Masjid Soko Tunggal: Perbedaan revisi

91 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
k
k
{{Gabung|Masjid Saka Tunggal}}
 
{{Infobox religious building
}}
 
'''Masjid Soko Tunggal''' adalah sebuah masjid yang terletak di kawasan [[Taman Sari Yogyakarta|Tamansari]], Kelurahan [[Patehan, Kraton, Yogyakarta|Patehan]] Kecamatan [[Kraton, Yogyakarta|Kraton]], Kota [[Yogyakarta]]. Berada di kawasan [[Njeron Beteng]] [[Kraton Yogyakarta]], masjid ini berada tepat di depan pintu masuk obyek wisata [[Taman Sari Yogyakarta|Tamansari]]. Nama "Soko Tunggal" berasal dari adanya satu tiang penyangga utama atap masjid.
 
{{TOCleft}}
 
==Sejarah==
Menurut [[prasasti]] yang tertera pada dinding depan, '''Masjid Soko Tunggal''' diresmikan pada hari Rabu [[Pon]] tanggal [[28 Februari]] [[1973]] oleh [[Hamengkubuwana IX|Sri Sultan Hamengkubuwono IX]]. Masjid ini selesai dibangun pada hari Jumat [[Pon]] tanggal 21 [[Rajab]] tahun [[Be]] dan ditandai dengan [[candra sengkalacandrasengkala]] "Hanembah Trus Gunaning Janma" 1392 H atau 1 September dengan [[surya sengkalasuryasengkala]] "Nayana Resi Anggatra Gusti" [[1972]] M.
 
==Arsitektur==
 
===Perancang dan bentuk dasar===
Arsitek yang merancangPerancang '''Masjid Soko Tunggal''' ini adalah R. Ngabehi Mintobudoyo ([[almarhum]]) yang merupakan arsitek [[Keraton Yogyakarta]] terakhir.
 
Desain bangunan ini berbentuk [[tajug]], dengan satu tiang utama (saka tunggal) berukuran 50 cm x 50 cm yang terletak di tengah ruang.
 
===Makna simbolis===
 
Arsitektur bangunan masjid ini sarat dengan makna. Jika para jamaah duduk di ruangan masjid akan melihat 4 batang ''saka bentung'' dan 1 batang ''saka guru'', sehingga semua berjumlah 5 buah. Hal ini merupakan lambang negara Pancasila. Saka guru merupakan lambang sila yang pertama, ialah: Ketuhanan Yang Mahaesa. ''Usuk sorot'' (memusat seperti jari-jari payung), disebut juga ''peniung'', merupakan lambang kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.
 
Di masjid ini juga terdapat beragam ukir-ukiran. Ukiran ini selain dimaksudkan untuk menambah keindahan dan kewibawaaan, juga mengandung makna dan maksud tertentu.
 
==Keunikan==
Keistimewaan dari masjid ini terletak pada [[saka guru]] (tiang penyangga utama) yang hanya satu batang dankarena ditopangbiasanya bangunan berkonsep Jawa disangga oleh minimal empat batang saka guru. Tiang besar ini ditopang dengan batu penyangga yang biasa disebut [[umpak]],. yangBatu umpak ini juga istimewa karena berasal dari zaman pemerintahan [[Sultan Agung dari Mataram|Sultan Agung Hanyokrokusumo]] dari Kerajaan [[Kesultanan Mataram|Mataram]] Islam. Biasanya bangunan berkonsep Jawa disangga oleh minimal empat batang saka guru. Keunikan lain, masjid ini dibangun tanpa menggunakan paku.
 
==Rujukan==
507

suntingan