Purba: Perbedaan revisi

8.586 bita dihapus ,  7 tahun yang lalu
Menolak 6 perubahan teks terakhir (oleh 221.133.36.42) dan mengembalikan revisi 5877115 oleh Aldo samulo
(Menolak 6 perubahan teks terakhir (oleh 221.133.36.42) dan mengembalikan revisi 5877115 oleh Aldo samulo)
Purba adalah marga dari [[Raja]] di kerajaan Banua Purba, salah satu kerajaan yang pernah ada di daerah Simalungun. Raja Purba memiliki keturunan: Tambak, Sigumonrong, Tua, Sidasuha (Sidadolog, Sidagambir). Kemudian ada lagi Purba Siborom Tanjung, Pakpak, Girsang, Tondang, Sihala, Raya.
 
'''==== Raja-Raja Kerajaan Purba Pak-Pak di Pematang Purba ===='''
 
# Tuan Pangultop Ultop (1624-1648)
''''''Pangultop Leluhur Purba Pak-Pak.''''''
# Tuan Ranjiman (1648-1669)
 
# Tuan Nanggaraja (1670-1692)
Alkisah di daerah PAK PAK ada kampung yg bernama TUNGTUNG BATU masuk kawasan SILIMA PUNGGA PUNGGA, disana ada terjadi suatu bencana yang disebabkan mengganasnya sejenis burung buas yang oleh penduduk setempat disebut MANUK MANUK SIPITU ULU atau MANUK MANUK NANGGORDAHA. Burung buas tersebut banyak menyambar anak anak untuk menjadi mangsanya, oleh karena itu terberitalah suatu usaha dari Raja Negri itu untuk mengadakan suatu pengumuman bahwa barang siapa yang dapat membunuh burung tersebut akan dijadikan menantu Raja dan akan diangkat menjadi RAJA PANDUA (wakil raja)
# Tuan Batiran (1692-1717)
Begitu meluasnya pengumumanRaja Silima Pungga pungga tersebut hingga terdengar sampai dikampung BATU SARINDAN di daerah SENGKEL Aceh Selatan. Anak Tuan Batu Sarindan seorang pemuda bernama RAENDAN tanpa berpikir panjang memberitahukan niatnya kepada orang tuanya Tuan PINTU BATU untuk mengikuti pengumuman Raja Pak pak tersebut.
# Tuan Bakkaraja (1718-1738)
Semula orang tuanya merasa keberatan mengigat bahwa RAENDAN adalah anak tunggal, tetapi akhirnya orang tuanya dapat menyetujui dan memberangkatkan si RAENDAN dengan ULTOP PUSAKA LIKKIT BERACUN secukupnya, maka berangkatlah ia dengan tekad untuk membunuh burung buas itu.
# Tuan Baringin (1738-1769)
 
# Tuan Bona Batu (1769-1780)
Sesampai di negeri SILIMA PUNGGA-PUNGGA iapun memberitahukan kesanggupannya kepada raja negeri itu, maka mulailah pengembaraannya dalam memburu burung NANGGORDAHA yang buas itu.
# Tuan Raja Ulan (1781-1769)
Setelah beberapa hari menunggu burung buas itupun dating lagi untuk menyambar anak anak sebagai mangsanya, dengan sigapnya si RAENDAN menghembuskan ultopnya kearah burung itu, tetapi heran burung itu tidak mati tetapi terbang kedahan kayu yang tidak jauh dari tempat itu, RAENDAN mengejarnya kedekat pohon kayu itu dan sewaktu membidikkan ultopnya burung itu terbang lagi kedahan kayu yang lain seolah oleh mengejek RAEDAN.
# Tuan Atian (1800-1825)
 
# Tuan Horma Bulan (1826-1856)
Demikianlah akhirnya setelah berminggu minggu mengikuti jejak burung itu rupa rupanya ia sudah sampai didaerah sekitar LEHU, desekitar hutan LEHU, RAENDAN kembali melihat burung NAGGORDAHA tersebut bertengger diatas kayu BUAH BANGGAL pada waktu RAENDAN membidikkan ultopnya burung itupun terbang lagi dari kayu yang satu ke kayu yang lainnya, begitulah seterusnya dan setelah berbulan bulan sampailah dia di hutan sekitar SIHODON HODON (sipitu huta).
# Tuan Raondop (1856-1886)
Setelah istirahat beberapa saat lamanya ia meliahat burung itu sedang bertengger diatas BUAR BUAR maka RAENDAN membidikkan ultopnya tetapi burung itu terus terbang juga, namun ia tidak putus asa dan terus mengikuti jejak burung buas itu, akhirnya ia tersesat disekitar DOLOG SIMBOLON, RAENDAN terus berjalan melalui hutan-hutan menuju kearah timur maka sampailah ia di NAGUR RAJA (wilayah kerajaan nagur).
# Tuan Rahalim (1886-1921)
Dikerajaan NAGUR pada waktu itu sedang terjadi peperangan dengan kerajaan lain, maka RAENDAN ditangkap oleh tentara NAGUR dan dibawa menghadap TUAN NAGUR RAJA, RAENDAN menceritakan dengan jujur pengalamannya memburu manuk manuk NANGGORDAHA, Dikerajaan NAGUR ini ia mengabdikan diri pada kerajaan dan selalu mendampinggi RAJA NAGUR dalam peperangan maupun dalam berburu, berkat kecerdasan dan jasa jasanya membantu RAJA NAGUR untuk membina pasukan sumpit berbisa(beracun) maka ia dijadikan memantu raja dan kawin dengan putrid NAGUR bernama TAPI OMAS BORU DAMANIK.
# Tuan Karel Tanjung (1921-1931)
Tidak berapa lama sesudah hari perkawinan itu RAENDAN diajak oleh tulangnya (Raja Nagur) berburu ke hutan, dengan tak disangka sangka ia bertemu lagi dengan burung NANGGORDAHA yang dikejar kejarnya mulai tanah PAKPAK, burung itu masih dapat terbang dan ia terus memburunya, dalam pengejaran burung itu ia rupa-rupanya telah sampai di SIBORO GAUNG GAUNG, RAENDANpun sudah hamper putus asa karena burung yang dikejar kejarnya itu tidak ketemu lagi.
# Tuan Mogang (1933-1947)
 
Ia berjalan terus dan sampailah ia di sekitar PEMATANG PURBA, RAENDAN menemukan bangkai burung itu sudah membusuk, makanya ia membulatkan tekadnya untuk tidak kembali ke PAK PAK, sebab kalupun ia kembali tidak dapat dibuktikan lagi bahwa dialah yang membunuh burung itu, dengan perasaan gundah iapun terus berjalan menuju NAGUR RAJA, tetapi ditengah jalan iapun tersesat masuk kesebuah kampong yang bernama SIMALLOBONG masuk wilayah kerajaan PANEI, bekas daerah tahlukhan kerajaan siantar, disinipun RAENDAN menceritakan pengalamannya sejak dari tanah pak pak. Karena yakin akan keterangannya maka TUAN SIMALLOBONG dapat menerimanya dan kebetulan pula TUAN SIMALLOBONG adalah marga DAMANIK keturunan dari NAGUR.
 
Pada suatu ketika datanglah mertua TUAN SIMALLOBONG datang berkunjung ke simallobong bersama seorang adik perempuannya yang cantik (BORU SARAGIH), mertua tuan simallobong ini adalah TUAN SILAMPUYANG marga SARAGIH.
RAENDAN merasa tertarik melihat aroma muka putri boru saragih tersebut dan berusaha menegornya dengan ramah tamah, dan rupanya putri itupun menyambut dengan baik, maka merekapun mengikat janji untuk melangsungkan perkawinan, walupun tuan putri kembali bersama bapaknya ke SILAMPUNYUNG, akan tetapi wajah RAENDAN tetap terbayang, karena tidak dapat menahan rindu ia mohon ijin kepada bapaknya dengan dalih ingin berkunjung kepada kakaknya di simallobong, kehendak ini ditolak oleh bapaknya dengan alasan keamanan.
 
Akhirnya dengan bantuan TUAN SIPOLHA, tuan putri boru saragih bersama dengan wanita lainnya naik solu bolon ke TIGA LANGIUNG (sekarang haranggaol) dan dapat bertemu dengan RAENDAN pada hari pekan.
Merekapun bersama sama berangkat keperladangan disekitar pematang purba, disanalah mereka melangsungkan perkawinan hidup rukun dan damai.
 
Berita tentang perkawinan RAENDAN dengan putri silampuyang (br. Saragih) sampai juga kepada tuan simallobang , tuan simallobang timbul amarahannya, karena dia tau bahwa RAENDAN sudah kawin dengan putri raja nagur sewaktu ia bermukim disana. Untuk menjaga agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, maka RAENDAN pindah kepematang purba dimana ia menemukan bakai burung NANGGORDAHA.
Berkat ketekunan RAENDAN mengolah ladangnya maka hasil panennyapun melimpah ruah, maka banyaklah orang berdatangan memintak hasil tanamannya, RAENDAN selalu memberikan kepada siapa saja yang memintanya, penduduk sekitar mengganggap RAENDAN sebagai orang yang dihormati, mereka memanggilnya dengan julukan gelar TUAN PURBA, setiap orang menerima hasil tanam tanamannya selalu mengucapkan DIATEI TUPA MA TUAN PURBA.
 
Mendengar berita itu TUAN SIMALLOBONG bertambah berang karena sudah timbul saingannya yakni TUAN PURBA (RAENDAN), karma dialah satu satunya TUAN di wilanyah itu, Tuan simallobong memerintahkan agar RAENDAN mengantarkan kembali adik istrinya ke SILAMPUYUNG dalam waktu yang sangat singkat dan RAENDAN harus meninggalkan negeri itu, tantangan itu tidak digubris oleh RAENDAN malah ia bertahan dan menyatakan diri bahwa dialah TUAN ditempat itu dan tanah itu adalah tanahnya sendiri, memperhatikan jawabban itu Tuan simallobong meminta agar RAENDAN mengucapkan BIJA (sumpah) atas ucapannya itu. Tantangan tersebut diterima oleh RAENDAN dan meminta waktu beberapa minggu, RAENDAN segera kembali kekampung di BATU SARINDAN dan mohon petunjuk dari bapaknya agar tidak termakan BIJA (sumpah) tersebut.
Oleh bapaknya diberangkatkanlah SARENDAN dengan segemgam tanah, selembar ampang (kulit kambing), dan air satu tatabu (labu) dengan peralatan itu RAENDAN kembali ke purba, Tiba saat yang ditentukan maka RAENDAN menduduki tanah yang segemgam yang diatasnya dilapisi ampang (kulit kambing) dan meminum air dari tatabu lalu mengucapkan BIJA (sumpah )
"ANGGO LANG TANOHKU NA HUHUNDULI ON, JANAH BAHKU NA HUHINUM ON, MATEIMA AHU, TAPI ANGGO TANOHKU DO NA HUHUNDULI ON JANAH BAHKU DO NA HUINUM ON, AHU MA HOT JADI TUAN IJON" Sumpah tersebut disaksikan oleh TUAN SIMALLOBONG, wakil wakil dari Raja berempat di Simalungun dan rakyat di sekitar purba, dilaksanakan di TIGARUNGGU.
 
Demikianlah akhirnya karena sampai batas waktu yang ditentukan maka RAENDAN tetap segar bugar, berarti bija yang diucapkan adalah benar dan diridhoi Tuhan yang Maha Kuasa menjadi TUAN di tanah PURBA, maka pada tahun 1515 TUAN RAENDAN disyahkan (ipatappei sihilap) menjadi TUAN PURBA/RAJA PURBA dengan marga PURBA PAK PAK, mengigat sejarah pengembaraannya dari daerah PAKPAK berburu manuk manuk NAGGORDAHA.
Sejak saat itu resmilah KERAJAAN PURBA menjadi kerajaan yang ke enam (6) di tanah Simalungun sesudah kerajaan DOLONG SILAU, TANOH JAWA, PANEI, RAYA dan SIANTAR.
 
 
ditulis oleh :J.Djamauli PURBA
 
 
'''==== Raja-Raja Kerajaan Purba Pak-Pak di Pematang Purba ===='''
 
# RAJA PURBA I. TUAN RAENDAN/PANGULTOP ULTOP 1515 – 1560
# RAJA PURBA II. TUAN RAJIMAN 1560 – 1590
# RAJA PURBA III.TUAN NANGGAR 1590 – 1631.
# RAJA PURBA IV.TUAN BATIRAN 1631 – 1650
# RAJA PURBA V. TUAN BAKKARAJA 1650 – 1679
# RAJA PURBA VI. TUAN BARINGIN 1679 – 1727
# RAJA PURBA VII. TUAN BONA BATU 1727 – 1762
# RAJA PURBA VII. TUAN RAJAULAN 1762 – 1795
# RAJA PURBA IX. TUAN ATIAN 1795 – 1830
# RAJA PURBA X. TUAN HORMABULAN 1830 – 1867
# RAJA PURBA XI. TUAN RAONDOB 1867 – 1904
# RAJA PURBA XII. TUA RAHALIM 1904 – 1921
# RAJA PURBA XIII. TUAN KAREL TANJUNG 1921-1934
# RAJA PURBA XIV.TUAN MOGANG 1934 -1947
# Tuan Ricky Herianto Purba (1985- sekarang )