Bahasa Jawa Semarang: Perbedaan revisi

201 bita ditambahkan ,  15 tahun yang lalu
Kategori:Bahasa Jawa & merapikan sedikit
(Kategori:Bahasa Jawa & merapikan sedikit)
'''Dialek Semarang''' adalah sebuah dialek [[bahasa Jawa]] yang ditututrkan di [{Semarang]]. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah [[Jawa]] lainnya. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara, maka tak beda dengan daerah lainnya, Jogya[[Yogyakarta]], [[Solo]], [[Boyolali]] dan [[Salatiga]]. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir ( Pekalongan/Weleri, Kudus/Demak/Purwodadi ) dan dari daerah bagian selatan/ pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ''ngoko'', ''ngoko andhap'' dan ''madya'' di Semarang ada di zaman sekarang.
 
Frase *Frasa: "Yo ora.." (Ya tidak) dalam dialek semarang menjadi "Yo orak too ". Kata ini sudah menjadi dialek sehari-hari para penduduk Semarang.
 
*Contoh lain : " kuwi ugo" (itu juga) dalam dialek Semarang menjadi "kuwi barang" ("barang" diucapkan sampai sengau memakai huruf h "bharhang").
 
Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase, umpamane :misalnya ''Lampu abang ijo'' (traffic[[lampu lightlalu lintas]]), menjadi "Bang-Jo", ''Limang rupiah'' (5 rupiah) menjadi "mang-pi"., Kebon''[[kebun binatang ,]]'' menjadi "Bon-bin"., Satusseratus (100) , menjadi "nyatus", dsbdan sebagainya. Namun tak semua frasefrasa bisa disingkat, sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para pendudukSemarangpenduduk Semarang mengenai frasefrasa mana yang disingkat. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat", dsb.
 
Namun ada juga kalimat-kalimat yang disingkat, contohnya; "Kau lho pak mu Nadri" artinya "Itu lho pamanmu dari Wanadri". "Arep numpak Kijang kol" artinya akan menumpang omprengan . Zaman dulu kendaraan omprengan biasa menggunakan mobil merk "Colt", disebut "kol" maka setelah diganti "Toyota Kijang" menjadi Kijang-kol. Apa lacur kini ada yang menjadi menjadi "mercy-kol".
 
Adanya para warga/budaya yang heterogen dari Jawa , Tiong Koq[[Tiongkok]], [[Arab]], [[Pakistan]]/[[India]] juga memiliki sifat terbuka dan ramah di Semarang tadi, juga akan menambah kosakata dan dialektik Semarang di kemudian hari.
Adanya bahasa Jawa yang dipergunakan tetap mengganggu bahasa Jawa yang baku, sama dengan di daerah Solo. Artinya, jika orang Kudus, Pekalongan, Boyolali pergi ke kota Semarang akan gampang dan komunikatif berkomunikasi dengan penduduknya.
 
Dialek Semarang memiliki kata-kata yang khas yang sering diucapkan penuturnya dan menjadi ciri tersendiri yang membdakan dengan dialek Jawa lainnya. Orang Semarang suka mengucapkan kata-kata seperti : "Piye, jal?" (=Bagaimana, coba?) dan "Yo, mesti!". Orang semarang lebih suka menggunakan kata "He'e" daripada "Yo" atau "Ya".
 
Orang Semarang juga lebih banyak menggunakan partikel "ik" untuk mengungkapkan kekaguman atau kekecewaan yang sebenarnya tidak dimiliki oleh bahasa Jawa. Misalnya untuk menyatakan kekaguman :"Alangkah indahnya!", orang Semarang berkata: "Apik,ik!". Contoh lain untuk menyatakan kekecewaan: "Sayang, orangnya pergi!", orang Semarang berkata: "Wonge lungo, ik"!.
 
Partikel "ik" kemungkinan berasal dari kata "iku" yang berarti "itu' dalam bahasa Jawa, sehingga untuk mengungkapkan kesungguhan orang Semarang mengucapkan "He'e, ik!" atau "Yo, ik".
 
Beberapa kosakata khas Semarang adalah: "semeh" Yang berarti "ibu" dan "sebeh" yang berarti "ayah", yang dalam dialek Jawa yang lain, "sebeh" sering dipakai dalam arti "mantra" atau "guna-guna"
 
[[Kategori:Bahasa Jawa]]