Abdul Kahar Muzakkar

(Dialihkan dari Kahar Muzakkar)

Abdul Kahar Muzakkar atau Abdul Qahhar Mudzakkar, lahir di Lanipa, Ponrang Selatan, Luwu, Sulawesi Selatan, Hindia Belanda , 24 Maret 1921 – meninggal di Lasolo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Indonesia, 3 Februari 1965 pada umur 43 tahun (nama kecilnya La Domeng), adalah pendiri Tentara Islam Indonesia di Sulawesi.

Abdul Qahhar Mudzakkar
Kaharmuzakkar.jpg
Lahir(1921-03-24)24 Maret 1921
Bendera Belanda Lanipa, Ponrang Selatan, Luwu, Sulawesi Selatan, Hindia Belanda
Meninggal3 Februari 1965(1965-02-03) (umur 43)
Bendera Indonesia Lasolo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Kebangsaan Indonesia

PergerakanSunting

Kahar menyelesaikan pendidikan di Standarschool milik Muhammadiyah dan lulus pada 1935. Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Mualimin Solo, sebuah sekolah guru yang juga milik Muhammadiyah. Ia juga aktif di Hizbul Wathan (HW). Ketika sudah mengajar di Palopo, Sulawesi Selatan, ia memimpin Pasukan HW di sana.[1]

Pada awal tahun 1950-an, dia memimpin para bekas gerilyawan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dan mendirikan TII (Tentara Islam Indonesia), yang kemudian bergabung dengan Darul Islam (DI), dan di kemudian hari dikenal dengan nama DI/TII di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Pada tahun 1950 terjadi kenflik internal antara angkatan darat (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) dengan pihak gerilyawan (Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan) di Sulawesi Selatan. Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) saat itu menginginkan tempat di tubuh Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

Pada Juni 1950, Kahar sebagai mantan pemimpin pasukan KGSS datang ke Makassar untuk menyelesaikan konflik internal ini. Pada 1 Juli 1950, ia mengungkapkan maksud KGSS agar diakomodir menjadi Resimen Hasanuddin di dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI), tetapi usulan itu ditolak oleh pihak TNI. Pada 7 Agustus 1953, bersama pasukan KGSS, Kahar memutuskan untuk bergabung bersama NII Kartosuwiryo untuk wilayah Sulawesi Selatan.[2]

KematianSunting

Pada tanggal 3 Februari 1965, melalui Operasi Tumpas yang dipimpin langsung oleh Jenderal M. Jusuf, Kahar Muzakkar dinyatakan tertembak mati dalam pertempuran antara pasukan TNI dari satuan Divisi Siliwangi Kujang I 330 dan anggota pengawal Kahar Muzakkar di Lasolo. Kahar tewas setelah butir Peluru dari Kopral Ili Sadeli bersarang di tubuhnya.[3]Namun makamnya tidak pernah diberitakan dan hingga saat ini masih dirahasiakan. Hanya sedikit pejabat militer yang menyaksikan pemakaman Kahar Muzzakar.

Pada tahun 1965, kabar kematian Kahar Muzzakar itu telat sampai ke Jakarta karena lokasi tertembaknya Kahar sangat sulit terjangkau. Jenazahnya dibawa ke Makassar, Kolonel M. Jusuf memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menyaksikan jenazah itu, dan memastikan sendiri bahwa yang mati adalah benar Kahar Muzzakar.[4]

Meski sudah dinyatakan tertembak mati, terdapat sebagian orang yang mempercayai bahwa Kahar Muzakkar belum mati. Hal ini diperkuat karena masyarakat tidak mengetahui di mana keberadaan makam Kahar Muzakkar, pemerinta merahasiakan demi menghindari pemujaan terhadap Kahar Muzzakar.[5]

ReferensiSunting

  1. ^ "Abdul Kahar Muzakkar". tirto.id. Diakses tanggal 2021-03-18. 
  2. ^ "Pemberontakan DI-TII Kahar Muzakkar: Sejarah, Kronologi, Penumpasan". tirto.id. Diakses tanggal 2021-03-14. 
  3. ^ "Akhir Tragis Kahar Muzakar, Pemberontak yang Ditembak Mati dengan Senapan Mesin yang Menempel Tepat di Dadanya - Semua Halaman - Intisari". intisari.grid.id. Diakses tanggal 2020-08-18. 
  4. ^ Sumarkidjo, Atmadji (2006). Biografi M. Jakarta: Kata Hasta Pustaka. hlm. 458. ISBN 979-99473-7-5. 
  5. ^ "Legenda Kahar Muzakkar, Terbunuh tapi Dianggap Masih Hidup". tirto.id. Diakses tanggal 2021-03-18. 

Pranala luarSunting