Kitab Pengkhotbah: Perbedaan revisi

928 bita dihapus ,  8 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
k
[[Berkas:Ecclesiastes.png|thumb|165px|right|Pengkhotbah]]
{{Tanakh OT}}
'''Kitab Pengkhotbah''' adalah bagian dari [[Alkitab]] [[Perjanjian Lama]]. Judul ini berasal dari bahasa [[Ibrani]]: קוהלת (''Qohelet''). Dasar kata ini adalah קהל (''Qahal''), yang berarti "[[perhimpunan]]". Kata ''Qohelet'' inilah yang diterjemahkan menjadi "Pengkhotbah" yang menyiratkan fungsi keagamaan. Namun demikian isi Kitab ini tidak mencerminkan fungsi tersebut. Karena itu, sebagian para sarjana mengusulkan ''guru'' sebagai terjemahan alternatif, meskipun kata ini pun tidak berhasil sepenuhnya menangkap gagasan dasar yang dikandung dalam istilah bahasa Ibraninya. Dalam [[Alkitab]] [[Bahasa Indonesia]] Sehari-hari (BIS), kata '' qohelet'' dalam teks diterjemahkan menjadi 'Sang Pemikir'.
 
Sang Pengkhotbah secara harafiah adalah seseorang yang berkhotbah kepada pertemuan ini. Dalam [[bahasa Inggris]], kitab ini disebut ''Ecclesiastes'' yang berasal dari [[bahasa Yunani]] dalam kitab [[Septuaginta]] (LXX): Εκκλησιαστής. Kata ini berasal dari kata Yunani: Εκκλησία ([[Gereja]]/[[jemaat]]). Artinya tetapsama saja, sama,yaitu "seseorang yang ber[[khotbah]] pada sebuah pertemuaanpertemuan."
 
Kitab '''Pengkhotbah''' berisi buah pikiran dari 'Sang Pemikir'. Ia merenungkan secara dalam-dalam betapa singkatnya hidup [[manusia]] ini, yang penuh pertentangan, ketidakadilan dan hal-hal yang sulit dimengerti.
Kebanyakan dari buah pikiran Sang Pemikir itu bernada sumbang, bahkan putus asa. Tetapi kenyataan bahwa buku ini termasuk dalam Alkitab, menunjukkan bahwa iman yang mendasarkan Alkitab cukup luas untuk mempertimbangkan juga keragu-raguan dan keputusasaan semacam itu.
 
Banyak orang yang telah membaca kitab ini merasa terhibur, karena mereka seolah-olah melihat [[sifat]]-sifat mereka berdiri di dalam kitab Pengkhotbah ini. Mereka pun sadar bahwa Alkitab yang mencerminkan pemikiran-pemikiran yang sumbang itu, juga memberi harapan tentang Tuhan, harapan yang memberi arti kehidupan yang sebenarnya.
 
''Berdasarkan Pengantar Alkitab [[Lembaga Alkitab Indonesia]], 2002''
 
== Pengkhotbah di dalam Kanon ==
Kitab Pengkhotbah merupakan satu dari lima gulungan (Megillot) yang dibaca pada hari raya [[Sukkot|Pondok Daun]].<ref name="Fohrer">{{en}}Georg Fohrer. 1968. ''Introduction to Old Testament''. Nashville: Abingdon Press. Hal. 334.</ref> Di dalam kanon [[Alkitab Ibrani]], kitab ini termasuk dalam bagian tulisan-tulisan (Yahudi: Kethuvim[[Ketuvim]]) dan berada pada urutan ke-6 dari bagian tersebut.<ref>{{en}}Norman K. Gottwald. 1985. ''The Hebrew Bible: A Socio-Literary Introduction.'' Philadelphia: Fortress Press. Hal. 884.</ref> Kemudian di dalam kanon lainnya, seperti [[Septuaginta]] dan [[Vulgata]] (bahasa Latin; kanon Katolik Roma saat ini), terdapat pengelompokkanpengelompokan tulisan-tulisan yang dianggap berasal dari [[Daud]] dan [[Salomo]].<ref name="Lasor"></ref> Dengan demikian urutannya adalah [[Kitab Mazmur|Mazmur]], [[Kitab Amsal|Amsal]], [[Kitab Pengkhotbah|Pengkhotbah]], [[Kidung Agung]], KebijaksaanKebijaksanaan Salomo (dalam kanon Protestan kitab Kebijaksanaan Salomo dianggap Apokrifa[[Apokrif]]a).<ref name="Lasor"></ref> Alasan penempatan ini adalah acuan tak langsung pada Salomo dan adanya tulisan-tulisan hikmat yang dikaitkan dengan nama Salomo.<ref name="Lasor"></ref> Kelompok ini ditempatkan setelah Mazmur karena tulisan yang dianggap berasal dari Salomo harus ditempatkan setelah tulisan-tulisan yang berasal dari Daud, ayahnya.<ref name="Lasor">W.S. Lasor. 2005. ''Pengantar Perjanjian Lama 2''. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 145.</ref>
 
Sebenarnya kitab Pengkhotbah ini memiliki kontradiksi-kontradiksi dengan ortodoksi Yahudi saat itu.<ref name="Fohrer"></ref> Karena itulah ada tafsiran yang mengatakan bahwa pasal 12:12-14 merupakan tambahan yang bertujuan mengarahkan kitab ini ke arah ortodoksi, yaitu penerapan hukum Yudaisme.<ref name="Fohrer"></ref> Nampaknya kitab ini berhasil masuk kanon Yahudi karena dianggap berasal dari Salomo.<ref name="Fohrer"></ref>
 
=== Alasan Isi ===
Pertama-tama, memang nama Salomo tidak pernah dikatakan secara eksplisit dalam seluruh kitab ini.<ref name="Singgih"></ref> Lalu dalam pasal 1:16 dikatakan bahwa ada orang-orang yang memerintah Yerusalem sebelum Kohelet, padahal hanya ada satu orang yang pernah memerintah Yerusalem sebelum Salomo, yaitu Daud.<ref name="Singgih"></ref> Kemudian kesan bahwa ada raja atau tokoh kerajaan yang berbicara hanya ada pada pasal 1-2, sedangkan sisanya kesan yang muncul adalah seorang tua yang merenung dan memberi nasihat.<ref name="Singgih"></ref> Ditambah lagi pada pasal 8:2-8 disinggung mengenai perilaku seorang abdi di depan raja, sehingga bagian itu tentulah pemikiran seorang abdi, bukan raja.<ref name="Singgih"></ref>
 
Ada pula kesan bahwa raja atau tokoh kerajaan yang berbicara hanya ada pada pasal 1-2, sedangkan sisanya kesan yang muncul adalah seorang tua yang merenung dan memberi nasihat.<ref name="Singgih"></ref> Ditambah lagi pada pasal 8:2-8 disinggung mengenai perilaku seorang abdi di depan raja, sehingga bagian itu tentulah pemikiran seorang abdi, bukan raja.<ref name="Singgih"></ref>
 
=== Alasan Bahasa ===
Bahasa senantiasa mengalami perkembangan.<ref name="Singgih"></ref> Di dalam kitab ini banyak ungkapan yang dipengaruhi oleh bahasa Aram, misalnya ''sye'' dari ''asyer'' dan ''illu'' dari ''im lo''.<ref name="Singgih"></ref> Padahal pengaruh bahasa Aram terhadap bahasa Ibrani baru dimulai menjelang pembuangan (587/6 SM) hingga menjadi dominan pada masa sesudah pembuangan (538 sMSM.), dan akhirnya dipakai bersama bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan untuk penduduk Palestina pada zaman Yesus.<ref name="Singgih"></ref> Selain itu, ungkapan-ungkapan kitab ini juga memiliki banyak kemiripan dengan ungkapan dalam Mishna, yaitu kumpulan hukum lisan Yahudi, dan penulisan Mishna tidak mungkin berdekatan dengan masa Salomo.<ref name="Singgih"></ref>
 
=== Alasan Pemikiran ===
 
== Waktu Penulisan ==
Mengenai waktu penulisan, ada berbagai pendapat yang berbeda.<ref name="Lasor"></ref> Akan tetapi secara umum ada konsensus antara para ahli bahwa waktu penulisan Kitab Pengkhotbah adalah di antara tahun 400-200 sMSM.<ref>S. Wismoady Wahono.1986. ''Di Sini Kutemukan''. Jakarta: BPK Gunung Mulia.</ref><ref name="Lasor"></ref> Alasannya, kitab ini ditulis setelah pembuangan dan juga setelah mendapat pengaruh filsafat Yunani sehingga diperkirakan ditulis setelah tahun 400 sMSM.<ref name="Lasor"></ref> Sedangkan alasan mengapa tidak mungkin melewati tahun 200 adalah adanya acuan terhadap kitab ini dari [[Kitab Sirakh]] (ditulis kira-kira 180 sMSM.)<ref name="Lasor"></ref>, serta ditemukannya bagian dari kitab ini di antara [[Gulungan Laut Mati]] yang umurnya diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-2 sMSM.<ref name="Fohrer"></ref>
 
== Referensi ==
{{reflist}}
 
<!--
<!--The [[English language|English]] title of the book, ''Ecclesiastes,'' comes from the [[Septuagint]] translation of ''Qoheleth,'' Εκκλησιαστής. It has its origins in the [[Greek language|Greek]] word Εκκλησία (originally a secular gathering, although later used primarily of religious gatherings, hence its New Testament translation as ''church'').
 
The word Qoheleth has found several translations into English, including "the [[Preacher]]" (translating [[Jerome]]'s ''ecclesiastes'' and [[Luther]]'s ''der Prediger''). Since ''preacher'' implies a religious function, and the contents of the book do not reflect such a function, this translation has largely been rejected by modern translations and scholars. A better alternative is ''teacher'', although this also fails to capture the fundamental idea behind the [[Hebrew language|Hebrew]].
[[Berkas:Ecclesiastes.png|thumb|165px|left|Ecclesiastes]]
 
==Author==
In the two opening chapters the author describes himself as the son of David, and king over Israel in Jerusalem, presenting himself as a philosopher at the center of a brilliant court. This could apply only to king [[Solomon]], for his successors in Jerusalem were kings over Judah only. Consequently, the traditional Rabbinic and early Christian view attributed ''Ecclesiastes'' to king [[Solomon]]. This view has been abandoned by many modern critical scholars, who now assume that Qoheleth is a work in the [[pseudepigraphy|pseudepigraphical]] tradition that borrowed weight for a new work by putting it in the mouth of a well-known sage. The modern critical view is that ''Ecclesiastes'' was written around [[250 BC]] by a non-[[Hellenized]] intellectual in the milieu of the [[Second Temple|Temple in Jerusalem]]. The latest possible date for it is set by the fact that [[Ben Sirach]] (written cca [[180 BC]]) repeatedly quotes or paraphrases it, as from a canonic rather than a contemporary writing.
 
Yet many modern conservative scholars today also recognize that [[Solomon]] is an unlikely author. Since this work is found within the [[Ketuvim]], there must be some room for poetical treatment. There are two voices in the book, the frame-narrator (1.1-11; 12.8-14) and Qoheleth (1.12-12.8). Though this is not considered to be indicative of two authors, it does encourage the reader to place himself within the frame and see the pursuit of Wisdom from the perspective of [[Solomon]]. Thus, the author is probably a Hebrew poet who is using the life of [[Solomon]] as a vista for the Hebrews' pursuit of Wisdom (Ecc 1.13, 7.25 8.16; Job 28.12). This would place the book in the latter days of the canonical writings (see [[Josephus]]' claim for a closed cannon in the early post exilic age Against Apion 1.38-42) when wisdom seemed out of reach to the Hebrews (Ecc 1.17, 7.23; Pro 30.1-3)