Kepayang: Perbedaan revisi

677 bita dihapus ,  7 tahun yang lalu
tidak relevan
(tidak relevan)
}}
'''Kepayang''', '''kluwek''', '''keluwek''', '''keluak''', atau '''kluak''' (''Pangium edule'' [[Reinw.]] ex [[Blume]]; [[familia|suku]] [[Achariaceae]], dulu dimasukkan dalam [[Flacourtiaceae]]) adalah [[tumbuhan]] berbentuk [[pohon]] yang tumbuh liar atau setengah liar. Orang [[Sunda]] menyebutnya ''picung'' atau ''pucung'' (begitu pula sebagian orang [[Jawa Tengah]]) dan di [[Toraja]] disebut ''pamarrasan''.
 
<strong>Diskripsi Kepayang</strong>. Pohon kepayang atau kluwek (<em>Pangium edule</em>) berbatang lurus
yang tingginya mampu mencapai 60 meter dengan diameter batang mencapai 120 cm.
Percabangannya tidak terlalu rapat. Daunnya berbentuk jantung, dengan lebar 15
cm. dan panjang 20 cm. berwarna hijau gelap dan mengkilap di bagian atas, sementara
bagian bawahnya agak keputihan dan sedikit berbulu. Tanaman ini tumbuh di hutan hujan tropika basah dan merupakan
tanaman asli yang tumbuh mulai dari Asia Tenggara hingga Pasifik Barat,
termasuk di Indonesia. Kepayang yang merupakan anggota famili Achariaceae
mampu tumbuh di daerah dataran rendah hingga ketinggian 1.500 m dpl.
 
[[Biji]] keluwek dipakai sebagai [[bumbu dapur]] [[masakan Indonesia]] yang memberi warna hitam pada [[rawon]], [[daging bumbu kluwek]], [[brongkos]], serta [[sup konro]]. Bijinya, yang memiliki [[salut biji]] yang bisa dimakan, bila mentah sangat beracun karena mengandung [[asam sianida]] dalam konsentrasi tinggi. Bila dimakan dalam jumlah tertentu menyebabkan pusing (mabuk).
42.421

suntingan