Buka menu utama

Kemarau adalah album kesebelas dari grup musik The Rollies (album keempat di bawah nama "New Rollies") yang dirilis pada tahun 1979 dengan label Musica Studio's.

Kemarau
Kemarau (Promo Radio).jpg
Sampul album promo radio dari album "Kemarau"
Album studio karya The Rollies
Dirilis1979
GenreFunk, pop
Durasi32:23
LabelMusica Studio's
Kronologi The Rollies
Volume 3
(1978)'Volume 3'1978
Kemarau
(1979)
Kerinduan
(1979)'Kerinduan'1979

Album Kemarau ditempatkan pada peringkat ke-66 dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik" versi majalah Rolling Stone Indonesia yang diterbitkan pada edisi #32 bulan Desember 2007.[1] Lagu pertama dari album tersebut, "Kemarau", ditempatkan pada peringkat ke-25 dalam daftar "150 Lagu Indonesia Terbaik" yang diterbitkan pada edisi #56 bulan Desember 2009[2] oleh terbitan yang sama.

SEJARAH ALBUM KEMARAU Kemarau merupakan album ke 11 dari band The Rollies. Setelah sukses mengetengahkan fenomena sosial lewat “Bimbi” (Titiek Puspa) dari album Vol 3, New Rollies kembali berusaha mengangkat tema-tema serius. Mereka sepertinya ingin menangkis kritik yang mengatakan bahwa kepindahannya dari label lama (Hidayat) ke label baru (Musica Studio), serta menambahkan kata ‘new’ sebagai simbol era baru pasca Rollies, kelompok brass band kebanggaan kota  Bandung ini dianggap telah meninggalkan bentuk lamanya sebagai kelompok musik dengan aksi panggung memukau. .

Pada dua album pertama di bawah bendera New Rollies yang mencetak hit “Keadilan” dan “Dansa Yok Dansa”, mereka memang meraih sukses komersil. Namanya pun menjadi terdengar akrab di telingan pencinta musik pop. Oleh karena itulah pada album selanjutnya Titiek Puspa” kembali dilibatkan. Hasilnya, “Bimbi” berhasil menempatkan New Rollies sebagai salah satu band pop rock yang diperhitungkan.

Sedikit cerita dari pencipta lagu Kemarau yaitu Oetje F Tekol, Saat melakukan perjalanan Bandung – Jakarta, pencabik bass New Rollies yang atraktif di pentas Oetje F Tekol sering melihat penebangan pohon pohon secara membabi buta sejauh mata memandang. Kiri kanan jalan yang biasanya terlihat hijau kini berubah muram kecoklatan.Di koran maupun majalah Oetje pun sering membaca soal penebangan hutan secara liar.Ini dialami Oetje di tahun 1977.Mendadak Oetje pun tersentak.Sebentuk melodi pun secara tiba tiba menyembul dari alam imajinasinya.Oetje bahkan telah mendapatkan sebaris lirik yang berulang ulang :

Mengapa, mengapa hutanku hilang

dan tak pernah tumbuh lagi

Mengapa, mengapa hutanku hilang

dan tak pernah tumbuh lagi

Sebagai lagu yang isinya bermuatan kritik terhadap kesewenangan hutan dan lingkungan ini ,Oetje merasa pas jika lagu ini dimainkan dalam gaya country folk yang bertumpu pada kekuatan gitar.

Lagu yang kemudian bertajuk “Kemarau” ini pun siap untuk dimasukkan dalam deretan lagu yang akan dibawakan New Rollies dalam album “Dansa Yok Dansa” yang dirilis Musica Studio’s pada tahun 1977.Tapi Oetje harus mengalah karena lagu “Kemarau” versi country ini hanya ditaruh sebagai lagu cadangan saja.Ketika New Rollies merilis album “New Rollies Vol.3” di tahun 1978,lagi lagi lagu “Kemarau” dicoret dalam tracklist karena dianggap kurang kuat.

Setelah “Kemarau” diubah dengan arransemen brass section serta pola funk yang tegas,akhirnya lagu ini masuk dalam urutan pertama album New Rollies yang dirilis di tahun 1979 dan menjadi judul Album

​Kini melalui album keempat , “Kemarau”, New Rollies kembali menawarkan tema-tema diluar persoalan cinta, selain lagu Kau Yang Ku sayang.

KEMARAU ​Kekuatan utama album ini terletak pada “Kemarau”, karya Oetje F Tekol & Anton Tirtodibroto yang sekaligus dijadikan judul album. Pada tanggal 5 Juni 1979 yg sekaligus telah ditetapkan sbg Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pemerintah Indonesia memulai progam tahunan berupa Anugerah Kalpataru. Juga pada tanggal tersebut menjadi catatan penting bagi The Rollies, lagu Kemarau ditetapkan menerima penghargaan Kalpataru melalui Prof. Dr. Emil Salim selaku Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Meneg PPLH pada Kabinet Pembangunan III 1978-1983). Meski ajang ini secara resmi baru ditetapkan pada tahun 1980 serta belum terdapat kategorisasi penerima Kalpataru, The Rollies melalui Kemarau telah menggoreskan tinta emas mewakili pendekar musik dalam kiprah lingkungan hidup pertiwi. Pengakuan yg selanjutnya diaktualisasikan lewat lagu Kemarau sebagai duta Kalpataru, antara lain adalah menjadi bagian pada program TVRI, bertajuk Kalpataru yg dipandu duet Kris Biantoro dan Koeshendratmo, lalu berkutat hanya pada isu lingkungan hidup? Biasanya selain ekspose tentang aneka persoalan lingkungan dalam bentuk features khas corong pemerintah, juga profil tokohnya yg dianggap berhasil.

Oetje F Tekol mengaku tidak menduga sama sekali bahwa ciptaannya tersebut akan menuai sukses luar biasa, apalagi sampai berhasil menarik perhatian pemerintah. Inspirasi lagu ini diperoleh pada 1977 ketika dirinya tengah dalam perjalanan dengan kereta api dari stasiun Gambir menuju Bandung, kota di mana dimana dia tinggal.

Sepanjang perjalanan itulah Oetje mengaku disuguhi pemandangan kering kerontang di kiri kanan. Sebagai penulis lagu, kegersangan yang menghampar itu telah mendorong kreativitasnya untuk menuangkannya ke dalam bentuk sebuah lagu. Aslinya, “Kemarau” berirama country dan sama sekali bukan karya yang dipersiapkan untuk album keempat.

Namun ketika New Rollies tengah menggarap produksi terbaru mereka kekurangan satu lagu. Oetje lantas teringat lagu yang telah dirampungkannya berdua dengan Anton Tirtodibroto pada dua tahun lalu itu. Aransemennya lantas diberi sedikit sentuhan funk agar lebih dekat dengan format musik New Rollies.

Sukses “Kemarau” merupakan anomali dalam tradisi lagu popular yang biasanya selalu mengedepankan persoalan cinta dengan segala kegalauannya. Temanya jauh dari romantisme. Pada bagian tertentu liriknya bahkan merupakan kritik tajamatas pembalakan hutan yang liar tak terkendali. Akan tetapi melalui karya ini mereka justru berhasil membuktikan kemampuannya dalam meraih sukses dari dua sisi: kualitas dan komesrialisme. Pencapaian yang tidak mudah.

Oetje F Tekol bergabung dengan Rollies pada 1974 menggantikan Deddy Stanzah yang mengundurkan diri yang terus-menerus dirundung persoalan narkoba. Pencabik bass ini semula penggemar berat Rollies. Kehadirannya bak suntikan darah baru setelah band ini kehilangan sebagian pesona atas hengkangnya Deddy Stanzah, pencabik bass sekaligus pendiri Rollies. Beberapa hit lain ciptaan Oetje F Tekol di antaranya “Di Lembah Rasa”, "Burung Kecil", "Indonesia", "Astuti", "Dunia dalam berita", “Hari-Hari” dan “Musik Kami." (oleh Denny MR)

Daftar laguSunting

Sisi A
No. JudulPenciptaPenyanyi utama Durasi
1. "Kemarau"  Oetje, AntonDelly, Gito 2:58
2. "Segores Warna"  JohannesGito 2:50
3. "Pengemis Tua"  Oetje, T.Z. IskandarBonny 3:50
4. "Kau Yang Kusayang"  AntoniusDelly 3:31
5. "Pesona"  JohannesGito 2:35
Sisi B
No. JudulPenciptaPenyanyi utama Durasi
1. "Wanita"  JimmyDelly, Bonny 3:24
2. "Jangan Terulang Lagi"  TotokDelly 3:57
3. "Musik Kami"  OetjeGito 3:49
4. "Sentakan Sedih"  JohannesDelly 2:55
5. "Asmara"  SoesiloDelly 2:34

ReferensiSunting

  1. ^ Majalah Rolling Stone Indonesia. "150 Album Indonesia Terbaik". Edisi Desember 2007
  2. ^ Majalah Rolling Stone Indonesia. "150 Lagu Indonesia Terbaik". Edisi Desember 2009

Pranala luarSunting