Gila

pola mental atau perilaku yang tidak normal
(Dialihkan dari Kegilaan)

Gila (bahasa Inggris: insanity atau madness) adalah istilah umum tentang gangguan jiwa yang parah. Secara historis, konsep ini telah digunakan dalam berbagai cara. Di lingkungan dunia lebih sering digunakan istilah Gangguan Jiwa adalah manifestasi dari bentuk penyimpangan perilaku akibat adanya distorasi Emosi sehingga ditemukan ketidak wajaran dalam hal bertingkah laku. Hal ini terjadi karena menurunnya semua pungsi kejiwaan (Akemat, Helena, Keliat, Nurheani (2011)[1].

Penghuni di RS Jiwa Bedlam, sebagaimana digambarkan oleh William Hogarth.

Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasalam menjelaskan bahwa 'Orang Gila' ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan, yang membusungkan dada, berharap akan surga tuhan dengan berbuat maksiat, durhaka, rezeki haram, memutuskan tali silaturahmi, berbuat kebohongan, kikir, pelit dan bergunjing yang menjelekkannya membuat orang lain tidak aman, dan kebaikannya tidak pernah diharapkan[2]

Pandangan dan Perawatan SejarahSunting

Gila (Sakit Jiwa), kata non hukum untuk sakit jiwa, telah dikenal sepanjang sejarah disetiap masyarakat yang dikenal. Di Indonesia sebagian masyarakat masih ada yang mempercayai dukun atau dengan sebutan lainnya orang pintar dukun berkedok tokoh agama untuk menerapkan sihir, campuran herbal, atau obat tradisional untuk menyingkirkan orang gila dari roh jahat atau perilaku aneh, misalnya. Para arkeolog telah menggali tengkorak (setidaknya 7000 tahun) yang memiliki lubang bundar kecil yang dibuat dengan menggunakan alat batu. Telah diduga bahwa subjek mungkin telah dianggap telah dirasuki oleh roh yang memungkinkan lubang untuk melarikan diri. Penelitian yang lebih baru tentang praktik historis trepanning mendukung hipotesis bahwa prosedur ini bersifat medis dan dimaksudkan sebagai sarana untuk mengobati trauma kranial.

Arti lainSunting

Kata kegilaan sering pula digunakan untuk menyatakan tidak waras, atau perilaku sangat aneh. Dalam pengertian tersebut berarti ketidaknormalan dalam cara berpikir dan berperilaku.

Dalam perkembangan masyarakat, istilah yang cenderung negatif ini bisa jadi diartikan positif. Frasa seperti "ide gila", "karya gila", dan semacamnya lebih cenderung bernada pujian, yang berarti nyeleneh, unik, menyamping (out of the box), dan sebagainya.

Ciri-ciri Orang yang Sakit JiwaSunting

  1. Mengalami perubahan mood yang sangat drastis
  2. Memiliki rasa takut yang berlebihan
  3. Menarik diri dari kehidupan sosial, terkecualia ada pekerjaan
  4. Merasa emosional, amarahnya tidak terkendali tampa memikirkan perasaan orang lain
  5. Selalu melakukan penghasutan dengan tujuan memutuskan tali silaturahmi serta menebar kebencian
  6. Mengalami delusi
  7. Selalu merendahkan orang lain
  8. Bertingkah laku Sombong

Jenis-jenis Sakit JiwaSunting

  1. Gangguan kecemasan
  2. Gangguan Kepribadian
  3. Gangguan efektif atau Mood
  4. Gangguan ketidak mampuan mengontrol keinginan
  5. Gangguan psikotik
  6. Gangguan pola makan
  7. Gangguan obsesif-Kompulsif
  8. Gangguan pascatrauma
  9. Sindrom respons stres atau gangguan penyesuaian
  10. Gangguan disosiatip
  11. Gangguan seksual dan gender
  12. Gangguan somatoform[3].

Tanda dan Gejala Gangguan JiwaSunting

  1. Gangguan Kongnisi
  2. Gangguan Sensasi
  3. Gangguan Persepsi
  4. Gangguan Asosiasi
  5. Gangguan Perhatian
  6. Gangguan Ingatan
  7. Gangguan Psikomotor
  8. Gangguan Kemauan
  9. Gangguan Emosi dan Afek

Penyebab Gangguan JiwaSunting

  1. Faktor Somatik atau Organobiologis
  2. Neroanatomi
  3. Nerofisiologis
  4. Nerokimia
  5. Tingkat Kematangan dan perkembangan Organic
  6. Paktor Pre dan Peri-Natal
  7. Paktor Psikologis
  8. Interaksi ibu - Anak dan Peran Ayah
  9. Persaingan antara Saudara Kandung (Keturunan Sedarah)
  10. Intelegensi
  11. Hubungan dalam Keluarga, Pekerjaan, Permainan dan Masyarakat
  12. Kehilangan konsep diri, Pola Adaptasi (Sosialita)
  13. Tingkat perkembangan Emosi
  14. Faktor Sosiokultural
  15. Kestabilan Keluarga
  16. Pola mengasuh Anak
  17. Perumahan, Perkotaan

Pura-PuraSunting

Kegilaan pura-pura adalah simulasi penyakit mental untuk menipu. Di antara tujuan lain, kegilaan dibuat untuk menghindari atau mengurangi konsekuensi dari konfrontasi atau hukuman atas kejahatan yang dituduhkan. Sejumlah risalah tentang yurisprudensi medis ditulis selama abad kesembilan belas, yang paling terkenal adalah Isaac Ray pada tahun 1838 (edisi kelima 1871); lainnya termasuk Ryan (1832), Taylor (1845), Wharton dan Stille (1855), Ordronaux (1869), Meymott (1882). Teknik-teknik khas yang diuraikan dalam karya-karya ini adalah latar belakang pedoman Dr. Neil S. Kaye yang diakui secara luas yang menunjukkan upaya untuk berpura-pura gila. Salah satu contoh terkenal dari seseorang yang berpura-pura gila adalah bos Mafia Vincent Gigante, yang berpura-pura selama bertahun-tahun menderita demensia, dan sering terlihat berkeliaran tanpa tujuan di sekitar lingkungannya dengan piyama sambil bergumam pada dirinya sendiri. Kesaksian dari informan dan pengawasan menunjukkan bahwa Gigante memegang kendali penuh atas fakultasnya sepanjang waktu, dan memerintah keluarga Mafianya dengan tangan besi.

MenyinggungSunting

Di zaman modern, melabeli seseorang sebagai orang gila sering kali memiliki sedikit atau tidak ada makna medisnya dan lebih sering digunakan sebagai penghinaan atau sebagai reaksi terhadap perilaku yang dianggap di luar batas-batas norma yang diterima. Misalnya, definisi kegilaan kadang-kadang secara bahasa sehari-hari disebut sebagai "melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda." Namun, ini tidak sesuai dengan definisi hukum kegilaan.

Istilah lainSunting

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting

  1. ^ https://rasindonews.wordpress.com/2022/06/26/manifestasi-dari-bentuk-penyimpangan-perilaku-akibat-distorsi-emosi/
  2. ^ https://mediaindonesia.com/weekend/355526/bidasan-bahasa-orang-gila#:~:text=Kata%20gila%20dalam%20KBBI%20bisa,dipakai%20sebagai%20kata%20seru%2C%20kata
  3. ^ https://rasindogroup.com/manifestasi-dari-bentuk-penyimpangan-perilaku-akibat-distorsi-emosi/