Buka menu utama

Kabhanti merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang ada pada masyarakat Suku Muna. Kabhanti memiliki ciri yang hampir sama dengan pantun / puisi lama. Kabhanti diciptakan oleh masyarakat Suku Muna. Tradisi berucap pantun yang ada pada masyarakat Suku Muna, Sulawesi Tenggara ini telah lama ada di Pulau Muna.


Kabhanti merupakan tradisi berucap pantun, baik yang diucapkan sendiri ( monolog ) maupun secara berbalas dalam suatu kelompok (kelompok Laki-laki maupun kelompok perempuan. Isi dari kabhanti biasanya mengemukakan serta menyampaikan hal hal yang berupa pesan moral bagi masyarakat, nilai nilai keagamaan, petunjuk kehidupan / petuah, sindiran, percintaan, serta nilai nilai budaya dan adat istiadat. Bagi masyarakat muna, kabhanti bertujuan untuk memperkokoh nilai dan norma dalam masyarakat. Kabhanti biasa dilantunkan oleh seorang pelantun kabhanti yang telah mahir. Kabhanti biasanya dibawakan dengan cara dilantunkan atau dinyanyikan, serta di iringi dengan alat musik gambus. Kabhanti pada umumnya ditampilkan pada saat ada hajatan besar dalam masyarakat, seperti pada saat pernikahan, khitanan, upacara adat karia, dan hajatan besar lainnya dalam masyarakat muna.


Secara umum, kabhanti dapat dibagi menjadi 5 jenis berdasarkan penggunaannya.

  1. Kabhanti Kantola
  2. Kabhanti Watulea
  3. Kabhanti Gambusu
  4. Kabhanti Modero
  5. Kabhanti Kusapi


Kabhanti merupakan salah satu warisan / aset budaya tanah air. Namun sayangnya kabhanti saat ini telah masuk kedalam ambang kepunahan yang diakibatkan oleh kurangnya generasi muda yang mau untuk mempelajari budaya ini serta akibat dari globalisasi yang membuat budaya ini semakin terdesak oleh perkembangan zaman. Kabhanti saat ini hanya bisa dilantunkan oleh para pelantuntun kabhanti yang telah berusia lanjut / tua yang semakin hari semakin berkurang. Kabhanti selayaknya patut dilestarikan sebagai aset budaya sastra daerah. arz.

ReferensiSunting