Didong: Perbedaan revisi

779 bita dihapus ,  6 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran [[agama]] [[Islam]] melalui media [[syair]]. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar [[Agama Islam]].
 
== Menurut Perkembangan ==
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Mannen dansen Didong een Gajo-dans TMnr 10004585.jpg|thumb|300px|Penari Didong di masa [[Hindia Belanda]].]]
Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar [[agama]] [[Islam]], melainkan juga dalam upacara-upacara [[adat]] seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.
 
Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman [[Jepang]], yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini protesnya ditujukan kepada [[pemerintah]] yang selama sekian tahun menerapkan [[Aceh]] sebagai Daerah [[Operasi Militer]], sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk [[kesenian]] lain yang ada di [[Aceh]].
 
== Syair Didongdidong ==
Inilah salah satu Contoh [[syair]] didong oleh Ceh kucak [[Gayo]] [[Kabri Wali]].{{br}}
 
Sampon ko lauh mujaril ari mata{{br}}
 
=== TerjemahanCeh ===
Dalam Pembuatan [http://id.wikipedia.org/wiki/Pengguna:Fajriboy]
 
== Céh ==
Para ceh yang turut berjasa mengembangkan dan melestarikan didong di [[tanah Gayo]] 'diantaranya adalah: [[Ceh Tjuh Ucak]], [[Basir Lakkiki Abd. Rauf]], [[Ecek Bahim]], [[Sali Gobal]], [[Daman]], [[Idris Sidang Temas]], [[Sebi]], [[Utih Srasah]], [[Beik]], [[Tabrani]], [[Genincis]], [[S. Kilang]], [[Ibrahim Kadir]], [[Mahlil]], [[Bantacut]], [[Dasa]], [[Ceh Ucak]], [[Suwt]], [[Talep]], [[Aman Cut]], [[Abu Kasim]], [[Syeh Midin]], [[M. Din]], [[Abu Bakar Gayo]], [[Ishak Ali / Ceh Sahaq]], [[Aris Teruna Jaya]], [[Tirmino Jaya]], [[Mahlil Lewa]], Dan Ceh kucak [[Kabri Wali]], Yang Begitu Dikenal Dikalangan Masyarakat [[Gayo]].
 
== Pemain dan Peralatanperalatan ==
Satu kelompok kesenian didong biasanya terdiri dari para “ceh” dan anggota lainnya yang disebut dengan “penunung”. Jumlahnya dapat mencapai 30 orang, yang terdiri atas 4--5 orang ceh dan sisanya adalah penunung. Ceh adalah orang yang dituntut memiliki bakat yang komplit dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi. Penguasaan terhadap lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra yang berbeda. Anggota kelompok didong ini umumnya adalah laki-laki dewasa. Namun, dewasa ini ada juga yang anggotanya perempuan-perempuan dewasa. Selain itu, ada juga kelompok remaja. Malahan, ada juga kelompok didong remaja yang campur (laki-laki dan perempuan). Dalam kelompok campuran ini biasanya perempuan hanya terbatas sebagai seorang [[Céh]].
Peralatan yang dipergunakan pada mulanya bantal (tepukan bantal) dan tangan (tepukan tangan dari para pemainnya). Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada juga yang menggunakan seruling, harmonika, dan alat musik lainnya yang disisipi dengan gerak pengiring yang relatif sederhana, yaitu menggerakkan badan ke depan atau ke samping.
 
== Jalannya Pementasan ==
Pementasan didong ditandai dengan penampilan dua [[kelompok]] ([[Didong Jalu]]) pada suatu arena pertandingan. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Semalam suntuk kelompok yang bertanding akan saling mendendangkan teka-teki dan menjawabnya secara bergiliran. Dalam hal ini para senimannya akan saling membalas “serangan” berupa lirik yang dilontarkan olah lawannya. Lirik-lirik yang disampaikan biasanya bertema tentang pendidikan, keluarga berencana, pesan pemerintah (pada zaman Orba), keindahan alam maupun kritik-kritik mengenai kelemahan, kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada, yang biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memahami ddidong ini secara mendalam
 
== PranalaBacaan luarlanjutan ==
* Didong Dimulai Sejak Zaman Reje Linge XIII [http://www.facebook.com/GAYOKU?ref=ts&__a=1#/note.php?note_id=102903992010]
* Didong yang terlupakan dari kaki gunung Leuser [http://ismatantawi.blogspot.com/2009/05/didong-gayo-lues-yang-terlupakan-dari.html]
* Didong Gayo Lues [http://fajriboy.multiply.com/journal/item/135]
* Puisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006)
* Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan., 1988. Aneka Ragam Hkasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
* Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan., 1996. Aneka Ragam Hkasanah Budaya Nusantara VII. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
 
* Syair Didong "Ama" [http://fajriboy.wordpress.com/2008/08/11/ama/#more-97]
== Pranala luar ==
* Didong Gayo Lues [http://fajriboy.multiply.com/journal/item/135]
* Mendekatkan Roh Didong Gayo{{id}} [http://www.waspada.co.id/seni-&-budaya/mendekatkan-roh-didong-gayo.html Mendekatkan Roh Didong Gayo]
* Didong "Jalu" Semalam Suntuk{{id}} [http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&rubrik=1&topik=20&beritaid=49923 Didong "Jalu" Semalam Suntuk]
* Didong Aceh Tengah Vs Bener Meriah [http://uwein.multiply.com/journal/item/7]
* Kolaborasi Didong dan Saman, Youtube{{ace}} [http://www.youtube.com/watch?v=n9uCcJ6A0GA Kolaborasi Didong dan Saman]
* Didong "Jalu" Semalam Suntuk [http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&rubrik=1&topik=20&beritaid=49923]
* Kolaborasi Didong dan Saman, Youtube [http://www.youtube.com/watch?v=n9uCcJ6A0GA]
* Malam Seni Gayo, Youtube [http://www.youtube.com/watch?v=4rdrfsz5Lk0]
* Didong dari sisi lain [http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaopini&opinid=1922]
 
[[Kategori:Tarian dari Aceh]]
40.380

suntingan