Jembul Tulakan: Perbedaan antara revisi

36 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
Tidak ada ringkasan suntingan
Dalam pelaksanaan Sedekah Bumi Tulakan atau dikenal juga dengan Upacara Jembul Tulakan ini, disuguhkan dua macam Jembul.
 
Jembul yang besar di depan atau sering disebut Jembul Lanang, sedangkan jembul kecil berada di belakang disebut dengan '''Jembul Wadon'''. Khusus '''Jembul Lanang''' dihiasi dengan iratan bambu tipis sedangkan Jembul Wadon tidak. Jembul Lanang di dalamnya terdapat bermacam-macam makanan kecil, seperti jadah (gemblong), tape ketan, apem, dan sebagainya. Sedangkan Jembul Wadon berisi lauk-pauknya.
Jumlah jembul disesuaikan dengan jumlah pedukuhan yang dipimpin oleh kepala-kepala dukuh atau dalam istilah sekarang adalah Kamituwo. Antara lain, pertama, '''Jembul Krajan''' yaitu jembul dari penduduk Dukuh Krajan, tempat kediaman Ki Demang sebagai pusat pemerintahan Kademangan. Jembul ini mempunyai ciri khas berupa golek yang menggambarkan seorang tokoh bernama Sayid Usman, seorang Nayoko Projo Ratu Kalinyamat.
Ke dua, '''Jembul Ngemplak''' merupakan wujud dari penghargaan masyarakat untuk Ki Leboh atas perjuangannya membuka pedukuhan Ngemplak, mengingat Ki Leboh adalah kepala dukuh Kedondong yang wilayahnya termasuk Ngemplak. Sebagai identitas Ki Leboh dibuatlah golek dari tokoh yang bernama Mangun Joyo, seorang Nayoko Ratu Kalinyamat.
Ke tiga, jembul'''Jembul Winong''' adalah penghargaan terhadap Ki Buntari yang telah merintis sebagai kepala dukuh dan membangunnya dengan baik. Sebagai perlambang dari tokoh tersebut dibuat golek yang merupakan barisan prajurit yang gagah perkasa yang mengawal dan mengamankan keberangkatan Ratu Kalinyamat dari Kabupaten Jepara sampai selama di pertapaan Siti Wangi-Sonder.
Ke empat, '''Jembul Drojo''' merupakan penghargaan terhadap Ki Purwo atas segala jasanya membuka pedukuhan. Sebagai bentuk dari penghargaannya maka dibuatlah golek yang menggambarkan seorang tokoh yang bernama Mbah Leseh seorang tokoh Kalinyamat.
Prosesi dari penampilan jembul ini adalah satu per satu dengan pertunjukan tarian tayub. Hal ini sebagai pengulangan kembali peristiwa pada waktu para nayoko menghadap Ratu Kalinyamat dan dipertunjukkan tarian penghormatan dengan tayub.
 
7.358

suntingan