Buka menu utama

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III adalah raja yang ketiga di Kadipaten Praja Mangkunegaran. Nama lahirnya ialah Bandara Raden Mas Sarengat, sedangkan gelar-gelar lainnya adalah "Pangeran Riya" dan "Pangeran Arya Prabu Prangwadana". Ia adalah cucu dari Mangkunegara II, melalui putrinya (dari permaisuri), B.R.Ay. Sayati, yang menikah dengan Kanjeng Pangeran Aria Natakusuma.

K.G.P.A.A. Mangkunegara III
COLLECTIE TROPENMUSEUM De vorst Mangkoe Negoro III die tussen 1835 en 1853 het gebied Mangkoe Negaram bestuurde TMnr 10001297.jpg
Mangkunegara III
Adipati Mangkunegaran
Masa jabatan
1835–1853
PendahuluMangkunegara II
PenggantiMangkunegara IV
Informasi pribadi
LahirB.R.M. Sarengat
16 Januari 1803
Surakarta
Meninggal dunia27 Januari 1853
(Kamis Legi, 25 Rabingulawal 1781 Jimawal windu Kunthara)
Surakarta
MakamAstana Mangadeg, Matesih, Karanganyar
PasanganPermaisuri (2)[1]:
(1) K. Ratu Sekar Kedhaton (putri PB V)
(2) R.A. Samsiyah, putri K.P.A. Suryamijaya, menjadi mertua MN IV
Selir: 14 orang[1]
Anak42 orang
Orang tuaAyah: K.P.A. Natakusuma
Ibu: B.R.A. Sayati
Tempat tinggalIstana Mangkunegaran

Pemerintahan Mangkunegara III berlangsung dari tahun 1835-1853.

Masa awalSunting

Mangkunegara III lahir tanggal 16 Januari 1803 (Ahad Pon, 22 Siyam 1729 Wawu tahun Jawa, windu Sangara) dengan nama Bandara Radèn Mas Saréngat (julukan Glémboh)[1]. Ayahnya ialah K.P.A. Natakusuma, salah seorang cucu S.I.S.K.S. Pakubuwana III melalui putranya, K.P.A. Kusumadiningrat, dan ibunya adalah B.R.Ay. Sayati, putri pertama K.G.P.A.A. Mangkunegara II (MN II), dari permaisuri.

Sejak kecil ia telah diangkat anak oleh MN II dan dididik untuk menjadi pemimpin.

Pada hari Ahad Pon, tanggal 14 Jumadilakir 1747 tahun Alip windu Adi (29 Maret 1820 (?)) ia dinikahkan dengan Gusti Kj. Ratu Sekar Kedhaton, anak dari PB V. Pernikahan ini tidak mencapai dua tahun, karena sang isteri wafat saat keguguran. Setelah menduda sebentar, ia menikahi R.A. Samsiyah, sepupunya sendiri, yang putri K.P.A. Suryamijaya I (putra MN II) dari ampil Mas Aj. Pulungsih, dan memiliki dua orang putri (B.R.Aj. Dunuk dan B.R.Aj. Dénok). Selain permaisuri, B.R.M. Saréngat juga memiliki 14 orang selir yang memiliki keturunan. Secara keseluruhan, ia memiliki 42 orang anak[1]

Karier kemiliteranSunting

B.R.M. Sarengat memasuki pendidikan Kadet Mangkunegaran saat berusia 15 tahun. Ketika diangkat menjadi Letnan Kolonel di Legiun Mangkunegaran pada Sabtu Pon tanggal 14 Dulkangidah 1746 Jimakir, windu Adi (14 September 1819), ia mendapat gelar K.P. Riya pada usia 18 tahun (Jawa). Saat berusia 20 tahun, ia resmi disiapkan sebagai calon penerus tahta kerajaan, dengan gelar wisuda Pangeran Arya Prabu Prangwadana pada Kamis Pon, 8 Jumadilawal 1749 th. Jimawal windu Adi (31 Januari 1822).

Pangeran Arya Prabu Prangwadana turut serta bersama kakeknya, Mangkunegara II, terlibat dalam Perang Jawa menghadapi perlawanan Dipanegara (1825-1830). Ia ditempatkan di perbatasan antara Mangkunegaran dan Kesultanan Yogyakarta yaitu di Desa Jatinom dan Kepurun (Klaten). Ia mendapat penghargaan bintang militer Willems Order kelas 4 atas kontribusinya dalam perang tersebut[1].

PemerintahanSunting

Seusai Perang Jawa, Pangeran Arya Prabu Prangwadana kemudian bertakhta sejak 29 Januari 1835 (Kamis Wage ) 29 pasa 1762 tahun Jimakir windu Sangara, sebagai raja (setingkat Adipati) di Mangkunegaran menggantikan kakeknya, pada usia 33 tahun. Ia baru dinobatkan sebagai K.G.P.A.A. Mangkunegara III pada tanggal 16 Januari 1843 bertepatan dengan hari kelahirannya, yaitu saat usianya 40 tahun sebagai syarat untuk gelar tersebut.

WafatSunting

Ia wafat dalam usia 50 tahun tanggal 27 Januari 1853 (Kamis Pahing, 27 Januari 1853/ 15 Bakdomulud 1781 Tahun JIMAWAL Windu KUNTARA (16 Rabiulakhir 1269H), dan dimakamkan di Astana Mangadeg, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ia digantikan oleh adik sepupu yang juga menjadi menantunya, K.P.H. Gandakusuma, sebagai Mangkunegara IV.

Minat terhadap kesenianSunting

Mangkunegara III memiliki minat besar terhadap kesenian wayang purwa. Pada masa pemerintahannya, kitab serat Dewa Ruci diperintahkannya untuk disalin kembali. Minat terhadap kesenian tersebut kemudian dilanjutkan oleh para penguasa Mangkunegaran selanjutnya, yang terus mengembangkan kebudayaan Jawa terutama pewayangan dan pedhalangan di keraton Mangkunegaran.

RujukanSunting

  1. ^ a b c d e Sumahatmaka et al. 1973. Pratelan Para Darah Dalem Soewargi Kangdjeng Goesti Pangeran Adipati Arja Mangkoenagara I hing Soerakarta Hadiningrat: Asalsilah Djilid I. Mangkunegaran. Surakarta.

Terdapat sedikit kemiripan, yang mungkin menyebabkan kekeliruan, antara gelar adipati Praja Mangkunegaran 'Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Amengkunegara Senopati ing Ayudha Sudibyaningprang (Praja Mangkunegaran) dan gelar penguasa Kasunanan Surakarta 'Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram' (Pustaka Sri Radyalaksana,http://www.sastra.org/arsip-dan-sejarah/43-kasunanan/912-pustaka-sri-radyalaksana-prajaduta-1939-272-hlm-001-103 dan 'Serat Centhini, Kamajaya, Jilid 1/1, 1986, 1988-92', http://www.sastra.org/kisah-cerita-dan-kronikal/68-serat-centhini/949-centhini-kamajaya-1986-1988-92-761-jilid-011)

Lihat pulaSunting