Sejarah Chechnya: Perbedaan revisi

8 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-di tahun +pada tahun); kosmetik perubahan
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-di tahun +pada tahun); kosmetik perubahan)
Bangsa Chechen merasa bahwa mereka menjadi warga kelas dua di tanah leluhur mereka sendiri. Budaya tradisional Chechen dan Ingush dilarang penggunaan dan pengetahuannya, karen amenginginkan satu budaya yang sama, Rusia. Mengajar di sekolah ataupun instansi-instansi resmi harus menggunakan bahasa Rusia. Bahasa mereka pun secara langsung hanya digunakan di dalam rumah saja. Pembudayaan Rusia ini akhirnya menghanguskan budaya tradisional mereka.
 
Pada tahun 1960-an, muncul keberanian dari sebagian warga Chechnya untuk mengirim surat/petisi kolektif kepada Central Committee Partai Komunis di Moskow yang mengkritik sikap pemerintah daerah mereka terhadap kehidupan bermasyarakat dan berbudaya mereka. Tapi reaksinya sangat negatif, bahkan terkesan menutup mata atas apa yang terjadi di sana. Kejadian ethnocide ini akhirnya berlangsung selama 30 tahun, dan mematikan unsur-unsur dasar kehidupan suku bangsa Chechen dan Ingush, serta menimbulkan trama yang tidak gampang dilupakan bagi korban pemaksaan itu. Ketika kehormatan sosial sebagai bangsa mereka dicabut, kehormatan sebagai sutau bangsa diinjak-injak dan digantikan oleh ‘nasionalisme’ Rusia yang berusaha memasuki kehidupan mereka dengan cepat dan memaksa laksana kanker. Proses ini terus berlangsung, dan memuncak ketika disintegrasi Uni Sovyet terjaditerjapada tahun 1991, dan etnonasonalisme baru muncul.
 
'''Periode Keenam'''
Masa Gorbachev dengan perestroika, Uni Sovyet yang hancur memancing perang kemerdekaan baru bagi bangsa Chechen. Dipimpin oleh Jenderal Dzhokhar Dudayev, ibukota Grozny direbut pada tahun 1991. Proklamasi mereka diumumkan, namun tetap tidak diakui presiden Rusia terpilih, Boris Yeltsin. Keadaan memanas ketika sebelum Sovyet runtuh, Amerika Serikat ikur melatih laskar-laskar jihad melalui CIA untuk membangkitkan perlawanan di daerah-daerah Rusia, bahkan Osama bin Laden merupakan produk CIA. Dudayev yang meninggal akibat serangan roket tahun 1995, digantikan oleh Aslan Mashkadov yang terpilih pada 1997. Pada awal tahun 1999, ia menjadikan Syariah Islam sebagai hukum negara, yang memicu perpecahan di dalam gerakan perlawanan Chechnya sendiri.
 
Kemudian muncul tuduhan bahwa orang Chechen membantu gerakan perlawanan Islam di Dagestan, yang walaupun tanpa bukti yang kuat membuat Rusia melakukan serangan besar-besaran kembali. Bantuan ini diperkirakan memang pantas dilakukan mengingat keadaan geografis dan ikatan kultur-religius sesama Islam yang sedang tertindas Rusia. Perlawanan Chechnya ini diikuti juga serangkaian bom bunuh diri di kota-kota besar Rusia, yang sempat membuat ketakutan atas keberadaan etnis Kaukasus bagi orang awam. Respon pemerintah Rusia yang dipimpin Vladimir Putin sangat brutal, is memerintahkan perang skala besar dan pembumi hangusan daerah pertikaian, yang memaksa terjadinya pengungsian dan pembunuhan terhadap rakyat sipil. Tercatat 1,3 juta orang Chechen meninggalkan Chechnya yang sudah luluh lantah. Hal ini diperkirakan merupakan cara Rusia supaya lebih gampang menggempur Chechnya dengan anggapan bahwa yang tidak mengungsi adalah lawan mereka dan tidak perlu berpikir lagi. Bumi hangus dilakukan untuk mempersempit ruang gerak pasukan perlawanan gerilya. April tanggal 20 tahun 2000 ada tawaran gencatan senjata oleh Mashkadov, yang ditolak Rusia dengan alasan perlawanan mereka lebih kepada melindungi para kriminal dan penguasa setempat yang mangkir kepada pemerintahan Rusia. Dan pada bulan Juni dipada tahun yang sama, terjadi lebih banyak kontak senjata, serangan bom bunuh diri, dan gempuran dari pasukan gerilya Chechnya yang menunjukkan perjuangan mereka masih panjang.
 
Maret 2003 disetujui diadakan referendum untuk menentukan bagaimana Chechnya merdeka sebagai sebuah negara bagian dan akan bergabung ke dalam Federasi Rusia (sebenarnya masih merupakan kontradiksi dimana hasilnya sangat tidak populer dan masih dianggap sebagai sebuah kecurangan politik Rusia oleh dunia luar), yang akhirnya menyetujui konstitusi baru bagi rakyat Chechnya. Bulan Oktober dipada tahun yang sama Ahmad Kadirov, seorang kunci bagi Rusia untuk tetap berkuasa di Chechnya, terpilih menjadi presiden. 9 Mei 2004 saat Rusia merayakan hari kemenangan atas Jerman di Perang Dunia II, Kadirov dan beberapa orang terdekatnya terbunuh dalam serangan bom di stadion tempat ia menonton pertunjukan. Hal ini sangat mematahkan harapan Rusia. Kemudian serangan teror kembali berkecamuk di Rusia, yang dianggap berkaitan dengan masa pemilihan presiden baru bagi Chechnya.
 
Tapi kasus yang paling penting adalah di mana Rusia berusaha membebaskan sandera ratusan anak-anak yang berakhir dengan serangan ke dalam sekolah tanpa memedulikan hidup dari anak-anak tadi. Kontak senjata terjadi selama 10 jam yang mengakibatkan banyak bom terpicu dan meledakkan bebearapa bagian sekolah, dan menewaskan puluhan sandera. Hal ini mendapat kecaman betapa menunjukkan kekuatan Rusia yang kurang mahir dalam mengatasi negosiasi dengan teroris, yang mana ada indikasi no-compromice pemerintah Rusia dengan perlawanan Chechnya. Hal ini memancing kritik dari banyak negara yang justru mengecam Rusia akan geraka gegabahnya.
 
'''Kesimpulan'''
[[FileBerkas:Chechnya03.png|thumb|200px]]
Melihat pergerakan rakyat Chechnya yang memang sudah membudaya untuk segera merdeka sangatlah menunjukkan bahwa masih terjadi sejarah kejadian kelam yang belum selesai hingga sekarang. Masalah utamanya adalah hubungan antara satu bangsa yang bertetangga, namun sangat memaksa (Rusia dan Chechnya). Terjadi konfrontasi permanen antara keduanya sejak abad 18 sekalipun belum selesai hingga sekarang, yang ditunjukkan dengan pergolakan yang terus tumbuh (degenerasi) dan muncul hampir setiap 40 tahunan sekali. Operasi militer yang terjadi di daerah itu hanya menambah urutan warga negara yang meninggal, tapi tidak menyelesaikan masalah.