Buka menu utama

Mazhab Bandung (kadang juga disebut Aliran Bandung, Modernisme Bandung) adalah aliran seni yang identik dengan konsep-konsep estetika formalisme. Mazhab ini lahir di lingkungan Seni Rupa ITB pada tahun 1950-an sebagai akibat dari sistem pengajaran yang dibawa pendirinya, Ries Mulder, seorang seniman berlatar belakang pendidikan seni rupa modern Eropa. Dalam perjalanan sejarahnya, mazhab ini belum memiliki pengertian yang tegas. Oleh karenanya mazhab ini sering disebut sebagai aliran atau corak abstrak, tetapi juga kadang bersinonim dengan estetika formalisme.

Mazhab Bandung bertolak belakang dengan mazhab lain, misalnya Yogyakarta yang menawarkan cerita dan citraan artistik dalam karyanya, Mazhab Bandung berupaya membebaskan lukisan mereka dari aspek narasi (representasi). Mazhab ini juga disebut berpihak pada rasionalitas (Barat), bahwa karya seni, bagaimana pun wujudnya, harus bisa dijelaskan oleh nalar. Pada paruh 1950-an, pertentangan terjadi antara kedua mazhab seni ini, meskipun tidak muncul secara terang-terangan.[1]

PerkembanganSunting

Perkembangan aliran ini dapat dibabakkan menjadi beberapa generasi.

Generasi PertamaSunting

Generasi pertama berkembang pada tahun 1950-an, meliputi nama-nama tersohor seperti Ahmad Sedali, But Muchtar, Srihadi Sudarsono, Mochtar Apin, Popo Iskandar. Lukisan-lukisan awal generasi pertama aliran ini mewarisi gaya pelukis Prancis beraliran modern, Jacques Villon, yang berdiri di antara gaya Futurisme dan Kubisme. Berbeda dengan aliran atau corak PERSAGI, apa yang mereka munculkan dalam lukisan tidak memuat cerita atau narasi. Lukisan melepaskan diri dari permasalahan-permasalahan sosial.

Generasi KeduaSunting

Generasi Kedua yang berkembang pada tahun 1970-an dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Sunaryo, A. D. Pirous, dan G. Sidharta. Ketiga tokoh ini mendirikan DECENTA yang merupakan 'laboratorium' mazhab Bandung pada masanya di luar institusi kampus. Nyaris semua seniman DECENTA melakukan eksperimentasi ekstetik yang lebih leluasa dibandingkan dengan pola akademik yang lebih kaku. Salah satu pembeda generasi kedua daripada generasi pertama mazhab Bandung adalah ketertarikannya untuk kembali kepada jati diri kebangsaan. Kekayaan estetika lokal kembali dipelajari. Kesenian tradisional dikawinkan dengan paradigma formalisme. Motif-motif turun-temurun dari Papua dan Kepulauan Nias dihadirkan dalam lukisan dengan cara yang baru.

Sebagai contoh, pelukis Haryadi Suadi gemar melibatkan unsur daerah asalnya di Cirebon dan gambar-gambar wayang, sementara T. Sutanto memasukkan corak dekoratif Jawa Tengah.[2]

PolemikSunting

Pertentangan antara kedua kubu, yakni mazhab Bandung dan Mazhab Yogyakarta, sesungguhnya dapat ditelusuri hingga tahun 1935. Pertentangan mazhab seni rupa pada 1935 itu antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane. Alisjahbana menghendaki penerapan kebudayaan Barat sementara Pane lebih suka merujuk kebudayaan Indonesia.

Di zaman pascakemerdekaan, pertentangan ini dilanjutkan oleh dua lembaga pendidikan. Yogyakarta diwakili seniman-seniman Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta (kini ISI Yogyakarta) yang mengusung nilai-nilai tradisional dan sosial. Sementara kubu Bandung diwakili seniman lulusan Seni Rupa ITB yang mengusung humanisme universal dan dianggap sebagai kebarat-baratan.[3]

Pada 1953, kritikus seni, Trisno Sumardjo, memiliki istilah sendiri untuk menyebut aliran seni lukis dari ITB ini, yakni aliran Ries Mulder. Ia menganggap aliran ini tidak memiliki kepribadian nasional dan mengecamnya sebagai 'laboratorium Barat'. Dua minggu kemudian, Sudjoko membalas kritik tersebut pada majalah yang sama. Gaya seni yang abstrak saat itu memang belum banyak diketahui, sebab masih terkungkung dalam aliran 'nasionalis' PERSAGI, naturalis ala Abdoellah dan ekspresionis ala Affandi.

Reaksi terhadap seni lukis baru di Bandung tidak hanya berasal dari generasi S.Sudjojono yang bergaya pendidikan swaajar dan pendidikan sanggar, namun juga dari para seniman dengan latar belakang ideologi tertentu, seperti LEKRA. Perseteruan ideologis terjadi karena seni lukis di Bandung dalam waktu 1950-1960 dianggap menyimpang dari corak realisme PERSAGI, Seniman Indonesia Muda (SIM) atau kelompok Pelukis Rakyat.

Pada masa ketegangan kebudayaan tahun 1960-an yang melibatkan kelompok LEKRA (yang berafiliasi dengan PKI) dan kelompok Manifeso Kebudayaan, kelompok seniman mazhab Bandung menegaskan posisinya sebagai pendukung Manifesto Kebudayaan dengan menandatangani surat dukungan untuk kelompok tersebut.[1]

Catatan kakiSunting

  1. ^ a b Siregar, Aminuddin (2007). Instalasi Sunaryo (1998-2003): Saksi Tragedi Kemanusiaan. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9789799100733. 
  2. ^ Admin (2013-06-04). "Dua yang Terlupakan dari Mazhab Bandung". Sarasvati. Diakses tanggal 2018-11-09. 
  3. ^ "Mula Pertentangan Dua Kubu". Historia - Obrolan Perempuan Urban. Diakses tanggal 2018-11-09.