Meulaboh: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Mengembalikan ke revisi 6591849 bertanggal 2013-04-02 17:59:09 oleh EmausBot menggunakan popups
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 23:
Berdasarkan fakta tersebut, kisah pendaratan warga Minang di Pasi Karam belum dapat dijadikan bukti konkrit bahwa nama itu diberi oleh orang Minang.
 
Kedatangan para Datuk itu benar adanya, namun ada pendapat yang menyebutkan bahwa mereka itu orang Aceh yang didatangkan kesana pada masa [[Sultan Iskandar Muda]], yaitu ketika Aceh menguasai pesisir pantai barat [[Sumatera Barat]], tidak sampai ke pedalaman pusat [[Kerajaan Pagaruyung]]. Para petinggi Aceh di ranahpesisir Minangbarat itu menjadi pemangku adat dan pemerintahan. Namun peran mereka tereduksi akibat adanya reformasi yang dilakukan kaum paderi yang terpengaruh paham Wahabi di [[Arab Saudi]]. Tercatat tiga orang ulama yang pulang dari mengikuti pendidikan di Arab. Mereka adalah [[Haji Piobang]], Haji Miskin dan [[Haji Sumanik]]. Ajaran pembaruan Islam yang dibawa tiga orang haji ini, membuat gundah masyarakat Minangkabau yang waktu itu beraliran Sunni. Karena terdesak oleh kaum paderi, para datuk itu ingin pulang kampung (kembali ke Aceh) dan sebagian lagi tidak.
 
Namun terdapat beberapa kelemahan pada pendapat ini, yaitu apabila orang-orang tersebut adalah orang Aceh, kenapa mereka disebut [[Aneuk Jamee]] (Anak Tamu) setelah sampai di Aceh?, dan kenapa mereka adanya di Meulaboh dan beberapa tempat di pesisir barat Aceh?. Kalau memang mereka orang-orang pemerintahan Aceh tentulah mereka punya kampung halaman asli, dan tentu mereka akan kembali kesana.
Sekembalinya ke tanah leluhur, para Datuk dan rombongannya itu hidup berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan ada yang menjadi pemimpin, di antaranya: Datuk Machdum Sakti dari Rawa, Datuk Raja Agam dari Luhak Agam dan Datuk Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.
 
Yang kedua, penguasaan Aceh hanya di pesisir pantai ketika Pagaruyung dalam keadaan lemah, dan tidak pernah sampai ke pedalaman Minangkabau. Sedangkan para datuk dan rombongannya itu berasal dari pedalaman, yaitu Rawa atau [[Rao, Pasaman]], [[Kabupaten Agam|Agam]] dan Sumpu atau [[Sumpur, Batipuh Selatan, Tanah Datar|Sumpu, Tanah Datar]]. Orang-orang yang tidak setuju dengan [[Kaum Padri]] banyak yang meninggalkan kampung halamannya untuk menghindari perang. Mereka tidak hanya ke utara (pantai barat Sumatera) tapi juga ada yang ke [[Semenanjung Malaya]] dan berbagai wilayah lainnya.
 
SekembalinyaSetelah kemenetap tanahdi leluhurwilayah baru, para Datuk dan rombongannya itu hidup berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan ada yang menjadi pemimpin, di antaranya: Datuk Machdum Sakti dari Rawa, Datuk Raja Agam dari Luhak Agam dan Datuk Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.
 
Mereka menebas hutan dan mendirikan pemukiman yang menjadi tiga daerah. Datuk Machdum Sakti membuka negeri di Mereubo, kemudian pindah kearah Woyla, Datuk Raja Agam di Ranto Panyang dan Datuk Raja Alam Song Song Buluh di Ujong Kala yang kemudian menikah dengan anak salah seorang yang berpengaruh di sana.