Buka menu utama

Perubahan

76 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
'''Peristiwa SitujuhSitujuah''' adalah suatu peristiwa penyerangan oleh pasukan penjajah [[Belanda]] terhadap para pejuang kemerdekaan [[Indonesia]] di masa [[Pemerintahan Darurat Republik Indonesia]] ([[PDRI]]) yang menewaskan beberapa orang pimpinan pejuang dan puluhan orang anggota pasukan lainnya.
 
=== PDRI ===
PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) adalah suatu pemerintahan darurat yang dibentuk pada tanggal [[22 Desember]] [[1948]] oleh beberapa orang pimpinan pejuang kemerdekaan [[Indonesia]] yang dipimpin oleh [[Sjafruddin Prawiranegara]]. Pemerintahan itu dibentuk karena ditangkap dan diasingkan-nya beberapa orang pemimpin [[Republik Indonesia]] yaitu [[Presiden]] [[Soekarno]], [[Wakil Presiden]] [[Mohammad Hatta]] dan [[Menteri Luar Negeri]] [[Agus Salim]] serta [[Sjahrir]] dan lainnya oleh pihak [[Belanda]] ketika terjadinya [[Agresi Militer Belanda II]] pada tanggal [[19 Desember]] 1948.
 
Ibukota PDRI adalah [[Bukittinggi]], namun perjuangannya lebih banyak terjadi di desa-desa dan hutan-hutan [[Sumatera Tengah]] sehingga disebut "Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia" (PDRI) oleh pihak Belanda. Sedangkan lokasinya disebut "Somewhere in the Jungle".
 
=== Patriot Bangsa ===
Dalam salah satu mata rantai perjuangan PDRI itulah terjadi suatu peristiwa pada tanggal [[15 Januari]] [[1949]], dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) tewas seketika diberondong tembakan oleh pihak penjajah Belanda. Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuh Batur, Kecamatan Situjuh Limo Nagari, [[Kabupaten Lima Puluh Kota]], [[Sumatera Barat]].
 
Malam sebelumnya pada [[14 Januari]] 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam mengahadapi agresi yang dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II. Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatera Tengah [[Sutan Mohammad Rasjid]] dan dipimpin oleh [[Chatib Sulaiman]] selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah. Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya [[Arisun Sutan Alamsyah]] (Bupati Militer [[Kabupaten Lima Puluh Kota|Lima Puluh Kota]]), [[Letnan Kolonel]] [[Munir Latief]], [[Mayor]] Zainuddin, [[Kapten]] Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta [[69]] orang pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK).
 
Hasil rapat memutuskan bahwa mereka akan menyerang kota [[Payakumbuh]] yang diduduki Belanda, dan akan menduduki kota itu sambil menggelorakan semangat perlawanan gerilya rakyat untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Pemerintahan Republik Indonesia masih ada dan didukung rakyat yang terus melakukan perlawanan dan perjuangan. Semua itu dilakukan untuk melawan propaganda Belanda yang selalu mengatakan bahwa mereka telah menguasai Indonesia sepenuhnya setelah mereka berhasil menduduki ibu kota Republik Indonesia, [[Yogyakarta]], serta menangkap dan mengasingkan para pemimpin Republik.
Subuh hari setelah beristirahat seusai rapat, ketika hendak melaksanakan shalat subuh tiba-tiba mereka diserang oleh pihak Belanda. Para pimpinan pejuang yang ikut menghadiri rapat tersebut beserta puluhan pejuang lainnya-pun gugur seketika.
 
Peristiwa yang terjadi di Lurah Kincia, Situjuh Batur, Kecamatan Situjuh Limo Nagari, [[Kabupaten Lima Puluh Kota]], [[Sumatera Barat]] itu dikenang sebagai "Peristiwa SitujuhSitujuah".
 
== Pranala luar ==
19.351

suntingan