Kadipaten Sumenep: Perbedaan revisi

195 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
|year_leader2 =
|currency =
|footnotes = * Sumenep menjadi daerah keadipatian (''kadipaten'') semenjak [[Kerajaan ShingasariSinghasari]] berkuasa atas tanah [[Jawa]] dan [[Madura]],. Pada Masa [[Kerajaan Majapahit]] daerah ini dibebaskan dari segala Pajakpajak dan Upetiupeti Kerajaankerajaan. {{br}}* Pada tanggal [[5 Oktober]] [[1705]], Kadipaten Sumenep yang semula berada dibawah kekuasaan [[KerajaanKesultanan Mataram]] jatuh ketangan penjajah akibat perjanjianPerjanjian Semarang yang dilakukan [[Pakubuwana I|Susuhunan MataramPakubuwana I]] dengan [[VOC]]. {{br}}* Pada pemerintahan [[Raffles]], wilayahpenguasa KesultananKadipaten Sumenep mempunyai kedudukan yang setara dengan Susuhunan di [[Kasunanan Surakarta]] dan Sultan di [[Kesultanan Yogyakarta]]. {{br}}* Pada tahun [[1950]] Sumenep resmi menjadi wilayah kesatuan [[Republik Indonesia]] yang masuk kedalam wilayah [[Karesidenan Madura]]
}}
 
Selain mata pencaharian penduduknya yang bergantung dari hasil pertanian yang kurang menguntungkan, mata pencaharian penduduknya sebagian besar juga bergelut dalam bidang kelautan, hal inilah yang kelak menciptakan pelau-pelaut tangguh dari bumi pulau garam. Selain itu Mata pencaharian penduduknya juga berupa hasil pertanian Garam, pertanian garam sendiri berkembang pada masa pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. Hasil bumi tersebut berpusat di sekitar [[Selat Madura]] tepatnya di Desa Pinggirpapas, [[Kalianget, Sumenep|Kalianget]].
 
==Pengaruh Kerajaan Majapahit terhadap pemerintahan di Kadipaten Sumenep ==
 
[[Berkas:Labhang Mesem.jpg|thumb|300px290px|''Labhang Mesem'' (pintu tersenyum), sebuah bangunan di Kompleks [[Keraton Sumenep]]. Arsitekturnya dipengaruhi oleh [[Yunani Kuno|Arsitektur Yunani]].]]
Wilayah Sumenep mulai dibawah pengaruh kerajaan Majapahit semenjak awal pendirian pembangunnya, dengan Rajanya [[Raden Wijaya]] yang bergelar Prabu Kertarajasa Jayawadhana. Selain itu [[Arya Wiraraja]] yang semula menjadi Adipati Sumenep dibawah kerajaan Singhasari diangakat sebagai adipati di wilayah timur Jawa Timur meliputi [[Blambangan]] dan [[Lumajang|Lamajhang]], sesuai janji Raden Wijaya ketika meminta bantuan kepada Arya Wiraraja dalam membabat tanah Jawa. Sebagai ganti kedudukannya di Sumenep, ditunjuklah adik dari Arya Wiraraja yang bernama Arya Bangah sebagai Adipati II di wilayah Kadipaten Sumenep dengan gelarnya Arya Wiraraja II. Pada masa pemerintahannya, wilayah kadipaten Sumenep yang notabene sudah masuk dalam wilayah Kerajaan Majapahit diberi keistimewaan dari dibebaskannya Upeti sampai dengan pemerintahan Hayam Wuruk berkuasa atas Majapahit, Selanjutnya ketika Kerajaan Majapahit diperitah oleh Wikramawardhana, wilayah ini kembali diwajibkan menyetor upeti kepada kerajaan Majapahit. Pada masa pengaruh kerajaan Majapahit, wilayah Kadipaten Sumenep meliputi seluruh Pulau Madura den pulau-pulau yang ada di sekitarnya, seperti Pulau Sapudi, Kangean dan Masalembo.
 
==Pengaruh Kesultanan Demak terhadap pemerintahan di Kadipaten Sumenep ==
 
Pengaruh [[Kesultanan Demak]] secara resmi di Kadipaten Sumenep berlangsung sejak pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan sampai masa pemerintahan Raden Mas Anggadipa. Ketika dibawah pengaruh Kesultanan Demak, wilayah Sumenep diwajibkan membayar upeti kepada Ratu Japan sebagai wilayah yang melindunginya.
Pada masa-masa ini, kekuasaan wilayah Kadipaten Sumenep meliputi daerah [[Sumenep]] dan [[Pamekasan]] yang lebih dikenal dengan sebutan Madura Timur (''Madura Wetan'')
 
==Pengaruh Kesultanan Mataram terhadap pemerintahan di Kadipaten Sumenep ==
 
[[Berkas:Mataram Sultanate in Sultan Agung Reign id.svg|thumb|left|240px|Wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram dalam masa pemerintahan [[Sultan Agung|Sultan Agung HanyakrakusumaHanyokrokusumo]] yang hampir meliputi seluruh [[Jawa]] dan [[Madura]].]]
Pemerintahan Kadipaten Sumenep mulai dipengaruhi [[Kesultanan Mataram]] pada masa pemerintahan Raden Mas Anggadipa, namun sebelum dikuasainya wilayah Kadipaten Sumenep oleh Mataram, seluruh wilayah [[Madura]] bergejolak melawan penyerangan yang dilakukan oleh Mataram ke wilayah Madura. Penyerangan tersebut terjadi pada masa pemerintahan Pangeran Lor II beserta Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro I.
 
Kadipaten Sumenep jatuh ketangan [[Sultan Agung|Sultan Agung HanyakrakusumaHanyokrokusumo]] pada tahun [[1624]]. Pengaruh Mataram di wilayah Kadipaten Sumenep berlangsung hingga pemerintahan [[Kanjeng Tumenggung Ario Yudonegoro|Kanjeng Pangeran Ario Yudonegoro]].
 
Pengaruh Kesultanan Mataram begitu terasa di Kadipaten Sumenep sampai saat pembubarannya. Pengaruh yang paling besar adalah pola pemerintahannya dan tata ruang kotanya yang mirip dengan kota-kota kerajaan di Jawa.
===Stuktur Pemerintahan===
 
Struktur pemerintahan di Kadipaten Sumenep memakai pola pengorganisasian yang mirip dengan pola pemerintahan di [[Kesultanan Mataram]] sebagai ibukotanya. Pemerintahan Lebet di wilayah ini hanya meliputi Gedong Negeri, Pengadilan Keraton, Kapengulon, Paseban, dan Rumah Tangga Keraton. Selain itu pemerintahan desa di wilayah Kadipaten Sumenep dibagi dalam beberapa kelompok desa, antara lain : Desa Daleman, Desa Percaton dan Desa Perdikan.
 
==Pengaruh VOC terhadap pemerintahan di Kadipaten Sumenep ==
 
[[Berkas:Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I.jpg|thumb|220px|Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, penguasa Kadipaten Sumenep tahun [[1811]]-[[1854]].]]
[[Berkas:Labhang Mesem.jpg|thumb|300px|''Labhang Mesem'' (pintu tersenyum), sebuah bangunan di Kompleks [[Keraton Sumenep]]. Arsitekturnya dipengaruhi oleh [[Yunani Kuno|Arsitektur Yunani]].]]
Hubungan [[VOC]] dengan pemerintahan di Kadipaten Sumenep sebenarnya sudah berlangsung sebelum perjanjian Pangeran Puger pada tahun 1705. Namun karena pada masa itu situasi di lingkungan [[Kesultanan Mataram]] goyah, maka pada tahun 1705, VOC memaksakan suatu kehendak mengenai kekuasaan Politik di Madura Timur kepada Pangeran Puger sehingga terjadilah perjanjian antara kedua belah pihak,dan akhirnya wilayah [[Sumenep]] dan [[Pamekasan]] diberikan kepada VOC.
 
Pengaruh-pengaruh VOC yang lainnya juga berpengaruh terhadap perkembangan Arsitektur di Sumenep, Sebagian besar bangunan-bangunan pemerintahan dan rumah bangsawan Sumenep sedikit banyak dipegaruhi unsur kebudayaan Eropa.
 
==Pengaruh Pemerintah Hindia Belanda terhadap pemerintahan di Kadipaten Sumenep ==
 
Seiring berjalannya waktu, Pemerintah [[Hindia Belanda]] mulai mengekang beberapa kebijakan Adipati, sampai pada tahun [[1883]], Pemerintah Kolonial mulai mengeluarkan peraturan yang yang menghapuskan pemerintahan pribumi, akibatnya, wilayah Sumenep yang semenjak tahun [[1269]] merupakan wilayah Kadipaten, harus dihapus sistem pemerintahannya dan memberikan tunjangan kepada para bangsawan agar tidak menimbulkan gejolak. Setelah dihapuskannya Ke-Adipatian di Sumenep, maka pada saat itulah wilayah ini mulai diperintah secara langsung oleh ''Nederland Indische Regening'' dengan mengangkat seorang Bupati.
 
== Daftar Raja-RajaPenguasa Kadipaten Sumenep ==
 
{{clr}}
{|class="wikitable"
1.518

suntingan