Epigrafi: Perbedaan antara revisi

8 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
 
==Perintis Epigrafi Indonesia==
* Sir Thomas Stamford Bingley [[Rafles]]: Ia telah mengumpulkan beberapa prasasti dan mencoba untuk menerjemahkannya dengan bantuan beberapa pihak, misalnya Panembahan Sumene dan beberapa orang Bali. Melalui Raffles, penelitian epigrafi mulai terbuka lebar di Indonesia. Ia adalah yang mengirimkan [[prasasti Pucangan]] ke [[Calcutta]] ketika prasasti ini ditemukan pada masa ia memerintah di Indonesia.
* C.J. [[van der Vlis]]: Ia meneliti beberapa prasasti di kompleks percandian [[Candi Sukuh|Sukuh]] dan [[Candi Ceto|Ceto]]. Ia dibantu oleh R.Ng. [[Ronggowarsito]] dalam penelitian ini.
* R.H. [[Theodore Friederich]]: Ia merupakan peletak dasar bagi sistematika penelitian epigrafi. Sistematika yang diberikan oleh Friederich ini kelak digunakan oleh para epigraf berikutnya, misalnya Kern dan Cohen.
* Johannes Gijsbertus (Hans) [[de Casparis]]: Ia menekankan pentingnya meneliti bagian-bagian dalam prasasti yang dapat memberikan gambaran kehidupan masyarakat Indonesia kuno. Hasil penelitian pertama adalah prasasti yang berasal dari zaman Majapahit, mengenai desa-desa Himad dan Walandit. Hasil penelitian yang patut dibanggakan adalah seri penerbitan Prasasti Indonesia yang terdiri atas dua jilid. Jilid pertama mengenai persoalan rajakula Sailendra, sedangkan jiid kedua merupakan kumpulan prasasti-prasasti yang berasal dari abad VII sampai abad IX M. Jilid pertama, ia mengupas secara mendalam prasasti Hampran (Plumpungan), prasasti Ratabaka, prasasti Kayumwungan (Karangtengah), prasasti Gondosuli II dan dua buah prasasti Tri Tepusan yang menyebutkan nama Sri Kahulunan. Kesemuanya itu digunakannya untuk menyusun kembali tiga hal: sejarah rajakula Sailendra secara menyeluruh, pertumbuhan agama Budha pada zaman pemerintahan rajakula Sailendra dan melokalisasikan bangunan-bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti-prasasti itu. Hasil lain yang membanggakan adalah penelitian yang khusus mengenai masyarakat Indonesia kuno dan tentang masa pemerintahan raja Airlangga.
* [[Louis Charles Damais]]: Sumbangan Damais yang terpenting bagi epigrafi Indonesia adalah metodenya untuk menentukan perhitungan yang tepat mengenai unsur-unsur hari, tanggal, bulan dan tahun dalam tarikh Indonesia kuno yang biasa ditemukan dalam prasasti-prasasti ataupun naskah-naskah lainnya.
* [[Boechari]]: Ia adalah murid R.M. Ng. Poerbatjaraka. Sumbangan yang terutama tertuang dalam hasil studi epigrafinya berupa kumpulan transliterasi prasasti-prasasti dan tulisan-tulisan yang membahas mengenai berbagai aspek arkeologi dan kesejarahan, khususnya mengenai sistem administrasi dan birokrasi kerajaan, sistem hukum, dan sistem perpajakan pada masa Jawa Kuno.
 
==Lihat pula==
* [[Paleografi]]
199

suntingan