karena 1MDB telah membuat klarifikasi yang dapat diakses oleh publik.

MesirSunting

Sejak Juni 2017, Medium telah diblokir di Mesir bersama dengan lebih dari 60 situs media lainnya dalam sebuah tindakan keras oleh pemerintah Mesir.[16] Situs yang turut diblokir antara lain Al Jazeera, The Huffington Post, dan Mada Masr .

TiongkokSunting

Pada April 2016, Medium diblokir di daratan Tiongkok[17] setelah informasi dari Panama Papers dibocorkan melalui situs tersebut.

AlbaniaSunting

Otoritas Media Audiovisual Albania memblokir Medium dari 19 hingga 21 April 2020.[18]

CatatanSunting

  1. ^ Untuk kesulitan koordinasi antar departemen dalam tata kelola perusahaan, lihat (Bort 2017).

ReferensiSunting

  1. ^ a b Streitfeld, David (May 20, 2017). "'The Internet Is Broken': @ev Is Trying to Salvage It". The New York Times. ISSN 0362-4331. Diarsipkan dari versi asli tanggal May 21, 2017. Diakses tanggal 2017-05-22. 
  2. ^ "medium.com Site Info". Alexa Internet. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-04-25. Diakses tanggal 2019-04-27. 
  3. ^ Panzarino, Matthew. "Twitter Co-Founder Evan Williams' Blogging Platform Medium Opens Signups To All". TechCrunch. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-09-05. Diakses tanggal 2015-09-10. 
  4. ^ Olanoff, Drew (November 15, 2012). "Ev Williams Takes To Medium To Discuss The True Purpose Of His New Publishing Tool". TechCrunch. Diarsipkan dari versi asli tanggal August 24, 2013. Diakses tanggal 2013-09-13. 
  5. ^ Taylor, Colleen (April 5, 2013). "Williams, Biz Stone, And Jason Goldman Shift Focus To Individual Startups". TechCrunch. Diarsipkan dari versi asli tanggal September 19, 2013. Diakses tanggal 2013-09-13. 
  6. ^ Stone, Brad (August 22, 2013). "Twitter Co-Creator Ev Williams Stretches the Medium". Diarsipkan dari versi asli tanggal September 14, 2013. Diakses tanggal 2013-09-13. 
  7. ^ "Medium's metric that matters: Total Time Reading". Data Lab. November 21, 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal March 2, 2017. Diakses tanggal 2017-03-10. 
  8. ^ Hempel, Jessi (2015-04-14). "Ev Williams' Rules for Quality Content in the Clickbait Age". Wired (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-12. Diakses tanggal 2017-03-10. 
  9. ^ Hazard Owen, Laura (March 25, 2019). "The long, complicated, and extremely frustrating history of Medium, 2012–present". Nieman Lab. Diarsipkan dari versi asli tanggal March 28, 2019. Diakses tanggal 2019-03-28. 
  10. ^ Stirman, Jason. "How Medium Is Building a New Kind of Company with No Managers". First Round Review. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-04-23. Diakses tanggal 2019-03-10. 
  11. ^ Boyd, Stowe (August 7, 2013). "Medium has no "people managers" and operates as a "holacracy"". GigaOm. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 July 2019. Diakses tanggal 10 March 2019. 
  12. ^ Doyle, Andy (March 4, 2016). "Management and Organization at Medium". Medium Blog. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 November 2018. Diakses tanggal 10 March 2019. 
  13. ^ "Medium grows 140% to 60 million monthly visitors". venturebeat.com. venturebeat.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-07-18. Diakses tanggal 2019-07-19. 
  14. ^ Yi, Beh Lih (July 20, 2015). "Sarawak Report whistle blowing website blocked by Malaysia after PM allegations". The Guardian (dalam bahasa Inggris). ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi asli tanggal February 16, 2016. Diakses tanggal 2016-01-27. 
  15. ^ Legal, Medium (January 26, 2016). "The Post Stays Up". Medium. Diarsipkan dari versi asli tanggal January 30, 2016. Diakses tanggal 2016-01-27. 
  16. ^ "Egypt bans Medium as media crackdown widens". Al Jazeera. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-06-14. Diakses tanggal 2017-06-17. 
  17. ^ Millward, Steven (April 15, 2016). "Medium is now blocked in China". Tech In Asia. Diarsipkan dari versi asli tanggal April 24, 2018. Diakses tanggal 2018-04-23. 
  18. ^ "Popular Blogging Site 'Medium' Blocked in Albania". Exit-al. Diakses tanggal 20 April 2020. 

Pranala luarSunting