Karakoa adalah kapal perang bercadik besar dari Filipina. Mereka digunakan oleh orang Filipina asli, tertutama orang Kampangan dan Bisaya, selama penyerangan laut musiman. Karakoa berbeda dari perahu tradisional Filipina lainnya karena mereka memiliki panggung untuk membawa tentara dan untuk bertarung di laut. Selama masa damai, mereka juga digunakan sebagai kapal dagang. Karakoa besar, yang bisa membawa ratusan pendayung dan petarung, dikenal sebagai joanga (juga dieja juanga) oleh orang Spanyol.

Penggambaran karakoa Bisaya abad ke-17 dari Historia de las islas e indios de Bisaya (1668) oleh Francisco Ignacio Alcina [1]

Pada akhir abad ke-16, Spanyol mengecam pembuatan kapal karakoa dan penggunaannya. Ini kemudian menyebabkan larangan total terhadap kapal dan tradisi yang berhubungan padanya. Dalam beberapa tahun terakhir, revitalisasi pembangunan kapal karakoa dan penggunaannya didorong oleh beberapa sarjana dari Pampanga.[butuh rujukan]

EtimologiSunting

Karakoa biasanya dieja sebagai "caracoa" selama masa pendudukan Spanyol. Nama lainnya (termasuk caracora, caracore, caracole, corcoa, cora-cora, dan caracolle) digunakan secara bergantian dengan berbagai kapal perang serupa lainnya dari Asia Tenggara maritim, seperti kora kora dari Kepulauan Maluku. Asal usul nama-nama itu tidak diketahui, tetapi telah diusulkan bahwa mereka mungkin berasal dari bahasa Arab qurqur (jamak: Qaraqir) yang berarti "kapal dagang besar". Kemungkinan juga bahwa nama tersebut berasal dari bahasa asli, yang maknanya hilang seiring waktu.[2][3]

DeskripsiSunting

Karakoa mirip bentuknya dan kadang-kadang tertukar dengan balangay, tetapi dapat dibedakan karena mereka memiliki geladak terangkat (burulan) di tengah kapal dan di cadiknya. Mereka juga memiliki haluan dan buritan tajam, memberikan kapal tersebut bentuk bulan sabit yang khas. Desain mereka juga lebih ramping dan lebih cepat daripada balangay, meskipun karakoa biasanya jauh lebih besar. Seperti balangay, mereka dapat digunakan untuk perdagangan dan perang. Penggunaan utama mereka, adalah sebagai kapal perang dan angkutan pasukan selama penyerangan musiman tradisional (mangayaw) atau pembajakan (terutama terhadap kapal dagang Eropa). Mereka diperkirakan memiliki kecepatan hingga 12-15 knot (22,4-27,8 km/jam).[4][5][6][7]

 
Ukiran karakoa abad ke-18 dari The Discovery and Conquest of the Molucco and Philippine Islands (1711) oleh Bartolomé Leonardo de Argensola, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John Stevens [8]

Pendeta Spanyol Francisco Combés menggambarkan karakoa dengan sangat terperinci pada tahun 1667. Ia juga terkesan dengan kecepatan dan bentuk kapal-kapal itu, ia berkata:[9]

"Kepedulian dan perhatian itu, yang mengatur pembangunan kapal mereka, menyebabkan kapal-kapal mereka berlayar seperti burung, sementara kapal kami berlayar seperti timah dalam hal ini."

— Francisco Combés, Historia de las islas de Mindanao, Iolo y sus adyacentes (1667)

Seperti perahu cadik lainnya, karakoa memiliki sarat air yang sangat dangkal, memungkinkan mereka untuk bernavigasi hingga ke garis pantai. Lambungnya panjang dan sempit dan terbuat dari bahan yang ringan. Seluruh kapal dapat diseret ke darat saat tidak digunakan atau untuk melindunginya dari badai.[4][6][7]

Panjang Karakoa dapat mencapai hingga 25 meter (82 kaki). Karakoa yang sangat besar dapat menampung hingga seratus pendayung di setiap sisi dan puluhan prajurit di burulan.[4][6][7] Kapal-kapal ini biasanya merupakan kapal bendera kerajaan dan (secara tidak akurat) disebut oleh orang Spanyol sebagai joangas atau juangas (tunggal: joanga, bahasa Spanyol untuk kapal jong, dari bahasa asli dyong atau adyong).[7][10]

Serangan lautSunting

Karakoa adalah bagian integral dari serangan laut tradisional (mangayaw) talasokrasi Filipina. Mereka adalah ekspedisi maritim (biasanya musiman) melawan desa-desa musuh untuk tujuan mendapatkan gengsi melalui pertempuran, mengambil rampasan, dan menangkap budak atau sandera (kadang-kadang pengantin).[4]

Sebelum penyerangan, orang Bisaya melakukan upacara yang disebut pagdaga, di mana haluan dan lunas kapal perang karakoa diolesi dengan darah yang diambil dari anggota yang ditangkap dari pemukiman musuh yang diincar. Karakoa dan kapal-kapal kecil lain biasanya menyerang dalam armada yang disebut abay. Kapal pengintai cepat, yang disebut dulawan (artinya "pengunjung") atau lampitaw, biasanya dikirim sebelum abay. Jika dicegat oleh kapal musuh, karakoa dapat terlibat dalam pertempuran antar kapal yang disebut bangga. Pengejaran kapal musuh disebut banggal.[4]

Para prajurit di atas karakoa dilindungi dari proyektil oleh panel bambu yang dapat dilepas atau anyaman nipah, di samping pelindung pribadi yang disebut kalasag. Mereka umumnya dipersenjatai dengan berbagai pedang seperti kalis dan tombak berujung logam yang disebut bangkaw. Selain itu, karakoa juga memiliki lembing lempar yang disebut sugob, yang dilemparkan dalam jumlah besar ke kapal musuh. Berbeda dengan bangkaw, mereka tidak memiliki ujung logam dan dimaksudkan untuk sekali pakai. Mereka terbuat dari bambu bagakay yang diasah (Schizostachyum lumampao), ruang dalamnya diisi pasir untuk menambah berat untuk pelemparan. Mereka terkadang memiliki ujung kayu yang dibubuhi racun ular. Busur jarak pendek (pana atau busog) kadang-kadang juga digunakan dalam tembakan jarak dekat ke kapal musuh.[4]

Seperti kapal lain untuk perdagangan dan perang di Asia Tenggara, karakoa juga biasanya dipersenjatai dengan satu atau lebih meriam putar perunggu atau kuningan yang disebut lantaka,[4] dan terkadang meriam yang lebih besar.[11]

Ada banyak kehormatan yang terlibat dalam berpartisipasi dalam sebuah serangan. Pencapaian selama serangan dicatat secara permanen pada tato para prajurit dan bangsawan Bisaya (timawa dan tumao), menyebabkan mereka disebut pintados ("yang dicat") oleh orang Spanyol.[4]

Lihat jugaSunting

  1. ^ Francisco Ignacio Alcina (1668). Historia de las islas e indios de Bisayas. 
  2. ^ Charles P.G. Scott (1896). "The Malayan Words in English (First Part)". Journal of the American Oriental Society. 17: 93–144. 
  3. ^ Raymond Arveiller (1999). Max Pfister, ed. Addenda au FEW XIX (Orientalia). Beihefte zur Zeitschrift für romanische Philologie. Volume 298. Max Niemeyer. hlm. 174. ISBN 9783110927719. 
  4. ^ a b c d e f g h William Henry Scott (1994). Barangay. Sixteenth-Century Philippine Culture and Society. Ateneo de Manila University Press. hlm. 63. ISBN 9715501389. 
  5. ^ Aurora Roxas-Lim. "Traditional Boatbuilding and Philippine Maritime Culture" (PDF). Interntaional Information and Networking Centre for Intangible Cultural Heritage in the Asia-Pacific Region, UNESCO. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2019-12-12. Diakses tanggal 2019-05-29. 
  6. ^ a b c Patricia Calzo Vega (1 June 2011). "The World of Amaya: Unleashing the Karakoa". GMA News Online. Diakses tanggal 4 May 2018. 
  7. ^ a b c d Emma Helen Blair & James Alexander Robertson, ed. (1906). The Philippine Islands, 1493-1898. 
  8. ^ Bartolomé Leonardo de Argensola (1711). "The Discovery and Conquest of the Molucco and Philippine Islands.". Dalam John Stevens. A New Collection of Voyages and Travels, into several Parts of the World, none of them ever before Printed in English. hlm. 61. 
  9. ^ Francisco Combés (1667). Historia de las islas de Mindanao, Iolo y sus adyacentes : progressos de la religion y armas Catolicas. 
  10. ^ Antonio T. Carpio. "Historical Facts, Historical Lies, and Historical Rights in The West Philippine Sea". Institute for Maritime and Ocean Affairs. hlm. 8,9. 
  11. ^ James Francis Warren (2007). The Sulu Zone, 1768-1898: The Dynamics of External Trade, Slavery, and Ethnicity in the Transformation of a Southeast Asian Maritime State. NUS Press. hlm. 257–258. ISBN 9789971693862.