Buka menu utama

Perubahan

30 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
atur gambar
|casualties3=10.000 tewas<ref>[http://www.peacewomen.org/news/Acheh/Feb04/casualties.html Casualties Of The War In Ache<!-- Bot generated title -->]</ref>
}}
 
{{Sejarah Indonesia}}
 
'''Pemberontakan di Aceh''' dikobarkan oleh [[Gerakan Aceh Merdeka]] (GAM) untuk memperoleh kemerdekaan dari [[Indonesia]] antara tahun [[1976]] hingga tahun [[2005]]. [[Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004|Operasi militer]] yang dilakukan TNI dan Polri (2003-2004), beserta kehancuran yang disebabkan oleh [[gempa bumi Samudra Hindia 2004]] menyebabkan diadakannya persetujuan perdamaian dan berakhirnya pemberontakan. [[Amnesty International]] merilis laporan ''Time To Face The Past'' pada April 2013 setelah pemerintah Indonesia dianggap gagal menjalankan kewajibannya sesuai perjanjian damai 2005. Laporan tersebut memperingatkan bahwa kekerasan baru akan terjadi jika masalah ini tidak diselesaikan.<ref name="Bbc">{{cite news|title=Amnesty: Indonesia 'failing to uphold' Aceh peace terms|url=http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-22198860|accessdate=18 April 2013|newspaper=BBC News|date=18 April 2013}}</ref>
 
* [[Amir Mahmud Rasyid]]: Menteri Perdagangan
* [[Malik Mahmud]]: Menteri Luar Negeri
 
[[Berkas:Teuku Daud Beureueh.jpg|thumb|right|180px|Teuku [[Daud Beureueh]]]]
 
Para prajurit kelas menengah dan serdadu yang bergabung dalam GAM sendiri telah berjuang di tahun 1953-1959 dalam [[Darul Islam|pemberontakan Darul Islam]].<ref name=Schulz_p14>{{cite book|title=ibid|page=14}}</ref> Banyak dari mereka adalah laki-laki tua yang tetap setia kepada mantan gubernur militer Aceh dan pemimpin pemberontakan Darul Islam di Aceh, [[Daud Beureueh]].<ref name=Aspinall_Islam_63>{{cite book|last=Aspinall|first=Edward|title=Islam and Nation: Separatist Rebellion in Aceh, Indonesia|year=2009|publisher=National University of Singapore Press|location=Singapore|isbn=978-9971-69-485-2|pages=63}}</ref> Orang yang paling menonjol dari kelompok ini adalah Teungku [[Ilyas Leube]], seorang ulama terkenal yang pernah menjadi pemimpin pemberontakan Darul Islam.<ref name=Aspinall_Islam_63>{{cite book|title=ibid}}</ref> Beberapa orang anggota Darul Islam juga kemungkinan terkait dengan di Tiro melalui keluarga atau ikatan regional, namun kesetiaan mereka terutama adalah untuk Beureueh.<ref name=Aspinall_Islam_64>{{cite book|title=ibid|page=64}}</ref> Orang-orang inilah yang menyediakan pengetahuan militer, pertempuran, pengetahuan lokal dan keterampilan logistik yang tidak memiliki pemimpin muda GAM yang berpendidikan.<ref name=Aspinall_Islam_64>{{cite book|title=ibid}}</ref>
 
===Tahap kedua===
[[Berkas:Teuku Daud Beureueh.jpg|thumb|rightleft|180px175px|TeukuTeungku Muhammad [[Daud Beureueh]]]]
 
Pada tahun 1985, di Tiro mendapat dukungan [[Libya]] untuk GAM, dengan mengambil keuntungan dari kebijakan [[Muammar Gaddafi]] yang mendukung pemberontakan nasionalis melalui "[[Mathaba]] Melawan [[Imperialisme]], [[Rasisme]], [[Zionisme]] dan [[Fasisme]]".<ref name=Aspinall_Islam_105>{{cite book|last=Aspinall|title=Islam and Nation|page=105}}</ref> Tidak jelas apakah Libya kemudian telah mendanai GAM, tapi yang pasti disediakan adalah tempat perlindungan di mana para serdadu GAM bisa menerima pelatihan militer yang sangat dibutuhkan.<ref name=Aspinall_Islam_105>{{cite book|title=ibid}}</ref> Sejumlah pejuang GAM yang dilatih oleh Libya selama periode 1986-1989 atau 1990 menceritakan pengakuan yang berbeda-beda.<ref>{{cite book|title=ibid}}</ref> Perekrut GAM mengklaim bahwa jumlah mereka ada sekitar 1.000 sampai 2.000 sedangkan laporan pers yang ditulis berdasar laporan militer Indonesia menyatakan bahwa mereka berjumlah 600-800.<ref name=Aspinall_Islam_105>{{cite book|title=ibid}}</ref> Di antara para pemimpin GAM yang bergabung selama fase ini adalah [[Sofyan Dawood]] (yang kemudian menjadi komandan GAM Pasè, [[Aceh Utara]]) dan [[Ishak Daud]] (yang menjadi juru bicara GAM di [[Peureulak]], [[Aceh Timur]]). <ref>{{cite book|last=Schulz|title=Op cit|pages=15–16}}</ref>
 
=== Tahap ketiga ===
[[Berkas:Free Aceh Movement women soldiers.jpg|thumb|250px|Tentara Wanita dari Gerakan Aceh Merdeka dengan komandan GAM Abdullah Syafei'i, 1999]]
 
Pada tahun 1999, terjadi kekacauan di [[Jawa]] dan pemerintah pusat yang tidak efektif karena jatuhnya [[Soeharto]] memberikan keuntungan bagi [[Gerakan Aceh Merdeka]] dan mengakibatkan pemberontakan tahap kedua, kali ini dengan dukungan yang besar dari masyarakat Aceh.<ref>Miller, Michelle Ann. op. cit.</ref> Pada tahun 1999 penarikan pasukan diumumkan, namun situasi keamanan yang memburuk di Aceh kemudian menyebabkan pengiriman ulang lebih banyak tentara. Jumlah tentara diyakini telah meningkat menjadi sekitar 15.000 selama masa jabatan Presiden [[Megawati Soekarnoputri]] (2001 -2004) pada pertengahan 2002. GAM mampu menguasai 70 persen pedesaan di seluruh Aceh.<ref>{{cite news|newspaper=The Indonesian Observer|date=2 December 1999}}</ref>
 
*[http://peacemaker.un.org/node/1105 Full text of the Cessation of Hostilities Agreement Between the Government of Indonesia and the Free Aceh Movement, 9 December 2002], UN Peacemaker
 
{{Konflik Aceh}}
{{Lembaran hitam Indonesia}}