Buka menu utama

Kethek ogleng adalah pertunjukan tari yang para pemainnya mengimitasi gerakan-gerakan monyet (atau dalam bahasa Jawa disebut kethek). Tarian tersebut diiringi dengan gamelan atau gending gancaran pancer yang bunyinya kurang-lebih, “ogleng, ogleng, ogleng.” [1] Dari sanalah kemudian seni pertunjukan ini disebut "kethek ogleng".

Gerakan-gerakan tarian kethek ogleng tidak baku dan kaku, malah terkesan atraktif dan akrobatik. Penari pun bebas melakukan improvisasi, misalnya, dengan mengajak penonton menari dan bercanda bersamanya.

Pada 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kethek ogleng sebagai salah satu dari Warisan Budaya Takbenda di Indonesia.

Sejarah Kethek OglengSunting

Terdapat beberapa versi mengenai asal muasal seni Kethek Ogleng. Masing-masing daerah memiliki sejarahnya. Misalnya di Wonogiri (Provinsi Jawa Tengah), Gunung Kidul (Provinsi Jawa Timur), atau Pacitan (Provinsi Jawa Timur).

Di Pacitan, tepatnya di Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, kethek ogleng dipercaya diciptakan oleh Sutiman, seorang petani, pada 1963. Saat itu, usianya baru 18 tahun. Penampilan kethek ogleng yang pertama adalah di hajatan pernikahan pada akhir 1963, atas permintaan Kepala Desa Tokawi saat itu, Haryo Prawiro. Lalu atas atas persetujuan dari Bupati RS Tedjo Sumarto pada 1964, Dinas Pendidikan meminta Sutiman agar tari pertunjukan kethek oglengnya dibuat berlatarkan cerita rakyat Panji Asmorobangun.[2]

ReferensiSunting

  1. ^ Paluseri, dkk, Dais Dharmawan (2018). Penetapan Budaya Warisan Takbenda Indonesia 2018 (PDF). Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 
  2. ^ "Inspirasi dari Seni Tari Kethek Ogleng dari Tokawi". Pacitanku.com. 2017-10-20. Diakses tanggal 2019-02-17.