Buka menu utama

Kuda Terbang Maria Pinto adalah judul buku kumpulan cerita pendek karya Linda Christanty yang diterbitkan pada tahun 2004 oleh KataKita Jakarta. Buku setebal 134 halaman dengan ISBN 979-98302-0-6, ini mengantarkan Linda memenangi Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kategori fiksi, tahun 2004. Setelah Kuda Terbang Maria Pinto, Linda Christanty juga memenangi penghargaan serupa melalui judul Rahasia Selma, untuk kategori fiksi, tahun 2010.[1][2][3]

Kuda Terbang Maria Pinto
Kuda Terbang Maria Pinto.jpg
PengarangLinda Christanty
BahasaBendera Indonesia Indonesia
GenreKumpulan cerpen
PenerbitKataKita Jakarta
Tanggal rilis2004
Halaman134 halaman
ISBN979-98302-0-6

Latar belangSunting

Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty terdiri dari dua belas cerita pendek yaitu Kuda Terbang Maria Pinto, Makan Malam, Pesta Terakhir, Lubang Hitam, Balada Hari Hujan, Danau, Lelaki Beraroma kebun, Perang, Joao, Qirzar, Rumput Liar, dan Makam Keempat. Judulnya diambil dari cerpen pertama yaitu Kuda Terbang Maria Pinto. Linda Christanty menuliskan penindasan, kehampaan, kehilangan, suasana politik, perang, dan perlawanan dalam diksi yang menghanyutkan. Sekalipun penulis tidak secara eksplisit menuliskan lokasi atau latar belakang, pembaca cukup mengetahui peristiwa-peristiwa yang terkait dengan cerita tersebut. Cerita-ceritanya terkesan suram dan kelam.

Komentar tokoh-tokohSunting

  • Sutardji Calzoum Bachri: Menampilkan tema-tema kemanusiaan tanpa menyerahkan sastra ke bawah telapak kaki penindasan pesan, bukan upaya gampang. Linda Christanty mampu menaklukkan kemuskilan ini. Dalam sebagian besar cerpen-cerpennya, kelamin prosa dan kelamin puisi menyatu bersejiwa melahirkan pukauan mengasyikkan, mengatasi namun meninggikan ihwal pesan pada tukikan kedalaman yang mencerahkan.
  • Nirwan Dewanto: Pada cerita pendek Linda Christanty, kita mendapatkan ampuhnya suara politik justru karena yang politis itu sekadar hadir sebagai kilas balik tipis dari laku dan wicara para tokoh. Realisme Linda mencekan justru karena ia antididaktik.
  • Sapardi Djoko Damono: Dalam cerpen-cerpen Linda Christanty, saya membayangkan perkembangan cerpen kita di masa datang.[4]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting