Tulakan, Donorojo, Jepara: Perbedaan antara revisi

4.517 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
|kode pos =59454
|nama pemimpin =H.Muhammad Sutrisno, SH
|luas =1.532,998 hAha
|penduduk =13.998 JIWAJiwa
|kepadatan =898 / Km2
}}
'''Tulakan''' adalah D[[desa|esa]] di K[[kecamatan|ecamatan]] [[Donorojo, Jepara|Donorojo]], [[Kabupaten Jepara|Jepara]], [[Jawa Tengah]], [[Indonesia]].
 
==Geografis==
 
==Administratif==
===DukuhDusun===
Desa Tulakan terdiri dari beberapa5 DukuhDusun, yaitu :
* Dusun / Kamituwan : Krajan
Meliputi Dukuh Krajan
* Dusun / Kamituwan : Winong
Meliputi Dukuh Winong, Dukuh Dungpucung dan Dukuh Dunggayam
* Dusun / Kamituwan : Ngemplak
Meliputi Dukuh Ngemplak, Dukuh Tanggulasi dan Dukuh Kedondong
* Dusun / Kamituwan : Drojo
Meliputi Dukuh Janggleng, Drojo, Purworejo dan Slempung
* Dusun / Kamituwan : Pejing
Meliputi Dukuh Pejing dan Sonder
 
'''Dukuh'''
 
Desa Tulakan terdiri dari 13 Dukuh, yaitu :
* Dukuh Krajan
* Dukuh Winong
* Dukuh Sonder
Desa Tulakan terdiri dari 10 RW, dan 54 RT, yaitu:
* RW 01 = RT 1 sampai RT 7 (Dukuh Krajan sebelah timur jalan PUK)
* RW 02 = RT 1 sampai RT 7 (Dukuh Krajan sebelah barat jalan PUK)
* RW 03 = RT 1 sampai RT 5 (Dukuh Dunggayam)
* RW 04 = RT 1 sampai RT 4 (Dukuh Winong dan Dukuh Dungpucung)
* RW 05 = RT 1 sampai RT 6 (Dukuh Ngemplak dan Dukuh Tanggulasi)
* RW 06 = RT 1 sampai RT 5 (Dukuh Kedondong)
* RW 07 = RT 1 sampai RT 7 (Dukuh Janggleng dan Dukuh Drojo)
* RW 08 = RT 1 sampai RT 5 (Dukuh Purworejo dan Dukuh Slempung)
* RW 09 = RT 1 sampai RT 4 (Dukuh Pejing)
* RW 10 = RT 1 sampai RT 4 (Dukuh Sonder dan Dukuh Pejing)
 
==Pemdes Tulakan==
* Ladu II Drojo = HM. Suwoto
* Staf Kaur Umum = Abdul Rochim
Anggota BPD
* Ketua BPD = Murdiyanto, SH.
* Wakil Ketua = Hery Prasetyo, SH
* Bidan Desa I = Zumrotin, A.Ma.Keb
* Bidan Desa II = Peny Wijayanti, A.Ma.Keb.
 
== Sejarah Desa ==
* Desa, atau udik, menurut definisi ''universal'', adalah sebuah aglomerasi permukiman di area perdesaan (rural). Di Indonesia, istilah desa adalah pembagian wilayah administratif dibawah kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala Desa. Sebuah desa merupakan kumpulan dari beberapa unit pemukiman kecil yang disebut kampung (Banten, Jawa Barat) atau dusun (Yogyakarta) atau banjar (Bali) atau jorong (Sumatera Barat). Kepala Desa dapat disebut dengan nama lain misalnya Kepala Kampung atau Petinggi di Kalimantan Timur, Pambakal di Kalimantan Selatan, Hukum Tua di Sulawesi Utara.
Sejak diberlakukannya otonomi daerah Istilah desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya di Sumatera Barat disebut dengan istilah Nagari, dan di Papua dan Kutai Barat, Kalimantan Timur  disebut dengan istilah Kampung. Begitu pula segala istilah dan institusi di desa dapat disebut dengan nama lain sesuai dengan karakteristik adat istiadat desa tersebut. Hal ini merupakan salah satu pengakuan dan penghormatan Pemerintah terhadap asal usul dan adat istiadat setempat.
 
Demikian halnya Desa Tulakan, pada mulanya merupakan perdukuhan yang bernama Alas Tuwo yang dipimpin oleh kepala perdukuhan mulai dari Pangeran Kuning diteruskan oleh Ki Raban kemudian Ki Moro Suto dan Ki Moro Taruno.
 
Sampai dengan kepemimpinan 4 (empat) orang tersebut di atas, kondisi perdukuhan Alas Tuwo masih angker, wingit dan gawat kaliwat liwat, sampai akhirnya datanglah bangsawan dari Mataram Kyai Agung Barata bersama keempat muridnya yaitu : Ki Buntari, Ki Leboh, Ki Cabuk dan Ki Purwo, melakukan “lelana” dan “laku tapa brata” di perdukuhan Alas Tuwo ini.
 
Bersama-sama dengan keempat muridnya, Kyai Agung Barata memasang “rajah” yang terkenal dengan nama “Tulak Balak Pasopati” dengan harapan Dukuh Alas Tuwo menjadi dukuh yang lestari, nyaman, aman dan  maju. 
 
Berasal dari peristiwa itulah perdukuhan Alas Tuwo dirubah menjadi Kademangan Tulakan dan Kepemimpinan Kademangan diserahkan dari Ki Moro Taruno kepada Kyai Agung Barata dengan sebutan Ki Demang Barata.
 
Dibawah kepemimpinan Ki Demang Barata dibantu para muridnya, Kademangan Tulakan berkembang pesat, mencakup dukuh Winong (Ki Buntari), dukuh Kedondong/Ngemplak (Ki Leboh), dukuh Drojo (Ki Purwo), Dukuh Pejing (Ki Cabuk) dan dukuh Bandungpadang (Ki Trunojoyo Wongso atau Mbah Klipo). Seiring perkembangan zaman dukuh Bandungpadang menjadi Desa mandiri dengan nama Bandung Mrican dan sekarang bernama  Desa Bandungharjo.
 
== Visi dan Misi ==
* Visi
"'''TERWUJUDNYA DESA TULAKAN KALINYAMAT (KARTA LESTARI, NYAMAN, AMAN DAN TERHORMAT)“. '''
* Misi
'''“SAABI PRAYA AMRIH''' '''KUNCARA“''' (Bersama–sama untuk mencapai kejayaan) dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
 
1.  Meninggkatkan pengamalan
dan kualitas keimanan dan ketaqwaan.
 
2.   Menciptakan kondisi keamanan dan
ketertiban masyarakat yang kondusif untuk melakukan kegiatan usaha.
 
3.   Mendorong terbentuknya sikap dan prilaku anggota masyarakat desa yang menghormati dan menjunjung tinggi hukum, peraturan dan norma-norma yangberlaku.
 
4.   Menghargai danmenjunjung tinggi musyawarah dan keputusan sesuai dengan keadilan, persamaan derajat kesetiakawanan.
 
5.   Menyelenggarakan sistim pelayanan dasar, dalam bidang pemerintahan,  pembangunan dan kemasyarakatan secara adil dan transparan.
 
6.   Melaksanakan usaha-usaha untuk mengatasi dampak krisis ekonomi.
 
7.   Mendorong tercapainya lembaga perekonomian desa yang profesional dan mantap dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan kehidupan masyarakat.
 
8.   Mendorong kegiatan dunia usaha guna menciptakan lapangan kerja.
 
9.   Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ekonomi desa sesuai dengan potensi desa.
 
==Pariwisata==
Pengguna anonim