Buka menu utama

Longsor Jemblung 2014 adalah Tanah longsor yang terjadi pada 12 Desember 2014 di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.[1] Tanah longsor terjadi di lereng utara Bukit Telaga Lele sekitar pukul 17:30 WIB dan menimpa satu dusun yang dihuni sekitar 300 jiwa dari 53 kepala keluarga (KK).[2]. Sebanyak 15 orang selamat dalam kondisi luka-luka serta 108 orang tewas terkubur diantaranya 95 orang ditemukan dan 13 orang dinyatakan hilang.

Longsor Jemblung 2014
Tanggal12 Desember 2014 (2014-12-12)
Waktu17:30 WIB
LokasiDesa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
PenyebabHujan Lebat
Tewas108 Orang

Dampak dan korbanSunting

Tanah longsor ini menyebabkan puluhan rumah rusak dan ratusan orang dilaporkan tertimbun material longsor.[3]. Akibat longsor yang terjadi, warga di tiga desa, yaitu Desa Slatri, Desa Paweden, dan Desa Sampang diungsikan untuk menghindari kemungkinan longsor susulan.[4]. Sebanyak 2.038 jiwa pengungsi di 4 kecamatan di Kabupaten Banjarnegara, yaitu di Kecamatan Karangkobar, Kecamatan Punggelan, Kecamatan Banjarmangu dan Kecamatan Wanayasa. Hingga dihentikannya pencarian korban pada tanggal 21 Desember 2014 Pukul 12.00 WIB, total jumlah korban ditemukan sebanyak 95 tewas dan 13 orang dinyatakan hilang[5].

PenyebabSunting

Penyebab tanah longsor diperkirakan, karena curah hujan yang tinggi di wilayah sekitar,[6]. Pada dua hari menjelang terjadinya tanah longsor, yaitu pada tanggal 10-11 Desember, wilayah di sekitar Dusun Jemblung diguyur hujan yang cukup deras. Akibatnya, tanah di lokasi tersebut menjadi penuh dengan air. Kemudian materi penyusun Bukit Telaga Lele di wilyah tersebut merupakan endapan vulkanik tua sehingga solum atau lapisan tanah cukup tebal dan terjadi pelapukan. Selain itu, kemiringan lereng di bukit tersebut kurang dari 60 persen. Saat kejadian, mahkota longsor berada pada kemiringan lereng 60-80 persen. Tanaman di atas bukit tempat terjadinya longsor adalah tanaman semusim, dengan jenis palawija, yang tidak rapat. Akibatnya, kondisi tanah menjadi longgar dan mudah terbawa air[7].

ReferensiSunting