Perang Belasting: Perbedaan revisi

1.276 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
k
===Perlawanan rakyat===
Perang ini diawali oleh gerakan protes [[petani]] terhadap pemerintah [[Hindia-Belanda]] atas pajak tanah termasuk pajak atas hewan ternak yang dibebankan kepada mereka. Masyarakat Kamang menolak pembayaran pajak tersebut dan kemudian pada 15-16 Juni 1908 puncaknya pecah perang bersenjata antara masyarakat dengan pemerintah kolonial.<ref>Nafis, A., (2004), ''Syair Perang Kamang'', Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau, ISBN 9793797029</ref> Perang ini dipelopori oleh Syekh H. Abdul Manan, yang gugur dalam peperangan tersebut, sementara anaknya H. Ahmad Marzuki ditangkap oleh [[tentara]] [[Belanda]].<ref>Djurip, (1996), ''Kajian naskah Pemimpin ke syurga dan Syair Perang Kamang yang kejadian dalam tahun 1908'', Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.</ref> Akibat peperangan ini hampir 100 orang mati tertembak, sementara korban pada pihak tentara kolonial sebanyak 12 orang mati dan lebih kurang 20 orang luka-luka.<ref>Hatta, M., (2011), ''Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi'', Penerbit Buku Kompas, ISBN 9797095401.</ref> Dikabarkan pula, [[kuda]] neneknya [[Mohammad Hatta]] juga ditembak sewaktu Perang ini terjadi. Si Nenek kemudian datang ke gedung [[residen]] [[Padang]] pada waktu itu, dan memarahi sang Residen. Amrin Imran mencatat Nenek Mohammad Hatta sebagai orang yang mudah marah.<ref name=Imran>[[Amrin Imran|Imran, Amrin]] (1991). ''Mohammad Hatta:Pejuang, Proklamator, Pemimpin, Manusia Biasa''. hlm.9. [[Jakarta]]: Mutiara Sumber Widya. [[OCLC]] [http://worldcat.org/oclc/9072338 9072338]</ref>
 
Pada malam tanggal 15 Juni
dikirimlah tiga pasukan patrol ke daerah Kamang untuk menangkap dan mengepung
H. Abdul Manan yang dengan pengikut-pengikutnya yang fanatic merupakan pusat
gerakan pemberontakan.
 
Satu
patroli yang terdiri dari 30 orang dibawah pimpinan Letnan Itzing Hein dan
Cheriex menuju Pauh.
 
Patroli
kedua disertai kontrolir Agam Tua (Westennenk) dan Kontroler Dahler terdiri
dari 80 orang dibawah pimpinan Kapten Lutz, Letnal Leroux dan pembantu Letnan
Van Heulen dengan tujuan untuk menangkap H. Abdul Manan di kediamannya di
Kampung Tangah.
 
Patroli
ketiga terdiri dari 50 orang dipimpin oleh letnan Holding dan pembantu Letnan
Schaap dengan tujuan Magek, turut serta yang terpenting Kepala laras (laras
terkemuka), mentri kelas I dan penghulu-penghulu kepala pada tiap-tiap
pasukuan.
 
Jam
setengah 10 dimalam hari beranglatkah kedua yang akan bertempur dari
Bukittinggi membelok ke Kampung Ambacang ke kiri untuk melakukan pengepungan di
Kampung Tapi, rumah H. Abdul Manan.
 
Dengan
susah payah menempuh jalan-jalan dapatlah kontroli dan penghulu kepala masuk
kampung. Dan dari tiga orang perempuan yang di jumpai di dapat keterangan bahwa
H. Abdul Manan mungkin di kampung tangah di rumah istrinya atau di kamoung
Bangsa atau di rumah anaknya Haji Ahmat.
 
==Perang Manggopoh==
Pengguna anonim