Kerjasama Force Posture


Kerjasama Force Posture adalah sebuah kerjasama luar negeri yang diinisiasi oleh Australia dan Amerika Serikat terutama di bidang keamanan internasional. Kerjasama itu tepatnya diinisasi oleh Australia pada tahun 2011, namun baru ditandatangani pada 12 Agustus 2014 oleh keduanya. Kerjasama Force Posture direncanakan akan berlangsung selama kurun waktu 25 tahun dengan bentuk pengerahan 2.500 anggota mariner Amerika Serikatke wilayah utara Australia (terutama Darwin) selama beberapa rotasi tahunan permanen hingga tahun 2017. Poin-poin lain yang ditekankan dalam penandatangan kerjasama tersebut adalah peningkatan kerjasama antara tentara Amerika Serikat dengan Australian Defence Force,[1] terutama angkatan laut serta udara milik Australia dan Amerika Serikat dengan tujuan akhir untuk meningkatkan interoperabilitas dan kemampuan militer kedua negara. Australia dan Amerika Serikat melalui kerjasama tersebut juga bermaksud untuk mempromosikan keamanan dan stabilitas di kawasan serta meningkatkan pelatihan dan persiapan untuk merespons kondisi darurat atau bencana alam di Asia-Pasifik.[2]

Arti Penting Kerjasama Force Posture

sunting

Implementasi kerjasama Force Posture memang sangat diperlukan, terutama oleh Australia dalam rangka menjamin reformasi dan peningkatan kapabilitas militer mereka. Australia sangat membutuhkan peningkatan kekuatan maritimi, peningkatan jumlah pangkalan militer, peningkatan jumlah dan kualitas tentara, peningkatan kekuatan kekuatan angkatan udara, peningkatan kemampuan mobilisasi dan peningkatan teknologi. Di dalam kerjasama itu, Amerika Serikat akan mengirimkan 2.500 anggota Angkatan Laut ke bagian utara Australia. Mereka kan mengembangkan fasilitas serta modernisasi teknologi militer langsung di Australia dalam rangka meningkatkan kapabilitas keamanan di Australia.

Implementasi dari kerjasama Force Posture juga diwujudkan dalam bentuk latihan bersama antara angkatan laut dan angkatan udara kedua negara serta peningkatan kerjasama intelijen di Ausralia. Hal itu menjadi sangat penting bagi Australia terutama berkaitan dengan mengimbangi kekuatan dan sepak terjang China di kawasan yang berpusat di utara. Dengan demikian, Australia memiliki kontrol penuh dan spesifik terhadap pengembangan militer dan keamanannya sehingga akan membantu Australia mencapai tujuan utamanya sebagai aktor nasional untuk mampu bertahan di tengah dinamika politik internasional.

Di samping itu, status middle power yang disandang oleh Australia memberikan standar, batasan, dan ekspektasi politik luar negeri Australia diharapkan dapat meningkatkan stabilitas dan kepentingan kawasan dalam dinamika yang berkembang. Status middle power tersebut juga memiliki pengaruh yang kurang signifikan dalam mengubah dinamika sistem internasional, geopolitik, dan arsitektur keamanan di dalamnya. Keputusan Australia untuk memperkuat politik luar negerinya melalui kerjasama Force Posture dinilai dapat meningkatkan kapabilitas militer dan keamanannya sehingga memiliki dampak yang besar bagi peningkatan stabilitas kawasan. Lebih jauh lagi, posisi Australia juga berada di antara great powers (China dan Amerika Serikat) yang memiliki pengaruh besar dalam sistem internasional dan small powers yang menerima pengaruh dari dinamika sistem internasional. Perilaku dan tindakan Australia di kawasan dapat menjadi pertimbangan bagi great powers dan small powers sehingga politik keamanan yang dapat mengamankan posisi Australia di kawasan menjadi penting.[3]

Implementasi kerjasama Force Posture juga menjadi penting bagi Australia, terutama untuk meningkatkan bargaining position atau posisi tawarnya di kawasan. Implementasi dari kerjasama tersebut juga memberikan arti penting pada peningkatan peran Australia dalam hal konsultasi keamanan, persiapan aksi cepat tanggap terhadap bencana, maupun serangan militer yang memang sesuai dengan tujuan kerja sama dan kondisi real negara-negara di kawasan.

Namun demikian, kerjasama Force Posture juga tetap memberikan ruang bagi Australia untuk tidak ofensif dan netral dalam menanggapi ancaman militer Tiongkok dan peningkatan instabilitas kawasan. Hal itu memberikan ruang bagi Australia untuk melanjutkan ciri khas politik luar negerinya yang netral dengan bergerak di antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta mengambil posisi sebagai stabilisator sehingga segala kepentingan di kawasan dapat terjaga.[4] Dalam Bahasa sederhana, kerjasama Force Posture tidak hanya membantu Australia untuk mengamankan diri dari ancaman melalui peningkatan kapabilitas militer, namun juga dengan adaptasi serta pencegahan eskalasi konflik di level internasional.

Keputusan Australia dalam memilih Amerika Serikat sebagai mitra dalam kerjasama Force Posture juga dinilai sangat tepat, sebab status Amerika Serikat sebagai great power sepadan dengan kualitas dan kapabilitas militer yang dimiliki. Sehingga, kerjasama tersebut dapat memberikan keuntungan kepada kedua negara. Terlebih lagi, hadirnya Amerika Serikat sebagai aliansi militer Australia dengan demikian juga mampu menjamin keberhasilan pengembangan kapabilitas militer Australia dan keamannya.

Referensi

sunting
  1. ^ http://www.defence.gov.au
  2. ^ Department of Defence of Australia. 2016. 2016 Defence White Paper. Canberra: Commowealth of Australia
  3. ^ Wardani, Sevelyn Merlyna. 2017. Kerjasama Force Posture antara Australia dan Amerika Serikat sebagai Perwujudan Politik Luar Negeri Australia di Bidang Keamanan. Skripsi, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional
  4. ^ Australian Government. 2013. Guide to Australia’s National Security Capability. Canberra: Australian Government