Buka menu utama

Karier Basuki Tjahaja Purnama sebagai Bupati Belitung Timur

Foto resmi Basuki Tjahaja Purnama sebagai Bupati Belitung Timur

Karier Basuki Tjahaja Purnama sebagai Bupati Belitung Timur adalah artikel yang berisi daftar kebijakan, kinerja, prestasi, dan kontroversi yang diraih oleh mantan Bupati Belitung Timur, Basuki Tjahaja Purnama, atau dikenal dengan sebutan Ahok, selama masa pemerintahannya.

PemilihanSunting

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Belitung Timur tahun 2005, Basuki berpasangan dengan Khairul Effendi, B.Sc. dari Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) ikut sebagai calon Bupati-Wakil Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Pasangan ini kemudian memenangkan pemilihan dengan mengantongi suara 37,13 persen dan menjadi pasangan Bupati dan Wakil Bupati definitif pertama. Pasangan Basuki-Khairul ini unggul di Kabupaten Belitung Timur yang menjadi lumbung suara Partai Bulan Bintang (PBB) pada pemilu legislatif tahun 2004.

KinerjaSunting

Dalam tahun pertamanya, Basuki berhasil mewujudkan banyak kinerja positif, antara lain pengaspalan jalan hingga ke pelosok kampung, memberikan layanan kesehatan gratis kepada seluruh warga, biaya SMA dan pendidikan tinggi gratis, hingga perbaikan fasilitas dan sarana publik. Ia juga dikenal sebagai Bupati yang sangat mudah dihubungi oleh warganya dengan selalu memberikan nomor HP dan bisa dihubungi lewat nomor tersebut.[1]

PenghargaanSunting

Kinerja Basuki mulai dikenal publik sejak masuk dalam 10 tokoh yang berhasil mengubah Indonesia dalam edisi tahunan Tempo 2006. Pada tahun 2007 ia dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia.[2]

Akhir karier sebagai BupatiSunting

Setelah sekitar setahun menduduki kursi bupati, Basuki kemudian mengajukan pengunduran dirinya pada 11 Desember 2006 untuk maju dalam Pilgub Bangka Belitung 2007. Pada 22 Desember 2006, ia resmi menyerahkan jabatannya kepada wakilnya, Khairul Effendi. Keputusan mundur dan mewariskan posisi kepada wakil bupati ini di kemudian hari menjadi masalah karena Khairul Effendi memberikan testimoni kekecewaannya kepada Basuki karena meninggalkan janji politik atas Belitung Timur tanpa menyelesaikannya.

ReferensiSunting