Leukoplakia

Leukoplakia adalah bercak putih yang melekat kuat pada selaput lendir yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.[4][5] Tepi lesi biasanya kasar dan lesinya berubah seiring waktu.[4][6] Bentuk lesi lanjutan dapat mengembangkan bercak merah.[6] Biasanya tidak ada gejala lain.[8] Leukoplakia seringkali terjadi di dalam mulut, meskipun terkadang ditemukan mukosa di bagian lain saluran pencernaan, saluran kemih, atau alat kelamin.[9][10][11]

Leukoplakia
Nama lainLeucoplakia,[1] leukokeratosis,[1] leukoplakia idiopatik,[2] leukoplasia,[1] keratosis idiopatik,[3] bercak putih idiopatik[3]
Leukoplakia02-04-06.jpg
Leukoplakia di bagian dalam pipi.
SpesialisasiOtolaringologi, kedokteran gigi
GejalaBercak putih yang menempel kuat pada selaput lendir, berubah seiring waktu[4][5][6]
KomplikasiKarsinoma sel skuamosa[4]
Awal munculDiatas usia 30 tahun[4]
PenyebabTidak diketahui[6]
Faktor risikoMerokok, mengunyah tembakau, alkohol berlebihan, mengunyah pinang[4][7]
DiagnosisDibuat setelah kemungkinan penyebab lain disingkirkan, biopsi jaringan[6]
Kondisi serupaInfeksi jamur, lichen planus, keratosis karena trauma minor berulang[4]
PerawatanPemeriksaan berkala dan tindak lanjut (follow up), berhenti merokok, batasi alkohol, operasi pengangkatan[4]
FrekuensiHingga 8% pria di atas 70 tahun[6]

Penyebab leukoplakia tidak diketahui.[6] Faktor risiko pembentukan leukoplakia di dalam mulut antara lain merokok, mengunyah tembakau, alkohol berlebihan, dan penggunaan buah pinang.[4][7] Satu jenis leukoplakia spesifik umum ditemukan pada penderita HIV / AIDS. [12] Leukoplakia termasuk lesi prakanker, perubahan jaringan di mana kanker lebih mungkin berkembang.[12] Kemungkinan pembentukan kanker tergantung pada jenisnya, dengan antara 3–15% leukoplakia terlokalisasi dan 70–100% leukoplakia proliferatif berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa.[4]

Leukoplakia adalah istilah deskriptif yang hanya boleh diterapkan setelah kemungkinan penyebab lain disingkirkan.[6] Biopsi jaringan umumnya menunjukkan peningkatan keratin yang terbentuk dengan atau tanpa sel abnormal, tetapi tidak dapat mendiagnosis.[4][6] Kondisi lain yang tampak serupa termasuk infeksi jamur, lichen planus, dan keratosis karena trauma minor berulang.[4] Lesi akibat infeksi jamur biasanya dapat dihilangkan sementara leukoplakia tidak bisa.[4][13]


Rekomendasi pengobatan tergantung pada gambaran lesi.[4] Jika terdapat sel abnormal atau lesi berukuran kecil, operasi pengangkatan sering direkomendasikan; jika tidak, tindak lanjut yang dekat dengan interval tiga sampai enam bulan mungkin sudah cukup.[4] Orang biasanya disarankan untuk berhenti merokok dan membatasi minum alkohol.[3] Dalam setengah kasus, leukoplakia akan menyusut setelah berhenti merokok,[5] namun, jika merokok dilanjutkan hingga 66% kasus akan menjadi lebih putih dan tebal.[6] Persentase orang yang terkena dampak diperkirakan 1-3%.[4] Leukoplakia menjadi lebih umum seiring bertambahnya usia, biasanya tidak terjadi sampai setelah 30 tahun.[4] Dengan rasio temuan sekitar 8% pada pria berusia diatas 70 tahun.[6]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c Neville BW; Damm DD; Allen CM; Bouquot JE. (2002). Oral & maxillofacial pathology (edisi ke-2.). Philadelphia: W.B. Saunders. hlm. 337–345. ISBN 978-0-7216-9003-2. 
  2. ^ Greenberg MS, Glick M (2003). Burket's oral medicine diagnosis & treatment (edisi ke-10th). Hamilton, Ont.: BC Decker. hlm. 87,88,90–93,101–105. ISBN 978-1-55009-186-1. 
  3. ^ a b c Odell W (2010). Clinical problem solving in dentistry (edisi ke-3rd). Edinburgh: Churchill Livingstone. hlm. 209–217. ISBN 978-0-443-06784-6. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-09-10. 
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Villa A, Woo SB (April 2017). "Leukoplakia-A Diagnostic and Management Algorithm". Journal of Oral and Maxillofacial Surgery. 75 (4): 723–734. doi:10.1016/j.joms.2016.10.012 . PMID 27865803. 
  5. ^ a b c Scully C, Porter S (July 2000). "ABC of oral health. Swellings and red, white, and pigmented lesions". BMJ. 321 (7255): 225–8. doi:10.1136/bmj.321.7255.225. PMC 1118223 . PMID 10903660. 
  6. ^ a b c d e f g h i j k Neville, Brad W.; Damm, Douglas D.; Chi, Angela C.; Allen, Carl M. (2015). Oral and Maxillofacial Pathology (edisi ke-4). Elsevier Health Sciences. hlm. 355–358. ISBN 9781455770526. 
  7. ^ a b Underner M, Perriot J, Peiffer G (January 2012). "[Smokeless tobacco]". Presse Médicale. 41 (1): 3–9. doi:10.1016/j.lpm.2011.06.005. PMID 21840161. 
  8. ^ Lodi G, Franchini R, Warnakulasuriya S, Varoni EM, Sardella A, Kerr AR, Carrassi A, MacDonald LC, Worthington HV (July 2016). "Interventions for treating oral leukoplakia to prevent oral cancer". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 7: CD001829. doi:10.1002/14651858.CD001829.pub4. PMC 6457856 . PMID 27471845. 
  9. ^ Wein, Alan J.; Kavoussi, Louis R.; Novick, Andrew C.; Partin, Alan W.; Peters, Craig A. (2011). Campbell-Walsh Urology: Expert Consult Premium Edition: Enhanced Online Features and Print, 4-Volume Set. Elsevier Health Sciences. hlm. 2309. ISBN 9781416069119. 
  10. ^ Banfalvi, Gaspar (2013). Homeostasis - Tumor - Metastasis. Springer Science & Business Media. hlm. 156. ISBN 9789400773356. 
  11. ^ Montgomery, Elizabeth A.; Voltaggio, Lysandra (2012). Biopsy Interpretation of the Gastrointestinal Tract Mucosa: Volume 1: Non-Neoplastic (edisi ke-2). Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 10. ISBN 9781451180589. 
  12. ^ Coogan MM, Greenspan J, Challacombe SJ (September 2005). "Oral lesions in infection with human immunodeficiency virus". Bulletin of the World Health Organization. 83 (9): 700–6. doi:10.1590/S0042-96862005000900016 (tidak aktif 2020-12-12). PMC 2626330 . PMID 16211162. 
  13. ^ Petersen PE, Bourgeois D, Ogawa H, Estupinan-Day S, Ndiaye C (September 2005). "The global burden of oral diseases and risks to oral health". Bulletin of the World Health Organization. 83 (9): 661–9. doi:10.1590/S0042-96862005000900011 (tidak aktif 2020-12-12). PMC 2626328 . PMID 16211157. 

Pranala luarSunting

Klasifikasi
Sumber luar