Klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson

Klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson atau yang biasa disingkat Klasifikasi iklim SF merupakan salah satu jenis pengelompokan iklim yang berdasar pada tingkat curah hujan yang terjadi di suatu wilayah.[1] Sistem klasifikasi iklim ini menjadi klasifikasi iklim yang paling banyak digunakan di wilayah Indonesia. Klasifikasi iklim ini pun mengelompokkan iklim di wilayah Indonesia berdasarkan sifat kebasahan atau kekeringan pada satu bulan. Klasifikasi iklim ini juga membagi jenis iklim di Indonesia berdasarkan bulan basah dan bulan kering yang dianalisis dari data curah hujan yang dimiliki suatu wilayah dalam kurun waktu minimal 10 tahun.[2]

Penentuan bulan kering ataupun bulan basah dari klasifikasi iklim ini berdasar pada tiga asumsi, yaitu:[2]

  1. Apabila jumlah curah hujan (CH) dalam sebulan lebih dari 100 mm (CH > 100 mm), maka bulan tersebut adalah bulan basah karena jumlah curah hujan tersebut melebihi jumlah penguapan.
  2. Jikalau jumlah curah hujan (CH) dalam sebulan berada pada angka 60–100 mm (CH = 60–100 mm), maka bulan tersebut adalah bulan lembab karena jumlah penguapan dan curah hujan dinyatakan sebanding.
  3. Jika jumlah curah hujan (CH) dalam sebulan kurang dari 60 mm (CH < 60 mm), maka bulan tersebut adalah bulan kering karena penguapan didominasi dari air yang berasal dari tanah daripada curah hujan itu sendiri.

Jenis iklimSunting

Klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson ini memiliki delapan jenis pembagian iklim yang didasarkan pada penghitungan jumlah bulan kering dan bulan basah dari tiap-tiap tahun dalam suatu periode (minimalnya 10 tahun, tetapi bisa juga 30 tahun), kemudian diambil reratanya untuk setiap bulan.[2] Delapan jenis iklim ini ditetapkan dari nilai perbandingan rerata bulan basah dengan rerata bulan kering atau disebut pula nilai Q. Delapan jenis iklim ini terbagi ke dalam delapan huruf yang berbeda, yaitu:[1][3]

  1. A yang merupakan jenis iklim sangat basah (Q < 14,3) dan vegetasinya adalah hutan hujan tropis
  2. B yang merupakan jenis iklim basah (14,3 ≤ Q < 33,3) dan vegetasinya pun berupa hutan hujan tropis
  3. C yang merupakan jenis iklim agak basah (33,3 ≤ Q < 60,0) dan vegetasi umumnya adalah peralihan hutan hujan tropis ke hutan gugur
  4. D yang merupakan jenis iklim sedang (60,0 ≤ Q < 100,0) atau menengah dan vegetasi biasanya berupa hutan gugur atau hutan musim
  5. E yang merupakan jenis iklim agak kering ( 100,0 ≤ Q < 167,0) dan vegetasinya berupa peralihan hutan musim ke padang sabana
  6. F yang merupakan jenis iklim kering (167,0 ≤ Q < 300,0) dan vegetasinya adalah padang sabana
  7. G yang merupakan jenis iklim sangat kering (300,0 ≤ Q < 700,0) dan vegetasinya berupa padang ilalang
  8. H yang merupakan jenis iklim luar biasa kering (Q ≥ 700,0) dan vegetasinya sama dengan jenis iklim G.

ReferensiSunting

  1. ^ a b Schmidt, F.H.; Ferguson, J.H.A. (1952). Rainfall types based on wet and dry period ratios for Indonesia with Western New Guinea. Jakarta: Kementerian Perhubungan dan Djawatan Meteorologi dan Geofisik. 
  2. ^ a b c "Klasifikasi Iklim" (PDF). hlm. 49–55. Diakses tanggal 24 Juni 2022. 
  3. ^ Bayong Tjasyono HK (Agustus 2009). "Climatology of Maritime Continent" (PDF). Puslitbang BMKG. hlm. 29–30.