Konflik bahasa Norwegia

Konflik bahasa Norwegia (målstriden, språkstriden atau sprogstriden) adalah kontroversi dalam budaya dan politik Norwegia yang terkait dengan versi tertulis bahasa Norwegia. Pada abad ke-16 hingga abad ke-19, bahasa Denmark merupakan bahasa tertulis standar di Norwegia karena Norwegia dikuasai oleh Denmark. Maka dari itu, pengembangan bahasa Norwegia tertulis modern menimbulkan kontroversi yang terkait dengan nasionalisme, hubungan desa-kota, sejarah sastra Norwegia, hubungan dialek-bahasa standar, reformasi ejaan dan ortografi.[1]

Bahasa resmi di Kerajaan Bersatu Denmark dan Norwegia (1536–1814) adalah bahasa Denmark. Golongan atas di wilayah perkotaan di Norwegia pada masa itu menuturkan "dansk-norsk" (bahasa Denmark-Norwegia) yang merupakan varian bahasa Denmark dengan pelafalan Norwegia dan perbedaan-perbedaan lainnya, sementara sebagian besar warga Norwegia menuturkan dialek lokal dan regional. Setelah kedua negara ini dipisah pada tahun 1814, bahasa Denmark-Norwegia tetap menjadi bahasa resmi hingga tahun 1885.

Pada awal tahun 1840-an, ahli bahasa muda Ivar Aasen menjelajahi wilayah pedesaan Norwegia dan mengumpulkan contoh kata-kata dan tata bahasa yang digunakan di sana. Ia menyusun bahasa Norwegia berdasarkan dialek yang tidak terlalu dipengaruhi oleh bahasa Denmark dan menerbitkan tata bahasa rakyat Norwegia (Folkespråk) pada tahun 1848 dan kamus bahasa rakyat Norwegia pada tahun 1850.

Bahasa Denmark-Norwegia secara perlahan juga menggunakan aspek-aspek dalam bahasa-bahasa Norwegia, sementara "bahasa rakyat" yang dikembangkan oleh Aasen juga mulai tersebar. Parlemen Norwegia memutuskan pada tahun 1885 bahwa kedua ragam bahasa norwegia ini merupakan ragam yang resmi. Pada tahun 1929, Parlemen memutuskan bahwa bahasa yang didasarkan pada bahasa Denmark akan disebut Bokmål (secara harfiah berarti "bahasa buku"), sementara yang didasarkan pada dialek-dialek Norwegia disebut Nynorsk ("bahasa Norwegia baru").

Pada awal abad ke-20, pemerintah mencoba menggabungkan kedua bahasa ini menjadi satu bahasa yang disebut Samnorsk, tetapi upaya ini mengalami kegagalan karena mendapat perlawanan dari pendukung bahasa Bokmål dan Nynorsk. Kebijakan yang ingin menggabungkan kedua bahasa ini telah menghasilkan berbagam ragam Bokmål dan Nynorsk. Versi tidak resmi yang disebut Riksmål dianggap lebih konservatif daripada Bokmål. Sementara itu, bahasa Høgnorsk yang tidak resmi lebih mirip dengan bahasa Ivar Aasen pada pertengahan tahun 1800-an daripada Nynorsk yang digunakan saat ini.

Orang Norwegia saat ini dididik untuk mempelajari ragam bahasa mereka sendiri (hovedmål / hovudmål, "bahasa utama") dan ragam kedua (sidemål, "bahasa sampingan").

Catatan kakiSunting

  1. ^ Martin Skjekkeland. "Målreisinga i Noreg". Store norske leksikon. Diakses tanggal February 1, 2017.