Kabupaten Kutai Kartanegara: Perbedaan revisi

perbaikan beberapa
(edit referensi)
(perbaikan beberapa)
}}
 
'''Kabupaten Kutai Kartanegara''' adalahmerupakan salah satusebuah [[kabupaten]] di [[Kalimantan Timur|Provinsi Kalimantan Timur]], [[Indonesia]]. Ibu kotanyakota adalahberada di [[Tenggarong|Kecamatan Tenggarong]].
 
Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah 27.263,10 km² dan luas Perairanperairan kurang lebihsekitar 4.097 km² yang dibagi dalam 18 wilayah [[kecamatan]] dan 225 [[desa]]/[[kelurahan]] dengan jumlah penduduk mencapai 626.286 jiwa (hasil sensus penduduk tahun 2010).
 
== Batas wilayah ==
|}
 
== Pemilihan umum kepala daerah ==
== Pilkada ==
[[Berkas:Kantor Bupati Kutai Kartanegara.jpg|thumb|Kantor Bupati Kutai Kartanegara di Tenggarong yang juga sekaligus menjadi kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara.]]
[[Berkas:Gedung DPRD Kutai Kartanegara.jpg|thumb|Gedung DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara.]]
Dengan hasil perolehan suara itu berdasarkan rekapitulasi KPU setempat, maka pasangan Rita Widyasari-Gufron Yusuf terpilih menjadi bupati dan wakil bupati Kutai Kartanegara periode [[2010]]-[[2015]]. Rita Widyasari dan Gufron Yusuf dilantik pada tanggal [[30 Juni]] [[2010]] di gedung Putri Karang Melenu, [[Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara|Tenggarong]].
 
== PerekonomianEkonomi ==
 
Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam terutama [[minyak bumi]] dan [[gas alam]] (migas) serta batubara sehingga perekonomian Kutai Kartanegara masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai lebih dari 77%. Sektor pertanian dan kehutanan hanya memberikan konstribusi sekitar 11%, sedangkan sisanya disumbangkan dari sektor perdagangan dan hotel, yakni kurang lebih 3%, industri pengolahan sekitar 2,5%, bangunan 3%, keuangan 1% dan sektor lainnya sekitar 2%.
=== PDRB dan pendapatan per kapita ===
 
Nilai nominal [[PDRB]] ([[Produk Domestik Regional Bruto]]) Kabupaten Kutai Kartanegara dari tahun 1999 hingga 2003 mengalami peningkatan yang cukup besarsignifikan, yakni dari Rp. 15,59 triliun ([[1999]]) menjadi Rp. 27,05 triliun ([[2003]]).
 
Bila dilihat perkembangan PDRB non-migas atas dasar harga berlaku, angka PDRB non-migas tahun 1999 juga mengalami peningkatan, dari sebesar Rp. 4,51 triliun meningkat menjadi Rp. 6,12 triliun pada tahun 2003, sementara PDRB atas dasar harga konstan dengan migas maupun non-migas juga mengalami peningkatan dari Rp. 6,45 triliun (1999) menjadi Rp. 7,72 triliun (2003). PDRB atas dasar harga konstan non-migas mengalami peningkatan dari Rp. 1,80 triliun (1999) menjadi Rp. 2,46 triliun tahun 2003.