Tempat Pengasingan Boven Digoel: Perbedaan revisi

290 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
Tag: BP2014
Tag: BP2014
 
== Kisah Para Tawanan ==
Penghuni Kamp Digul ini hampir semuanya adalah para [[aktivis]] [[politik]] yang melakukan pemberontakan kepada kolonial Belanda, Banyak tokoh-tokoh terkenal yang dibuang ke kamp ini, ada juga banyak cerita para penghuni kamp, yang merupakan
sejarah kecil untuk menuju ke kemerdekaan [[Indonesia]].<ref name="internet"/>
 
Thomas Nayoan, kisah seorang Minahasa yang berusaha untuk kabur dan melarikan diri dari kamp mengerikan tersebut.<ref name="internet"/> semuanya tertulis dalam buku “Jalan ke Pengasingan” karya John Ingleson, dalam buku ini diceritakan bahwa Thomas Nayoan ini adalah tawanan yang gigih untuk melarikan diri, walaupaun pelariannya gagal dan sempat menyasar di [[Australia]], Ia melariakan diri lewat sungai dengan menggunakan perahu, akan tetapi malah tibanya di Australia, karena memang sebelumnya Australia sudah memiliki perjanjian ektradisi dengan Belanda, maka Ia digelandang kembali ke kamp digul, Ia merupakan salah satu tokoh dalam pemberontakan PKI di [[Banten]].<ref name="internet"/>
 
Cerita lainnya datang dari Mohammad Bondan, aktivis PNI kelahiran Cirebon tahun [[1910]].<ref name="internet"/> Kisahnya ini diceritakan dalam karya dengan judul “Spanning a Revolution” yang menceritakan adalah Istrinya, Molly Bondan menceritakan pengalaman suaminya selama berada di kamp konsentrasi Digul. Dalam buku itu dikisahkan perjalanan Bondan ketika di Digul, Ia merupakan rombongan dari Hatta, Syahrir, dan para aktivis lainnya.<ref name="internet"/> Bondan ini menceritakan tentang perlakuan yang Ia dapatkan dari [[pemerintah]] kolonial Belanda, yang sering membuat permusuhan antara para tawanan, yang membuat tawanan saling bertengkar karena perbuatan mereka yang mengadu domba para tawanan kamp Digul.<ref name="internet"/>
 
Kisah lain adalah tentang Ayun Sabiran, yang ditangkap pemerintah kolonial Belanda ketika hendak menyelundupkan bahan-bahan [[kimia]] ke Padang Panjang.<ref name="internet"/> Bahan Kimia yang Ia kirimkan ini digunakan sebagai bahan peledak untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.<ref name="internet"/> Sebenarnya Sabiran hanyalah pesuruh dalam pergerakan kaum muda di Sumatera Barat.<ref akanname="internet"/> Akan tetapi keberaniannya dalam menyelundupkan da menyamar sebagai seorang Katolik membuat para pemerintah Hindia-Belanda juga memasukan Ia kedalam daftar pemberontakan yang harus di kirim ke Kamp Digul.<ref name="internet"/> cerita tentang Ayun Sabiran ini diceritakan oleh putra pertamanya Misbach Yusa Biran, dalam bukunya “Kenang-kenangan Orang Bandel.”<ref name="internet"/>
 
== Koleksi Foto==
2.250

suntingan